Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the month “Oktober, 2011”

Dirikanlah Sholat

Sungguh banyak di antara kaum muslimin saat ini yang meremehkan masalah sholat (mengakhirkan mengerjakannya) dan melalaikannya, bahkan ada yang meninggalkannya sama sekali karena menganggapnya sepele. Tak jarang kita jumpai saudara kita yang hanyut terbawa kesenangan nafsunya (main game, jalan-jalan, bekerja tak mengenal waktu, sekedar bercanda ria dengan kawannya, dll) sampai – sampai sholat dikerjakan di akhir waktu menjadi hal yang lumrah dan biasa saja (dzuhur dikerjakan menjelang ashar, ashar dikerjakan menjelang maghrib dan yang semisalnya), yang lebih menyedihkan lagi kalau sampai ada yang meninggalkannya demi sejumput hal yang sesungguhnya tidak membawa manfaat bagi kehidupannya. Sholat merupakan salah satu  di antara hal-hal besar yang mendapat perhatian khusus oleh Rasulullah shallalohu alaihi’ wa salam . Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya ingin mengingatkan pada diri sendiri dan saudara – saudaraku seiman melalui tulisan yang sederhana ini sebagai wujud kepedulian terhadap sesama dalam rangka saling menasihati di dalam kebaikan dan taqwa.

PENGERTIAN SHOLAT

Sholat secara bahasa bermakna doa, sedangkan menurut syara’ (istilah) sholat adalah beribadah kepada Alloh dengan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. (Lihat asy-Syarh al-Mumthi : 349)

HUKUM SHOLAT

Sholat hukumnya wajib bagi muslim yang baligh dan berakal. Sungguh Alloh ta’ala telah memerintahkan kita untuk menegakkannya dalam banyak ayat-Nya. Alloh berfirman:

Maka dirikanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Qs. An-Nisa’[4]:103)

Demikian pula halnya dengan Rasulullah shallalohu alaihi’ wa salam, beliau telah menjadikan sholat sebagai rukun Islam yang kedua dari rukun-rukun Islam yang lima. Sabda beliau (artinya) :

“Islam itu didirikan atas lima landasan: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Alloh, mendirikan sholat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji, serta berpuasa bulan Romadhon.” (HR. Bukhori:8 Muslim: 16).

Dan tatkala mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rosululloh shallalohu alaihi’ wa salam bersabda (yang artinya):

“Beritahukanlah kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam.” (HR. Bukhori : 1395, Muslim : 19)

KEUTAMAAN SHOLAT 

Wahai saudaraku, keutamaan sholat sangatlah agung, demikian pula pahalanya. Dalam al-Qur’an Alloh menyatakan :

“… dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Alloh (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. An-Ankabut [29] : 45)

Adapun hadits-hadits yang mendasari keutamaan sholat lima waktu ini banyak sekali. Di antaranya:

  1. Tatkala Rosululloh shallalohu alaihi’ wa salam ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang amalan apakah yang paling afdhol (utama), beliau menjawab :

    “sholat (tepat) pada waktunya.”
    (HR. Bukhori: 2782,5970, Muslim:85)
  2. Sabda beliau : “Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan rumah salah seorang di antara kalian ada sebuah sungai lalu dia mandi dari sungai tersebut sebanyak lima kali setiap hari, masihkah tersisa kotorannya?” Para sahabat menjawab: “Tidak akan tersisa kotoran sedikitpun (pada badannya).” Nabi bersabda: “Itulah perumpamaan sholat lima waktu, Alloh akan menghapus dosa – dosa disebabkan sholat lima waktu tersebut.” (HR. Bukori:528, Muslim:667)
  3. Sabda beliau shallalohu alaihi’ wa salam : “Tidaklah ada seorang muslim pun yang apabila sholat wajib itu telah tiba, lalu dia membagusi wudhunya, khusyu’nya dan rukuknya, melainkan hal itu akan menjadi kafaroh (penebus) dosa – dosa sebelumnya selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu adalah berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim: 228)
  4. Sholat merupakan tiang agama Islam. Sabda Rosululloh shallalohu alaihi’ wa salam, “Pangkal agama adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” (HR. Tirmidzi: 2616, Ibnu Majah: 3973, dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi 3/42)

MAKNA “IQOMATUSH SHOLAH” (MENDIRIKAN SHOLAT)

Wahai saudaraku, sesungguhnya Alloh mewajibkan kita sholat di dalam Al-Qur’an dengan menggunakan lafazh (dirikanlah sholat) bukan (kerjakanlah sholat),atau yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwasanya sholat tidak cukup dengan sekedar asal dikerjakan begitu saja, akan tetapi harus dilengkapi pula dengan syarat, rukun dan hal-hal yang wajib maupun sunnahnya serta menghadirkan hati dan mentadaburi (memahami) apa yang kita katakan dan kita kerjakan di dalam sholat tersebut, maka inilah sholat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana yang tertuang dalam Surat al-Ankabut [29] ayat 45. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rohman : 24, cet. Mu’assasah ar-Risalah)

Dahulu Rosululloh pernah menjumpai seseorang yang sedang melakukan sholat namun orang tersebut tidak thuma’ninah dan khusyu’ di dalam sholatnya, maka Rosululloh pun memerintahkannya agar mengulangi sholatnya lantaran sholat yang dilakukannya itu tidak sah. (lihat HR. Bukhori: 6251, Muslim 397)

HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHOLAT

Para ulama telah bersepakat bahwa hukum orang yang meninggalkan sholat lantaran mengingkari kewajiban sholat tersebut, maka sungguh dia telah kafir dan keluar dari Islam.

Adapun hukum orang yang meninggalkan sholat karena menganggapnya remeh/sepele, lalai, atau yang lainnya sedang dia masih meyakini akan wajibnya sholat adalah al-kufro al asghor (kufur kecil/fasik) yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. (lihat al-Wajiz : 57-59)

Betapapun sibuk dan padatnya agenda kita, meninggalkan sholat adalah suatu bentuk kemungkaran yang besar dan pelakunya berhak mendapatkan siksa di akhirat kelak selagi dia belum bertaubat kepada Alloh dengan sebenar-benarnya taubat. Ingatlah, bahwasanya sholat adalah amalan yang pertama kali akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh di akhirat kelak.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahulloh berkata, “Meremehkan masalah sholat merupakan suatu kemungkaran yang besar dan termasuk sifat orang – orang munafik. Alloh ta’ala berfirman:

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Alloh dan RosulNya dan mereka tidak mengerjakan sholat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. [QS. At-Taubah[9]:54].” (Tuhfatul Ikhwan: 70-71)

Wahai saudaraku, sesungguhnya pintu taubat masih terbuka bagi siapapun yang hendak bertaubat. Oleh karena itu, segeralah bertaubat kepada Alloh dengan ikhlas semata kepada-Nya, menyesali apa yang telah diperbuat , dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi serta memperbanyak amal ketaatan. Alloh ta’ala berfirman :

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal sholih, maka itu kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal sholih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Alloh dengan taubat yang sebenar-benarnya. (QS. Al-Furqon [25]:70-71)

Wahai saudaraku, demikianlah yang dapat saya sampaikan. Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat menjadi sarana bagi kita untuk senantiasa memenuhi panggilan-Nya (Azan) dengan segera walaupun berbagai kesibukan berada di depan kita. Ya, kesibukan yang sebenarnya tidaklah pantas untuk dijadikan alasan mengakhirkan sholat kita apalagi sampai meninggalkannya. Dan saya ingatkan untuk diri sendiri dan saudaraku sesama muslim bahwa sholat bukanlah akhir dari amalan kehidupan ini, tidak berarti apabila kita sudah mengerjakan sholat lima waktu lantas kehidupan kita akan berjalan lancar tanpa ujian dan tanpa cobaan. Tidak, tidak demikian saudaraku karena orang-orang yang beriman dan beramal sholih pun pasti akan diuji untuk membuktikan keimanan dan kesholihannya. Bahkan Nabi Muhammad shallalohu alaihi’ wa salam pun tak lepas dari ujian dan cobaan. Jika manusia yang paling beriman dan bertakwa saja masih diuji maka pantaskah kita, yang begitu jauh iman dan takwanya dengan baginda Rosul shallalohu alaihi’ wa salam bebas dari ujian dan cobaan? Ataukah anda lebih beriman dan bertakwa dari Nabi Muhammad shallalohu alaihi’ wa salam???

Akhirnya, semoga Alloh senantiasa melimpahkan taufiq-Nya dan menunjukkan kita semua kepada jalan-Nya yang lurus, jalan orang-orang yang dikaruniai kenikmatan oleh Alloh, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan sholihin, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang – orang yang tersesat. Aamiin. Allohul Musta’an.

(Diambil dari buletin Al-Furqon tahun I edisi 10 volume 2 dengan sedikit penyesuaian dari penyusun)

Iklan

Sekapur Sirih Tentang Aku

Perkenalkan nama saya Agus Setiawan, orang – orang sering memanggil saya Agus atau Gus saja. Lebih kurang dua puluh dua tahun lalu saya dilahirkan di sebuah kota kecil, Temanggung namanya, itupun sebenarnya bukan di kotanya tapi di sebuah rumah di dusun yang cukup jauh dari kota. Kata ibu saya, saya dilahirkan di rumah, bukan di sebuah klinik bersalin apalagi rumah sakit. Saya dilahirkan ke dunia dengan bantuan bidan yang dipanggil ke rumah untuk membantu ibu melahirkan anaknya yang pertama ini.

Seperti yang telah saya sebutkan diatas bahwa saya lahir di sebuah perkampungan yang cukup jauh dari kota. Di kampung Ploso namanya, saya lahir dan besar dengan kondisi pedesaan yang asri dan menyenangkan. Di tempat tinggal saya waktu saya masih kecil penduduknya dikenal masyarakat luas karena kuatnya mereka memegang dan mempertahankan tradisi yang ada. Bahkan sampai sekarang pun masih, walaupun terjadi sedikit degradasi akibat derasnya arus modernisasi. Sebagai contoh yang mungkin jarang ada atau dijumpai di tempat lain adalah larangan untuk menggelar pertunjukkan musik atau yang semacamnya oleh aparat desa, sampai sekarang belum pernah ada rasanya konser musik digelar di kampung saya itu bahkan dangdut pun tidak.

Kedua orang tua saya berprofesi sebagai pedagang dan hampir delapan puluh persen keluarga ibu saya mencari rezeki dengan berdagang, sebagai akibatnya darah dagang pun mengalir dalam diri saya. Semasa kuliah di ITB saya pernah merintis bisnis susu murni dengan beberapa rekan saya, cukup lumayan untuk menambah uang jajan selama kuliah di Bandung. Walaupun itu hanya bertahan satu semester lebih sedikit karena untuk mengurusi bisnis benar – benar menguras waktu dan tenaga kami sebagai akibatnya kuliah terbengkelai dan kami pun terpaksa menghentikan bisnis kami.

Alhamdulillah saya dikarunia Alloh kedua orang tua yang sangat memperhatikan pendidikan anak – anaknya. Dari sebelum TK saya sudah belajar baca tulis Al Quran di masjid dekat rumah saya. Sudah menjadi hal yang wajar di desa saya kalau anak – anak usia lima tahun sudah lancar bahkan hafal beberapa bagian dari Al Quran. Setelah cukup usia, kedua orang tua saya memasukkan saya ke TK (Taman Kanak – Kanak) yang berada lagi – lagi tidak jauh dari rumah saya. Saya dididik di TK tersebut oleh guru yang boleh dibilang “Oemar Bakrie” karena ibu saya dulu dididik oleh beliau dan saya pun diasuh beliau bahkan sekarang adik saya yang berbeda 13 tahun dari saya juga diampu oleh beliau. Bu Siti namanya, seorang guru yang pantas untuk dijadikan teladan oleh para guru. Guru sejati atau boleh dibilang pendidik sejati yang mengabdikan hidupnya sepenuh hati untuk pendidikan. Bukan sekolah mewah yang ia tempati, bukan sekolah dengan fasilitas wah tempatnya mengabdi dan bukan pula murid atau anak – anak orang berada yang ia ajar. Hanya kami, murid TK usia 4 sampai 5 tahun dari keluarga sederhana yang beliau ampu, hanya kami murid dari keluarga rakyat biasa yang selalu berusaha mensyukuri nikmat kehidupan yang ada. Menurut saya disinilah titik yang sebenarnya sulit bagi beliau. Bertahan lebih dari 40 tahun mendidik murid – murid kecilnya yang telah berganti generasi seiring berlalunya masa, tanpa bosan tapi diiringi kesabaran yang selalu ditunjukkannya, bukanlah hal yang mudah pastinya. Mulai dari ibuku sampai dengan adikku, itulah tiga generasi yang telah engkau bimbing sebagai contoh saja karena mungkin kenyataannya lebih dari itu. Terlebih lagi kesejahteraan yang beliau terima tidaklah seberapa dibandingkan apa yang telah beliau lakukan. Bu, maafkan kami, murid – murid anda ini yang sekarang telah beranjak dewasa yang dengan pongahnya membusungkan dada karena bisa mencapai kesuksesan luar biasa menurut kaca mata kami semua. Bu, maafkan kami yang dengan mudahnya melupakan anda, kami tak ingat sama sekali akan apa yang telah anda lakukan dan ajarkan kepada kami. Bu, maafkan kami karena tak pernah memberimu apa – apa, bahkan ucapan terima kasih pun kami lupa. Bu, maafkan atas kezaliman kami yang telah melupakan pelajaran anda. Dulu kami senantiasa berdoa sebelum melakukan apa – apa, seperti yang selalu engkau ajarkan, bahkan sebelum memejamkan mata kami panjatkan doa, tapi kini entahlah perbuatan mana yang kami mulai dengan doa.

Waktu terus bergulir saya pun menapaki jenjang pendidikan selanjutnya, masuk di SD Kandangan yang letaknya beda satu desa dengan desaku… sampai SMP di Temanggung, ya…sampai SMP saya masih berada di kota tembakau ini. Selepas SMP saya masih ingin melanjutkan pendidikan di kota saya saja, tapi kedua orang tua saya menginginkan saya melanjutkan sekolah di SMA Taruna Nusantara Magelang. Sebuah sekolah asrama dengan pendidikan semimiliiter yang cukup terkenal waktu itu, tapi sayangnya saya tidak mengetahuinya dan hal ini menambah keengganan saya untuk memasukinya. Singkat cerita pada akhirnya saya masuk ke sekolah itu dan untuk kali pertama saya hidup jauh dari keluarga. Seminggu pertama di sekolah itu rasanya saya ingin menyerah dan pulang ke rumah saja daripada menjalani kehidupan yang mandiri dengan disiplin semimiliter sampai – sampai air mata saya menetes untuk kali yang pertama karena rindu dan kangen dengan keluarga, hal yang belum pernah saya alami sebelumnya.

Di SMA Taruna Nusantara-lah saya mendapatkan begitu banyak pelajaran berharga tentang hidup ini. Mulai dari kemandirian, arti persahabatan, bahkan betapa berartinya keluarga pun baru saya rasakan ketika saya menimba ilmu di kampus biru itu. Betapa tidak, saya, yang baru lulus dari SMP, tidak diizinkan untuk berkomunikasi dengan keluarga selama 3 bulan saat pertama – tama masuk di sekolah itu, jangankan bertemu untuk sekedar menelpon saja tidak boleh. Selama tiga tahun belajar disana tidak pernah saya memegang hand phone milik saya yang baru dibeli menjelang lulus SMP. Keterbatasan atau boleh dibilang kesederhanaan itulah yang membuat saya lebih tegar dan tegas dalam menjalani kehidupan ini. Disiplin, mental kejuangan dan semangat pantang menyerah yang ditanamkan lewat keteladanan yang belum pernah saya lihat lagi sampai sekarang, membuat saya tegar menjalani kehidupan setelah lulus (sekarang dunia perkuliahan) yang terkadang dihadapkan pada kondisi yang sulit dan membuat stress. Tapi saya tak pernah menyerah dan selalu berusaha memberikan yang terbaik semampu saya.

Menjelang kelulusan saya dihadapkan pada kenyataan yang sulit. Saya ingin melanjutkan pendidikan ke akademi militer atau ke sekolah kedinasan lainnya, tapi ketika saya melakukan free test saya kedapatan memilki buta warna parsial yang mengakibatkan saya tidak bisa masuk ke sebagian besar sekolah tinggi atau akademi kedinasan yang ada di Indonesia. Beberapa jurusan teknik pun tidak bisa saya masuki karena buta warna yang saya milki. Bingung bercampur stress karena hal ini baru saya ketahui 3 bulan menjelang kelulusan. Setelah berkonsultasi dengan banyak orang akhirnya saya putuskan untuk masuk matematika ITB.

Selanjutnya saya memasuki bangku kuliah di ITB dengan perjuangan yang cukup berat karena kondisi keluarga yang memang hanya mengizinkan saya masuk kuliah lewat jalur SPMB (kalau sekarang SNMPTN) yang gratis tidak ada uang pangkal, yang semakin hari semakin memberatkan dan menyesakkan. Satu bulan di Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar guna mempertahankan semangat belajar dan kualitas keilmuan. Hal ini saya lakukan karena sifat saya yang cenderung malas untuk belajar bila tidak tersuasanakan dengan baik. Alhamdulillah selama di Bandung saya hanya mengeluarkan sedikit sekali uang karena mendapat bantuan dari keluarga teman saya yang dengan baik hati memberikan tumpangan rumah, uang makan bahkan sampai hiburan pun saya dijamin. Saya pun tidak menyia-nyiakan nikmat Allah yang dinugerahkan dengan lulus SPMB dan masuk ke jurusan yang saya inginkan yaitu matematika ITB.

Memasuki tahun pertama kuliah tak terlalu banyak yang saya lakukan karena masih memilah-milah aktivitas yang sesuai dengan yang saya inginkan dan tentunya memberikan manfaat kepada saya untuk mengejar cita-cita serta yang tak kalah penting adalah sesuai dengan kesenangan saya. Syarat yang terakhir tidak mutlak tetapi akan lebih baik kalau saya bisa menemukan aktivitas yang saya sukai semenjak awal perkuliahan. Berkat hobi saya yang suka bermain sepak bola maka kegiatan diluar belajar pelajaran adalah mengikuti UKM (unit kegiatan mahasiswa) sepakbola. Di UKM sepakbola alias PS ITB saya hanya bertahan selama satu semester saja karena bertentangan dengan nurani saya sebagai seorang muslim. Hanya satu hal yang membuat saya harus meninggalkan unit ini yaitu jadwal latihan yang menerobos waktu sholat (misal 14.00 – 16.00). Tidak sepenuhnya menerjang waktu sholat hanya saya tidak bisa mendirikan sholat berjamaah di masjid dan hal tersebut mengganggu pribadi saya, jadi ada yang mengganjal di hati tidak tenang rasanya masih berada di lapangan sementara adzan berkumandang dan kita mendengarnya dengan sangat jelas. Itu saja tidak lebih.

Selain mengikuti PS ITB tak ada kegiatan lain yang begitu menguras waktu dan tenaga saya kecuali bermain game di laptop teman. Pernah suatu kali bermain game dari habis isya’ sampai subuh nonstop, sungguh memalukan. Akibat dari bermain game sampai larut saya jadi kurang fokus untuk belajar di kelas akibatnya semester pertama berlalu dengan prestasi belajar yang biasa – biasa saja karena memang usaha yang dilakukan tidak optimal. Semester dua juga berlalu dengan hal yang tidak jauh berbeda hanya saja setelah lepas dari PS ITB saya membuat komunitas futsal berbasiskan ikatan alumni SMA. Jadi tetap bisa menendang bola walaupun sudah tidak ikut unit sepakbola.

Begitulah tahun pertama saya berlalu dengan banyak menghabiskan waktu bermain game dan kurang fokus dalam perkuliahan. Selanjutnya saya masuk kedalam jurusan yang saya inginkan yaitu matematika dan seperti sudah membudaya di ITB ada “perpeloncoan” sebelum masuk jurusan dan hal itu dilaksanakan saat liburan menjelang masuk kuliah. Organisasi yang mewadahi mahasiswa sejurusan di matematika ITB namanya HIMATIKA kepanjangan dari himpunan mahasiswa matematika. Organisasi inilah yang melaksanakan “perpeloncoan” kepada mahasiswa baru yang masuk jurusan. Selepas menjalani “perpeloncoan” oleh kakak-kakak di HIMATIKA kami diterima menjadi anggota dan sungguh kurang beruntungnya saya karena kondisi HIMATIKA saat saya masuk kurang kondusif sehingga di tahun kedua ini saya kurang mendapatkan ilmu berorganisasi yang baik dari aktivitas saya di HIMATIKA. Saya sendiri “terjebak” dalam aktivitas yang saya tidak menyukainya yaitu berkecimpung dalam dunia kaderisasi. Meskipun dengan berat hati saya tetap menjalankan amanah di divisi kaderisasi karena dalam prinsip saya bahwa bila amanah sudah diembankan kepada kita maka sudah selayaknya kita mengemban amanah tersebut dengan sungguh-sungguh. Tahun kedua berlalu kurang menyenangkan dan prestasi belajar saya pun turun dengan indeks prestasi dibawah tiga selama dua semester.

Selanjutnya saya memasuki tahun ketiga di matematika yang kebanyakan mahasiswa matematika menyebutnya sebagai tahun tersulit di matematika dan saya pun sepakat dengan hal itu. Anehnya di saat saya memasuki tahun tersulit di matematika saya justru menemukan semangat berorganisasi kembali di matematika. Selama ini saya tetap berorganisasi tetapi lebih condong untuk aktif di ikatan alumni SMA karena saya lebih senang berada disitu. Di tahun ketiga ini saya menemukan aktivitas yang memang benar-benar saya senangi, aktivitas yang benar-benar sesuai di hati. Berkecimpung di divisi olahraga membuat kreativitas dan semangat saya untuk berkontribusi bagi himpunan matematika ITB kembali lagi setelah lama surut. Alhamdulillah di tahun ketiga ini saya bisa melewati perkuliahan dengan sedikit lega walaupun prestasi belajar turun tetapi tidak ada yang mengulang. Tambah senang karena saya sudah menemukan aktivitas yang sesuai untuk saya.

Memasuki tahun keempat menjadi puncak berkarya bagi saya di HIMATIKA di akhir semester ganjil tahun keempat ada pergelaran olahraga besar yaitu Olimpiade VI KM ITB 2011. Ajang perlombaan olahraga antar himpunan setiap dua tahun sekali. Saya pun memimpin kontingen HIMATIKA untuk berprestasi setinggi – tingginya di ajang ini. Target 3 medali emas tidak terpenuhi tetapi hanya mendapat 3 perak yang artinya target hampir terpenuhi hanya gagal di partai final saja. Selepas turun jabatan sebagai ketua divisi olahraga HIMATIKA saya masih harus melanjutkan amanah sebagai ketua ikatan alumni SMA Taruna Nusantara cabang Bandung. Saya seperti lupa bahwa saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang harus mengerjakan tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan dari kampus gajah ini. Saya pun terpaksa merubah rencana kelulusan dari wisuda Juli menjadi Oktober karena saya tidak ingin mengemban amanah setengah – setengah dan ada aktivitas baru yang membuat saya harus bertahan sampai Oktober yaitu mengajar anak2 jalanan.

Di saat menjelang akhir masa perkuliahan di kampus ITB ini saya malah menemukan kegiatan yang sungguh menarik minat dan semangat saya. Kegiatan tersebut adalah untuk mengajar anak2 jalanan Dago di rumah singgah mereka di Dago Bengkok. Luar biasa, saya tidak pernah menyangka akan bertemu dan berinteraksi langsung dengan mereka yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai sampah masyarakat. Senang rasanya bisa berbagi ilmu dan sedikit rezeki yang saya punya dengan mereka. Selagi masih ada kesempatan saya akan membantu komunitas yang belakangan ini diberi nama Keluarga Cinta Anak Indonesia untuk mewujudkan cita – cita luhur yaitu mengentaskan anak – anak jalanan dari jerat jalanan, kemiskinan dan kebodohan.

Begitulah kira – kira perjalanan saya selama berada di Bandung. Banyak hal yang telah saya dapatkan pada jenjang – jenjang sebelumnya benar – benar teruji. Dihadapkan pada heterogenitas yang cukup kompleks di kampus gajah membuat saya belaajar untuk mengembangkan sense of crisis karena banyak hal yang saya alami disini terkadang memerlukan intuisi yang tajam ketimbang rasionalitas atau pengalaman empiris untuk menyelesaikan masalah, baik pribadi maupun organisasi yang sedianya memiliki rentang waktu yang sedikit untuk saya menyelesaikannya. Kemampuan lain yang saya rasa bertambah ketika belajar disini adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan publik dan bekerja dalam sebuah tim.

Kisah saya masih berlanjut selepas juni tahun 2011 ini…insyaAlloh ada lanjutannya.

Post Navigation