Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Nasihat Orang Tua pada Anak versi Pak Taufiq Ismail

Berikut adalah kutipan syair dari bapak Taufiq Ismail yang beliau buat pada tahun 1965

Nasihat-Nasihat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa

Jika adalah yang harus kau lakukan ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kautumbangkan ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kau agungkan ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati ialah syahid di jalan Ilahi.

-April, 1965-

Perhatikan baik-baik syair pak Taufiq Ismail ini, syair singkat sarat makna dan mendalam karena yang dipesankan sungguh mulia dan tentu tidak mudah dijalankan pun diwujudkan pada zaman sekarang ini. Nasihat pertama terkait kebanaran yang harus senantiasa kita sampaikan dan lakukan. Tak hanya meneriakkan kebenaran tapi sepi dari pengamalan, tidak, tidak demikian adanya. Kalau boleh mengartikan bahwa pesannya adalah kita harus amar ma’ruf nahi mungkar 

juga memberi teladan dengan melakukan apa yang sudah kita katakan semaksimal mungkin yang kita bisa.

Kedua, soal keyakinan yang tidak boleh kita perjualbelikan sekalipun dengan segunung harta benda dan materi sejagat raya apalagi ditukar hanya dengan rupiah yang tidak seberapa. Tidak boleh dan sungguh dungu yang demikian.

Ketiga, terkait menumpas kedzaliman. Memberantas segala bentuk kejahatan yang memudaharatkan sesama. Pesan ini juga ga gampang karena untuk memberantas kedzaliman kita harus tahu mana kedzaliman mana bukan. Tahu dengan timbangan yang benar bukan perasaan dan sebenar-benar ukuran adalah Al Quran dan sunnah. Tak cukup sampai disitu untuk memberantasnya juga ga boleh serampangan karena memberantas kedzaliman harus dengan cara-cara yang baik bukan memberantas kedzaliman dengan cara yang dzalim. Kalau begitu kita juga pelaku kedzaliman bahkan lebih parah karena mengatasnamakan kebenaran.

Keempat, tambah jelas bahwa hanya kepada Allah dan Rasul-Nya cinta yang hakiki kita sematkan. Cinta pada Allah sebagai puncak kecintaan diatas segala-galanya diatas manusia siapapun dia, mau ibu, bapak, adik pun istri atau suami. Konsekuensi dari cinta adalah kerelaan untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan itu menempati tempat tertinggi yang punya arti bila dibenturkan dengan perintah dari siapapun itu, perintah Allah dan Rasul-Nya yang harus dikedepankan.

Kelima, nasihat paling akhir dari syair ini adalah tentang akhir kehidupan manusia yang pasti akan dialami oleh setiap yang bernafas. Tutup usia, meninggalkan alam dunia, meninggalkan ranah beramal menuju ranah pertanggungjawaban dan tiada lagi kesempatan beramal. Pilihannya tinggal dua berbahagia atau penyesalan tiada berujung karena keliru memaknai kehidupan dan salah menempatkan prioritas dalam perkataan dan perbuatan selama di alam dunia. Bercita-cita menjadi mujahid dan mati syahid di jalan Ilahi Rabbi itulah pesan yang disampaikan yang harus terbenam dalam hati setiap muslim. Mati syahid akan mengantarkan si syahid ke surga tanpa hisab dan perhitungan, langsung menuju jannah dan berkumpul dengan para syuhada. Balasan dari Allah ta’ala  bagi yang menjaga keimanan dan tauhid serta berjuang menolong agama Allah dengan dilambari keikhlasan sekalipun harus meregang nyawa di tangan musuh-musuh Allah.

Terima kasih pak Taufiq Ismail, semoga Allah balas anda dengan kebaikan yang banyak dan memberkahi hidup bapak. Jangan bosan-bosan menasihati kami yang masih muda ini lewat syair-syair bapak.

Sumber utama : http://taufiqismail.com/puisi-puisi-menjelang-tirani-dan-benteng/benteng/98-nasihat-nasihat-kecil-orang-tua-pada-anaknya-berangkat-dewasa 

Iklan

Menuntut Ilmu Syari’ Menggapai Karunia Ilahi

Pada kesempatan sebelumnya alhamdulillah telah kami uraikan tentang keutamaan menuntut ilmu agama. Pada kesempatan kali ini kami ingin melanjutkan terkait keutamaan ilmu agama dibandingkan harta dan keuntungan bagi orang yang giat belajar agama. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dienul islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (tafsir Ibnu Katsir 3/428)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak takut neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya.” (Shahih Jami’ Ash Shaghir)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” (HR. Muslim)

Dari hadist diatas dan juga dari dalil-dalil llainnya berikut adalah beberapa keuntungan mempelajari ilmu agama :

  1. Bahwa ilmu dien adalah warisan para Nabi, warisan yang lebih berharga dan lebih mulia dibanding segala warisan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:  “Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambilnya (warisan ilmu), sungguh ia telah mengambil keuntungan yang banyak”. (Shahihul Jami Al Albani : 6297)
  2. Ilmu itu akan kekal sekalipun pemiliknya telah mati, tetapi harta akan berpindah dan berkurang bahkan jadi rebutan bila pemiliknya telah mati. Kita pasti mengetahui Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- seorang yang diberi julukan “gudangnya periwayat hadist”. Dari segi harta, beliau tergolong kaum kaum papa (fuqoro’), hartanya pun telah sirna, tetapi ilmunya tidak pernah sirna. Kita masih tetap membacanya. Inilah buah dari Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam:
    Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shaleh” (HR. Muslim no. 1631)
  3. Ilmu, sebanyak apapun tak menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tak perlu gudang yang luas untuk menyimpannya, cukup disimpan dalam dada dan kepalanya. Ilmu akan mejaga pemiliknya sehingga memberi rasa aman dan nyaman, berbeda dengan harta yang bila semakin banyak, semakin susah menyimpannya, menjaganya, dan pasti membuat gelisah pemiliknya.
  4. Menuntut ilmu melapangkan jalan menuju surga (jannah), tiada jalan pintas menuju surga kecuali dengan ilmu.
  5. Menuntut ilmu akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan dibumi hingga ikan yang ada di air.
  6. Ilmu merupakan pertanda kebaikan seorang hamba. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :     

Siapa yang Allah kehedaki baginya kebaikan, akan dipahamkan baginya masalah dien (agama)” (HR. Bukhari)

       7.  Mendapat naungan malaikat

Maka dari itu, sungguh merugi seorang muslim yang tidak menyibukkan dirinya dengan menuntut ilmu agama. Berbagai keutamaan telah kita ketahui tapi mengapa berat sekali hati ini, diri ini untuk bergerak menuju majelis ilmu. Marilah saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala kita pacu diri ini untuk mengambil warisan para Nabi, menggapai karunia Ilahi dengan senantiasa menuntut ilmu sampai maut menjemputmu. Wallahu a’lam.

Sumber utama tulisan ini adalah :
1. artikel ‘Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu — Muslim.Or.Id
2. artikel ‘Hakikat Ilmu — Muslim.Or.Id

Keutamaan Menuntut Ilmu

“Seandainya dunia sebanding dengan satu sayap sayap lalat di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun bagi seorang kafir” (HR. At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)

Dalam hadist ini diketahui bahwa kedudukan dunia di sisi Allah demikian  rendah, sampai-sampai kalau kedudukan dunia itu sebanding dengan satu sayap lalat (dan ternyata satu sayap lalat pun tidak sampai) Allah tidak akan memberikan seteguk air bagi seorang kafir. Inilah peringatan bagi kita yang selalu sibuk dan mengerahkan upaya dengan begitu hebatnya untuk meraih kemegahan dunia. Gemerlap dunia yang menyilaukan banyak manusia yang jauh dari petunjuk Allah. Oleh karena itu, agar kita tidak terlena dengan kemilau dunia kita harus membekali diri dengan ilmu yang mengantarkan kita pada ketakwaan. Menjadi muslim yang beriman dan berilmu akan memperoleh derajat tinggi di sisi-Nya. Firman Allah ta’ala dalam surat Mujaadilah ayat 11 menyebutkan :

Mujaadilah 11

Derajat tinggi bagi orang yang beriman dan berilmu bukan beriman dan berpangkat, bukan beriman dan berharta. Derajat tinggi di sisi Allah artinya adalah banyak pahala yang dimiliki seorang hamba. Orang yang beriman dan berilmu akan banyak dikaruniai pahala karena amalannya selalu dilandasi oleh ilmu.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.

[HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]
Wajib baik muda maupun tua, kaya maupun miskin, anak-anak maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan, dokter, guru, pedagang, direktur, profesor, dll semua wajib menuntut ilmu agama.
Islam membagi ilmu berdasarkan hukumnya sebagai berikut :

Pertama: Ilmu Dien, yang terbagi menjadi:

1. Ilmu dien yang hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib dimiliki oleh setiap orang), yaitu: Ilmu tentang akidah berupa rukun iman yang enam, rukun Islam, dll. Lalu yang berkenaan dengan ibadah, seperti thaharah, shalat, shiyam, zakat dan ibadah-ibadah wajib lainnya.

2. Ilmu dien yang hukumnya Fardhu Kifayah (harus ada sebagian orang islam yang menguasai, bila tidak ada maka semua kaum muslimin di tempat itu berdosa), yaitu: ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fara’idh, ilmu bahasa, ushul fiqh, dll.

Kedua: Ilmu Duniawi, yaitu segala ilmu yang dengan ilmu tersebut tegaklah segala maslahat dunia dan kehidupan manusia, seperti : ilmu kedokteran, pertanian, ilmu teknik, matematika, perdagangan, militer, dan lain sebagainya. Menurut para ulama, hukum ilmu duniawi adalah fardhu kifayah.
Dengan demikian, Islam adalah agama ilmu, ilmu kemaslahatan hidup di dunia maupun akhirat. Namun seiring dengan pergeseran tujuan hidup manusia, motivasi menuntut ilmupun mulai bergeser. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia mulai condong kepada ilmu duniawi dan menomorduakan, bahkan melupakan ilmu dien (agama). Entah kekhawatiran apa yang membayangi manusia sehingga mereka lebih mementingkan ilmu dunia dari pada ilmu dien, padahal Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS. Ar Rum:7)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dienul Islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (tafsir Ibnu Katsir 3/428). Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka lalai dari berharap masuk surga dan lalai dari takut neraka. (bersambung insyaAllah)

Tafsir Surat Ad Dhuha ayat 2-3

(2) Dan demi malam apabila telah sunyi

Allah bersumpah demi waktu malam yang datang menjelang selepas siang. Suasana yang tenang hingga menjadi gelap gulita. Allah tetapkan malam sebagai penutup cahaya siang untuk digunakan manusia beristirahat. Sesuai dengan firman Allah ta’ala pada surat Al An’am ayat 96 yang artinya

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.”

Jadi istirahatlah di waktu malam dengan cukup agar badan kita sehat dan kuat untuk beribadah kepada Allah dan bisa ikhtiar dengan maksimal dalam mencari rezeki pada siangnya. Di waktu malam ini dianjurkan untuk melaksanakan shalat malam, shalat yang paling utama setelah shalat fardhu. Apabila belum terbiasa maka dibiasakan perlahan-lahan secara bertahap dan kontinu. Allah menyukai amalan yang sedikit tapi kontinu, tentu akan lebih baik kalau banyak dan kontinu.

(3) Rabb-mu tidak meninggalkan kamu (Muhammad) dan tiada (pula) membencimu

Surat ini diturunkan untuk mematahkan anggapan orang-orang musyrik bahwa Allah ta’ala telah meninggalkan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam disebabkan Nabi tidak bangun (untuk shalat malam) selama satu atau dua malam. Dalam riwayat yang lain dari al-Aswad bin Qais, ia mendengar Jundub berkata, “Jibril terlambat membawa wahyu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, maka orang-orang musyrik berkata, ‘Muhammad telah ditinggalkan oleh Rabb-nya.’ Lalu Allah ta’ala menurunkan ayat,”Demi waktu dhuha. Dan demi malam apabila telah sunyi. Rabb-mu tidak meninggalkan kamu (Muhammad) dan tiada (pula) membencimu.” {Ath Thabari(XXIV/486)}

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wassalam adalah makhluk yang paling dicintai Allah ta’ala. Karena itu Allah memilihnya untuk mengemban risalah terbesar, untuk memimpin umat termulia dan yang tidak kalah penting Allah jadikan beliau shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai penutup para nabi dan rasul, tidak ada nabi dan rasul lagi setelahnya. Bahkan Allah selalu memantau, mengawasi, memelihara dan menjaganya dan Allah telah berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam firmanNya

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy Syu’ara : 218-219)

Hikmah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam tidak bangun shalat malam dalam beberapa waktu menunjukkan bahwa shalat malam hukumnya tidak wajib dan menunjukkan bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wassalam adalah manusia yang bisa lupa, sakit, lapar, terluka dan perkara-perkara lain yang menimpa manusia pada umumnya. Lewat jalan seperti ini Allah memberikan contoh yang sempurna kepada manusia dalam menjalani hidupnya dan lewat ayat ini Allah menegaskan bahwa tidak mungkin Allah meninggalkan manusia pilihanNya.

Tafsir Surat Ad Dhuha ayat 1

(1) Demi waktu matahari sepenggalahan naik

Di ayat pertama ini Allah bersumpah atas nama waktu Dhuha. Allah ta’ala boleh bersumpah dengan apa saja tetapi manusia tidak boleh. Sumpah Allah atas suatu waktu menunjukkan keutamaan waktu tersebut. Dhuha adalah waktu permulaan siang saat muncul cahaya yang terang sampai beberapa saat sebelum matahari tepat diatas kepala kita. Dalam keseharian kita waktu dhuha ini beberapa saat setelah matahari terbit, kira-kira 15 menit setelah terbit. Di waktu ini Allah memberikan barokahnya bagi orang-orang yang mau berusaha. Seperti telah dimaklumi bahwa rezeki ada di pagi hari, nah pagi hari disini yang dimaksud bukan selepas subuh langsung mengais rezeki akan tetapi saat matahari telah terbit atau saat dhuha ini. Selepas subuh sebaiknya digunakan untuk berdzikir. Dzikir bukan hanya melafalkan subhanallah, alhamdulillah dan kalimat2 mulia lainnya, termasuk dzikir adalah membaca Al Quran, mendengarkan ceramah pengajian atau murotal, membaca buku agama, menghafal Al Quran atau hadist, dan banyak lagi. Waktu dhuha atau siang Allah tetapkan untuk mencari rezeki bukan untuk sebaliknya. Jadi sudah diatur bahwa waktu istirahat itu malam hari bukan waktu dhuha atau habis subuh tidur lagi. Memang banyak dirasakan begitu, bahwa kualitas istirahat malam dengan siang walau durasinya sama tetapi efeknya berbeda. Lebih berasa kalau tidur malam dengan cukup daripada hibernasi siang hari. Hal ini jadi peringatan bagi kita bahwa begadang itu ga baik dan harus lebih berusaha lagi tidur lebih cepat karena begitulah kebiasaan orang-orang shalih terdahulu, tidur cepat lantas bangun di sepertiga malam terkahir untuk menghadapkan wajah kepada Rabbnya. InsyaAllah berlanjut

Disarikan dari tafsir Ibnu katsir dan tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin dengan penyesuaian dari penyusun.

Puasa ‘Asyura dan Tasu’a bertepatan dengan hari Jumat dan Sabtu

Bulan Muharram, bulan yang dimuliakan Allah sudah menghampiri kita. Bulan tersebut di sebagian kalangan dikenal dengan bulan Suro dan identik dengan hal-hal seram dan sial sehingga hajatan-hajatan tidak boleh dilaksanakan pada bulan ini. Padahal Islam tidak menganggap demikian. Di bulan ini adalah kesempatan untuk beramal shalih, terutama puasa, lebih utama lagi jika mendapati hari ‘Asyura (10 Muharram). Pada bulan ini dianjurkan untuk berpuasa karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita melakukan puasa pada bulan Muharram sebagaimana sabdanya, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah(Muharram). Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 67)

Keutamaan Puasa ‘Asyura
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”(HR. Muslim no. 1162).

Menambah Puasa Tasu’a (9 Muharram) untuk menyelisihi Yahudi
Disunnahkan melaksanakan puasa Tasu’a (9 Muharram) dalam rangka menyelisihi Yahudi. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.

Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)

Tanggal 9 Muharram bertepatan dengan hari Jumat

Pada tahun ini tanggal 9 Muharram bertepatan dengan hari Jumat, 23 November 2012. Terdapat larangan mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat dan siang harinya dengan berpuasa. Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat tertentu dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa kecuali jika berpapasan dengan puasa yang mesti dikerjakan ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144)

Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan dalil yang tegas dari pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah dan yang sependapat dengan mereka mengenai dimakruhkannya mengerjakan puasa secara bersendirian pada hari Jum’at. Hal ini dikecualikan jika puasa tersebut adalah puasa yang berpapasan dengan kebiasaannya (seperti berpapasan dengan puasa Daud, puasa Arofah atau puasa sunnah lainnya), ia berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya, berpapasan dengan puasa nadzarnya seperti ia bernadzar meminta kesembuhan dari penyakitnya. Maka pengecualian puasa ini tidak mengapa jika bertepatan dengan hari Jum’at dengan alasan hadits ini.”

Tanggal 10 Muharram bertepatan dengan hari Sabtu
Begitu juga tanggal 10 Muharram tahun ini bertepatan dengan hari Sabtu, 24 November 2012 dan ada sebuah hadits yang melarang berpuasa pada hari Sabtu,

Janganlah engkau berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan bagi kalian.

( HR. Abu Daud no. 2421, At Tirmidzi no. 744, Ibnu Majah no. 1726. Syaikh Al Albani men-shahih-kan hadist ini). Adapun penjelasan dari larangan berpuasa pada hari Sabtu adalah sebagai berikut :

Pertama: Puasa pada hari Sabtu dihukumi wajib seperti berpuasa pada hari Sabtu di bulan Ramadhan, mengqadha’ puasa pada hari Sabtu, membayar kafarah (tebusan), atau mengganti hadyu tamattu’ dan semacamnya. Puasa seperti ini tidaklah mengapa selama tidak meyakini adanya keistimewaan berpuasa pada hari tersebut.

Kedua: Jika berpuasa pada hari Sabtu diikuti dengan berpuasa sehari sebelum hari Sabtu, maka ini tidaklah mengapa.

Ketiga: Berpuasa pada hari Sabtu karena hari tersebut adalah hari yang disyari’atkan untuk berpuasa. Seperti berpuasa pada ayyamul bid (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), berpuasa pada hari Arafah, berpuasa ‘Asyura (10 Muharram), berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan, dan berpuasa selama sembilan hari di bulan Dzulhijah. Ini semua dibolehkan. Alasannya, karena puasa yang dilakukan bukanlah diniatkan berpuasa pada hari Sabtu. Namun puasa yang dilakukan diniatkan karena pada hari tersebut adalah hari disyari’atkan untuk berpuasa.

Keempat: Berpuasa pada hari sabtu karena berpuasa ketika itu bertepatan dengan kebiasaan puasa yang dilakukan, semacam berpapasan dengan puasa Daud –sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa-, lalu ternyata bertemu dengan hari Sabtu, maka itu tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan dan tidak terlarang berpuasa ketika itu jika memang bertepatan dengan kebiasaan berpuasanya.

Demikian penjelasan singkat mengenai puasa di bulan Muharram khususnya puasa ‘Asyura dan Tasu’a. Semoga Allah mudahkan kita untuk melaksanakannya. Wallahu a’lam

(Sumber utama : http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/4136-anjuran-puasa-muharram.html dengan penyesuaian dari penyusun)

Seorang Sahabat . . .

Memelihara nilai-nilai persahabatan terkadang melelahkan, menjengkelkan dan sering pula tak mengenakkan. Tetapi itulah yang membuat persahabatan menjadi indah karena bulan pun menjadi indah karena gelap malam. Yakinlah jika kita bersahabat dengan anak manusia suatu waktu akan tersaji cobaan bagi persahabatan kita. Ingat, manusia tidak ada yang sempurna. Tapi patut dicatat persahabatan sejati akan tumbuh bersama dengan kemakluman atas ketidaksempurnaan masing-masing diri.

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi berproses seperti besi menajamkan besi. Persahabatan diwarnai dengan  beragam pengalaman, baik suka maupun duka, dihibur juga pernah disakiti, diperhatikan juga dikecewakan, didengar dan diabaikan dan banyak terang-gelap lainnya yang mewarnai persahabatan. Namun patut dicatat bahwa itu semua tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan menyakiti atau benci. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan karena itu ia beranikan menegur kesalahan sahabatnya apa adanya.

Seorang sahabat juga tak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyampaikan nasihat bahkan yang amat menyakitkan sekalipun dengan tujuan sahabatnya mau berbenah. Bukan sekedar untuk menarik simpati, perhatian atau mengejar pujian karena seorang sahabat akan senantiasa memelihara persahabatannya dengan penuh kepedulian dan kesetiaan. Begitulah laku seorang sahabat

Seorang sahabat merindukan untuk selalu menjadi bagian kehiduapan sahabatnya karena ia menginginkan kebaikan-kebaikan yang dimilikinya juga dimiliki sahabatnya bahkan lebih pun dia rela. Maka jelaslah bahwa setiap orang butuh sahabat sejati, tapi sayangnya tak semua berhasil memiliki. Banyak orang menyangka telah menikmati indahnya persahabatan dan kebersamaan, tapi semua tiba-tiba hancur karena pengkhianatan. Itulah persahabatan yang tidak dibangun diatas keimanan. Rapuh dan jelas menggelisahkan. Muara persahabatan sejati haruslah ridha Ilahi Rabbi, kalau begitu muaranya maka seiring berlalunya waktu persahabatan itu akan makin mekar bukan pudar.

Kalau kita temukan sahabat itu satu jenis dengan kita maka jagalah, peluk eratlah, hargailah dan teruslah pelihara. Namun jika ia lawan jenis dan kita pun belum halal baginya maka percayalah kebersamaan yang demikian tak akan menenangkan karena laknat Allah bersama dengan kebersamaan kita dengannya. Bersabarlah, kuatlah untuk bisa menjauh, untuk bisa berhenti sejenak, untuk bisa mundur dari keinginan bermesra-mesraan sampai waktu itu tiba.

Ingatlah sahabat, bahwa menjauh itu bukan berarti melupakan, berhenti sejenak bukan berarti tidak meneruskan perjalanan dan mundur bukan berarti meninggalkan.

Menjelang Maghrib

Rabu, 8 Dzulhijah 1433 H

Kota Kembang

Mengubur Budaya Menyontek (2)

Teruntuk saudara-saudaraku khususnya para mahasiswa yang sedang menghadapi ujian. Semoga sedikit uraian tentang menyontek bisa mengokohkan kita sebagai penuntut ilmu untuk senantiasa berlaku jujur karena menyontek dapat dikategorikan sebagai persaksian palsu yang termasuk kedalam dosa besar. Berprestasilah dengan jujur jika tak mampu berlaku jujurlah betapapun anda harus mengulang suatu mata kuliah karena menyontek berarti telah menodai diri sendiri, melukai orang-orang yang berlaku jujur juga para pemerhati pendidikan. Berikut beberapa ulasan lanjutan tentang menyontek  :

Jangan hancurkan harga dirimu!

Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda

Sesungguhnya kejujuran adalah sebuah kebajikan, sedangkan kebajikan akan menuntun seseorang menuju surga. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk jujur sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Adapun sesungguhnya kedustaan adalah sebuah kekejian, sedangkan kekejian akan menuntun seseorang menuju neraka. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk dusta sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no 4720).

Maukah kita dicap oleh Allah sebagai seorang pendusta hanya gara-gara kita membiasakan diri untuk menyontek ketika ujian? Sungguh betapa buruk gelar sebagai seorang pendusta! Apabila seseorang pernah tertangkap basah menyontek, mungkin orang-orang disekitarnya akan menjadi ragu tentang kejujuran dirinya. Gerak-geriknya menjadi selalu diawasi karena khawatir ia akan melakukan sebuah kecurangan. Orang bertipe penyontek akan selalu berusaha mencari-cari kesempatan untuk berbuat curang demi keuntungan pribadinya.

Jangan lemah, berusaha dan mintalah pertolongan kepada Allah

Banyak faktor yang mendorong seseorang untuk nyontek, beberapa diantaranya adalah malas belajar, belum siap menghadapi ujian, ingin mendapatkan nilai yang tinggi dengan cara yang instan, ketakutan yang berlebihan jika gagal ujian, kurang pe-de dengan kemampuan diri sendiri dan lain-lain.

Seorang muslim tatkala ia berusaha untuk menggapai sesuatu yang diinginkannya hendaklah ia selalu memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan urusannya serta mendapatkan keberkahan dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Bersemangatlah dalam menggapai sesuatu yang memberimu manfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu merasa lemah. Apabila sesuatu (yang tidak menyenangkan) menimpamu, janganlah kamu mengatakan ‘seandainya tadi aku berbuat demikian, niscaya (hasilnya) adalah demikian dan demikian…’, akan tetapi ucapkanlah ‘semuanya telah ditakdirkan oleh Allah, dan setiap yang dikehendaki Allah pasti akan terlaksana’. Hal ini karena (kalimat) ‘seandainya’ membuka pekerjaan syetan.”(HR. Muslim, no 4816)
Adapun sifat malas, tidak selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Hendaknya seorang muslim banyak membaca do’a yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rabbi audzubika min kasali

“Wahai Rabbku, aku berlindung kepadamu dari sifat malas.”
(HSR. Abu Dawud, no 4409)

Untuk direnungkan
Saudaraku, sesungguhnya setiap apa yang kita lakukan, pasti diketahui oleh Allah Ta’ala, Dzat Yang Maha Mengetahui…Apakah layak bagi seorang muslim tatkala melakukan perbuatan kemaksiatan, ia merasa malu dan khawatir jika diketahui oleh orang lain namun dirinya seolah-olah melupakan Allah Yang Maha Mengetahui sehingga tidak merasa malu dan khawatir kepada-Nya?

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui segala apa yang mereka sembunyikan dan yang mereka nyatakan?(Al-Baqarah:77)

Saudaraku, kadang hati ini terasa sangat berat untuk menerima kebenaran, sangat susah untuk mempelajari ilmu. Anggota badan terasa begitu mudah melakukan kemaksiatan. Demikian pula do’a terasa sangat susah untuk dikabulkan.
Pernahkah kita berfikir, barangkali hati dan anggota badan ini tumbuh dari makanan yang tidak berkah atau mengandung unsur yang haram?
Pernahkah kita berfikir, apakah ijazah dan transkip nilai yang dulu kita gunakan untuk mencari sekolah, lanjutan menuju gerbang kuliah dan mencari kerja betul-betul asli dan merupakan hasil usaha kita tanpa ada unsur kedustaan dari hasil nyontek?.. Rasullullah shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Sesungguhnya daging yang tumbuh dari usaha yang haram maka neraka lebih layak baginya.” (HR.Tirmidzi, no 558. Beliau berkata: Hadits Hasan Gharib)
Saudaraku……Setelah kita mengetahui betapa jeleknya perbuatan nyontek dan dulu kita pernah melakukannya, marilah kita tutup kejelekan tersebut dengan banyak berbuat kebajikan dan bertaubat kepada-Nya. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita…
Allah berfirman, yang artinya
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik dapat menghapuskan kejelekan-kejelekan”
(Hud: 114)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Az-Zumar: 53)

Akhirnya kita berdoa, mudah-mudahan Allah menyadarkan sebagaian kaum muslimin yang masih memiliki kebiasan nyontek, mengampuni dosa-dosa mereka dan menjadikan budaya nyontek terkubur dalam-dalam hingga tidak tercium lagi oleh kaum muslimin…..Aamiin
Catatan: Penomoran hadits didasarkan atas program Maktabah Syamilah
Diambil dari : http://alashree.wordpress.com/2010/04/08/berantas-budaya-contek/ dengan sedikit penyesuaian dari penyusun

Mengubur Budaya Menyontek (1)

Takut menghadapi ujian mungkin merupakan sesuatu yang wajar, akan tetapi jika ketakutan tersebut mengantarkan seseorang menjadi nyontek ketika ujian, itu baru tidak wajar. Suka atau tidak suka budaya menyontek telah “dipelihara dan dilestarikan” dengan congkaknya oleh para peserta didik dari berbagai tingkat lembaga pendidikan, mulai dari tingkat sekolahan sampai perkuliahan. Hal tersebut diperparah karena yang melakukannya sebagian besar adalah umat muslim yang memiliki agama yang hanif (lurus) dan sempurna petunjuknya. Islam telah mengatur segala hal terkait kehidupan manusia, bahkan untuk urusan buang hajat saja diatur dengan pengaturan yang jelas apalagi masalah menyontek yang bisa dikategorikan sebagai persaksian palsu karena kita mengingkari apa yang telah kita sepakati di lembar depan lembar jawaban kita sendiri (saya bersedia dihukum bila kedapatan menyontek atau yang semisal dengan pernyataan ini).

Apa itu nyontek?

Nyontek adalah membawa catatan khusus untuk dapat disalin ketika ujian atau meniru pekerjaan orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan (curang). Tindakan nyontek hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah imannya, yang dirinya lupa bahwa Allah ta’ala selalu mengawasinya.
.
Apakah nyontek itu dosa?
Ketika seseorang berniat untuk menyontek, tentu ia akan mencari cara bagaimana agar tidak ketahuan oleh pengawas ujian. Saat posisi dan waktu telah dirasa aman, mulailah peserta didik (siswa, mahasiswa dan yang semacamnya) melakukan aksinya yaitu “menyontek” dengan perasaan dag dig dug takut kalau-kalau aksinya ketahuan oleh pengawas. Sungguh apa yang telah dilakukan oleh peserta didik tadi sangat sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kebajikan adalah bagusnya akhlak, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu dan kamu tidak suka apabila hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR.Muslim, no 4633)

Nyontek itu sepele?
Kalaulah kita terima pendapat ini yaitu bahwa nyontek merupakan perbuatan yang sepele dan hanya merupakan dosa kecil, maka alangkah indahnya perkataan Ibnul Mu’taz

Tinggalkanlah dosa baik yang kecil ataupun yang besar, maka itulah takwa… Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah yang berduri, tentu ia akan berhati-hati dari apa yang dilihatnya… Janganlah engkau meremehkan dosa-dosa kecil, karena gunungpun adalah dari kerikil…” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal 212. Cet Darul Aqidah)

Namun, jika kita cermati lebih dalam tentang perkara nyontek ini, ternyata nyontek adalah sebuah perkara yang sangat mengerikan dan dianggap besar di dalam Islam. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang berbuat curang, maka ia bukan termasuk golongan kita (HR. Muslim, no 146)

Selanjutnya marilah kita dengar cerita yang disampaikan oleh salah seorang sahabat Nabi yang mulia, Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan
Suatu ketika kami berada di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda,

“Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar?”-beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali-. “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan bersaksi palsu atau berkata dusta.” Saat itu beliau bersandar kemudian beliau duduk. Beliau masih saja mengulang-ulang sabdanya sampai-sampai kami berkata kalau seandainya beliau diam. (HR. Muslim no. 126)

Dapat kita katakan bahwa nyontek termasuk salah satu perbuatan memberikan persaksian palsu. Bukankah orang yang nyontek sebenarnya tidak bisa menjawab soal-soal ujian? Bukankah nilai hasil ujian yang bagus sebetulnya tidak bisa diraih seandainya ia tidak nyontek? Bukankah ini berarti nilai-nilai yang ada di raport/transkip adalah nilai-nilai yang palsu? Sungguh hal yang memilukan bila ia hendak menjadikan bangga orang tua dengan raport/transkip palsunya dan sungguh ia telah memberikan kesaksian palsu kepada manusia yang membaca raport/transkip nilainya! Adakah demikian seorang muslim…

Catatan: Penomoran hadits didasarkan atas program Maktabah Syamilah

Diambil dari : http://alashree.wordpress.com/2010/04/08/berantas-budaya-contek/ dengan sedikit penyesuaian dari penyusun

I’tikaf Menanti Malam Lailatul Qadr

Beri’tikaf Demi Menanti Lailatul Qadr

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadr, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu (Latho-if Al Ma’arif, hal. 338).

Beberapa hal yang bisa diperhatikan ketika ingin beri’tikaf

Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja.
I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187).

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, “Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil haram, masjid nabawi dan masjidil aqsha”. Perlu diketahui, hadits ini masih diperselisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).

Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).

Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub , yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah : 187 di atas.

Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya :
1. Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.
2. Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain.
3. Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.
4. Mandi dan berwudhu di masjid.
5. Membawa kasur untuk tidur di masjid.

Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Iedul Fithri menuju lapangan.

Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (Pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158)

Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan dan dijauhkan dari kemalasan. Wallahu a’lam.

(Diambil dari http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html dengan sedikit penyesuaian dari penyusun)

Post Navigation