Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the month “Desember, 2011”

Semangkuk Ketulusan

Pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang aktivitas saya bersama kawan-kawan pengajar KCAI. Secuil saja dari begitu banyak kisah yang kami lewati hampir delapan bulan bersama-sama membantu mencerdaskan anak Indonesia. Beberapa bulan terkhir di tahun keempat kuliah saya habiskan untuk membantu olahraga HIMATIKA (sudah saya ceritakan sebagian pada cerita sebelum-sebelumnya) dan fokus sepenuhnya untuk Keluarga Cinta Anak Indonesia (KCAI). Aktivitas mengajar bersama-sama kawan-kawan pengajar KCAI menjadi sampingan utama kegiatan saya selain mengerjakan tugas akhir. Kegiatan kami saat ini adalah mengajar anak-anak kelas 3,4 dan 5 SD di Kampung 200, Cisitu, Bandung. Beberapa langkah saja tempat tinggal mereka dari Institut Terbaik Bangsa (ITB) tetapi ironi ketika saya tanya cita-cita mereka tak satupun ingin kuliah di ITB. Jarak yang begitu dekat tetap membuat mereka jauh dari ITB. Setiap Selasa dan Jumat sore kami bergiliran mengajar di sebuah sekre tempat singgah anak-anak kampung 200. Sekre itu terdapat di kampung mereka juga.

Selain pelajaran matematika saya mengampu futsal dan badminton untuk anak-anak kampung 200. Futsal tiap Kamis sore dan badminton tiap malam Minggu. Waktu itu Kamis sore jatah futsal tetapi hujan deras mengguyur akhirnya saya liburkan. Saya dan Ihsan (teman kosan bukan KCAI) berteduh di sekre menunggu hujan reda. Farhan, anak kelas 5 SD yang biasa saya ajar tiba-tiba datang dihadapan saya dan minta bantuan untuk menyelesaikan PR matematikanya. Pas karena saya jurusan matematika dan saya pun membantunya sampai selesai tanpa kesulitan karena Farhan anak yang baik dan mudah diarahkan walau kurang pandai.

Selepas mengajari Farhan hujan belum reda dan Maghrib sebentar lagi tiba. Saya dan Ihsan Putra, beranjak hendak ke masjid untuk menunaikan shalat Maghrib tapi tiba-tiba Ibu Farhan datang membawa dua mangkuk mi rebus untuk kami. Jadilah kami menyantap mi tersebut sebelum ke masjid. Luar biasa mi yang dibuat ibu Farhan rasanya enak sekali, mi rebus ketulusan saya menyebutnya karena jujur saja kondisi ekonomi keluarga Farhan benar-benar pas-pasan. Tengok saja rumahnya yang bersebelahan dengan sekre, hanya terdiri dari dua ruang rumahnya, satu ruang tengah untuk tidur, makan sekaligus ruang tamu dan satu lagi dapur dan kamar mandi. Selepas maghrib saya kembalikan mangkuk ke rumahnya dan subhanallah ibu Farhan sedang membaca Al Quran dengan nikmatnya. Saya jadi malu karena sudah jarang sekali membaca Al Quran karena dikalahakan kesibukan.

Saya tidak tahu kenapa harus membantu Farhan, boleh jadi hanya karena kebetulan saya berteduh dan tidak ada kegiatan jadi tidak ada salahnya membantu dia. Karena ada yang butuh bantuan dan saya pun mampu untuk membantu dan dia anak didik saya maka saya bantu dia. Itu saja tidak lebih dan suratan takdir yang membawa saya untuk membantu Farhan.

Lebih penting dari itu saya jadi ingat petuah dalam sebuah pengajian bahwa kita harus bersedekah baik di kala sempit maupun lapang. Maka inilah sedekah di kala sempit. Salut untuk ibu Farhan, semoga Allah memudahkan semua urusan ibu. Lantas untuk anda yang dikarunia nikmat berupa kecukupan rezeki maka syukurilah seberapapun itu dan sedekahkanlah, tanpa sedekah “ibarat makan nasi tanpa lauk, kenyang tapi hambar.” begitulah kata salah seorang teman dekat saya. Jadi jangan biarkan  hambar.

Pare dan Runner Up lagi

Kamis, 24 November 2011 aku dan sahabatku, Tahta Muhammad (temen SMA dan sama-sama kuliah di ITB) pergi meninggalkan Bandung untuk belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Mulanya hanya Tahta seorang yang akan berangkat, tapi iseng-iseng dia mengajakku untuk belajar di Kampung Inggris. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan ajakan kawanku ini karena kemampuan berbahasa Inggrisku tergolong pas-pasan dan sekarang-sekarang ini waktuku sedang luang. Maklum saja masih pengangguran karena belum menemukan tempat berlabuh selepas tamat kuliah di ITB.

Kamis sore aku dan Tahta meninggalkan Bandung menggunakan kereta Mutiara Selatan. Perjalanan lebih kurang 12 jam kami tempuh untuk mencapai Kertosono, Nganjuk (tempat pemberhentian KA terdekat dari Pare). Dari Kertosono kami menaiki becak motor, becak yang tidak dikayuh tapi menggunakan mesin sederhana untuk mencapai halte terdekat. Setelah itu perjalanan lebih kurang 1,5 jam kami tempuh dengan bus dan angkutan pedesaan dan sampailah kami di Kampung Inggris, Pare. Perjalanan melelahkan dengan barang bawaan yang tidak sedikit membuat badanku pegal bukan main terutama di pinggang. Alhamdulillah hari ini belum ada course jadi kami bisa beristirahat dan ber-weekend  di kampung yang damai nan asri yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, walau temperatur disini panas. Ya..perkotaan yang kadang menjemukan dan membosankan. Tapi ada satu hal yang sedikit mengganggu pikiranku, aku ga bisa mendampingi tim beregu badminton HIMATIKA di partai final GBC 2011. Partai yang kuberi judul Who is the real red?” karena lawan yang akan dihadapi adalah HMT(Tambang) yang sama-sama memiliki jaket himpunan kebanggaan berwarna  merah.

Malam minggu aku sempatkan mengirim SMS kepada tim beregu badminton HIMATIKA yang akan berlaga di partai puncak esoknya. SMS penyemangat dari seorang mantan ketua divisi olahraga dan penggemar setia badminton. Sempat berbalas SMS dengan salah satu anggota tim membicarakan peluang dan sedikit prediksi dariku. Aku bilang peluang besok masih 50-50 tergantung kesiapan pemain dan siapa yang bisa lebih fight di arena. Sempat kubilang bahwa HIMATIKA ga boleh kehilangan poin di tunggal putra karena prediksiku tunggal putri dan ganda putra HIMATIKA akan kalah, lantas langkah berikutnya ambil poin di ganda putri. Dengan begitu pemenang akan ditentukan lewat partai ganda campuran, kalau sampai partai ganda campuran maka aku yakin HIMATIKA-lah yang akan keluar sebagai juara.

Kenyataan di lapangan berkata lain karena pemain tunggal putra gagal meraih poin karena sakit lambung yang kambuh sewaktu bermain. Dari live report Irsyad aku tahu kalau Robieth kalah dengan skor yang mencolok dalam dua set. Padahal aku tahu kemampuan Robieth bisa lebih daripada itu, untuk menang pun aku yakin bisa karena aku kenal dengan pemain tunggal HMT yang belakangan kutahu namanya Nurrohman. Dia anak Solo dan aku kenal sewaktu turnamen futsal antar ikatan alumni beberapa bulan lalu. Memang dia pernah di PB dan kemampuan serta daya juangnya bagus cuma dari pengamatanku Robieth masih unggul, tapi dengan kondisi sakit tentu tidak bisa. Selepas partai tunggal putra seperti prediksiku, tunggal putri dan ganda putra HIMATIKA kalah. Cukup tragis memang kekalahan ini tapi harus bisa diterima karena usaha semaksimal mungkin sudah dilakukan dan memang begini suratan takdir yang digariskan.

Selamat atas prestasi tim beregu badminton HIMATIKA di GBC 2011. Salut buat kerja keras kalian saat latihan dan pertandingan. Dalam dua tahun berturut-turut HIMATIKA mampu menjadi finalis dan runner up (lagi) memang jatah terbaik yang diberikan Allah kepada kalian. Kalah dan sedih itu wajar tapi jangan berkepanjangan. Sekali lagi salut buat kalian para pemain.

Ada satu hal yang aku dan para pemain serta beberapa suporter sesali pada partai final GBC 2011 ini. Kesiapan tim berkurang karena perubahan jadwal tanding. Perubahan jadwal pertandingan olahraga karena berbenturan dengan agenda himpunan sudah terjadi berkali-kali dan pada hari perayaan ulang tahun HIMATIKA terulang kembali kejadian yang semisal dengan sebelumnya. Pertandingan olahraga dan disini partai final GBC tepatnya, dikesampingkan, masih dianggap kurang penting padahal partai final. Ya, begitulah yang aku tangkap dari live report seorang kawan dan dialog singkat dengan beberapa pemain pasca pertandingan. Jadwal malam diubah siang demi sebuah acara ceremonial tanpa memperhatikan kondisi kesiapan pemain kita dan akibatnya rugi untuk kita ditambah perubahan jadwal tidak membuat dukungan menjadi maksimal bahkan semenjak awal perhelatan sampai partai puncak tak nampak dukungan laskar HIMATIKA kecuali segelintir saja. GSG memang merah membara pada partai final GBC tahun ini tapi sayangnya bukan merah HIMATIKA.

Aku tuliskan ini semua karena lagi-lagi terulang soal pengesampingan ini. Semoga dari kejadian ini dapat diambil pelajaran dan dilakukan perbaikan karena para pemain yang tergabung dalam tim ini sangat bersemangat dengan atau tanpa dukungan dari badan pengurus HIMATIKA. Mereka tetap mengenakan seragam bertuliskan HIMATIKA di punggung mereka dalam pertandingan karena mereka cinta HIMATIKA karena mereka ingin HIMATIKA jadi himpunan yang kompak dan bermental juang tak kenal lelah seperti yang mereka tunjukkan dalam latihan dan pertandingan. Jadi tetap semangat badminton lovers HIMATIKA.

Post Navigation