Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the month “Januari, 2012”

Setia itu Beresiko

Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang kawan yang begitu menikmati perbuatan terlarang yang dia anggap tidak seberapa. Perbuatannya mungkin memang tak seberapa kalau dilihat dari kacamata pergaulan muda-mudi zaman sekarang. Seperti layaknya kawula muda yang dihinggapi rasa suka pada lain jenis dia pun mengalaminya. Dia “hanya” memadu kasih dengan pujaan hati yang kebetulan datang. Tak pernah jalan berduaan, apalagi pacaran, hanya komunikasi tak langsung yang belakangan jadi kelewatan. Waktu terus berjalan sementara dia belum juga berhenti dari perbuatannya. Hari demi hari berganti, minggu demi minggu terlewati sampai akhirnya hitungan bulan tak terhindari. Keadaan kawan saya pun tak berubah bahkan semakin payah hingga akhirnya dia kembali kepada kesadarannya. Ya, sekalipun dia melakukan hal itu dan menikmatinya tapi dalam hatinya masih ada pengingkaran. Dia sadar kalau hal itu salah sejak lama tapi kesadarannya dikalahkan oleh nafsunya yang membara. Singkat cerita berkat rahmat Allah ta’ala dia bisa berhenti dari perbuatan buruknya itu. Alhamdulillah.

Lantas babak baru dalam hidupnya dimulai. Mungkin pembaca mengira bahwa babak baru hidupnya akan mudah dan penuh berkah selepas berhenti. Pembaca yang budiman, adakah anda tahu bahwa babak berikutnya ternyata tak kalah susah dari perjalanannya untuk berhenti dari perbuatan buruknya sebelum ini? Bukan jalan tol yang ia temui, tapi jalan berbatu penuh duri yang harus ia lalui. Hari-harinya dilewati dengan resah dan gelisah karena terkadang bayangan sang pujaan hati datang menghampiri. Bayang dan angan tak mengenakkan pun tak jarang menghantui. Takut sang pujaan hati berpindah ke lain hati atau sang pujaan hati menyerah kalah untuk bisa bersabar dalam masa penantian yang tak pasti. Semua itu terkadang menumpahkan air matanya dan menggoyahkan jiwanya. Tapi kawan saya ini tetap gigih mempertahankan apa yang ia yakini.

Pembaca yang budiman hidup memang tak pasti, belum sempat dia tuntaskan resah, gelisah dan hantu yang membayangi, alih-alih datang penyelesaian yang datang malah cobaan lain berupa kesempatan untuk bisa berganti ke lain hati. Sudah berapa kali kesempatan beralih ke lain hati datang menghampiri. Tapi dia enggan untuk mengambilnya karena ia tak mau jatuh pada lubang yang sama dua kali.  Tambah berat lagi karena sang pujaan hati tak jarang mengungkapkan keadaan dan perasaaan lewat jejaring sosial yang terkadang membuat dia merasa berdosa atas apa yang telah terjadi. Begitu mungkin secuil kisah kawan saya, kisah yang belum rampung sampai disini karena baru sampai babak ini yang ia lalui.

Hari-hari ini saya lihat dia masih tegar diatas prinsip yang ia yakini. Walaupun dia masih sering ingat akan sang pujaan hati, masih rindu akan masa-masa itu dan mungkin masih ingin sang pujaan hati jadi jodohnya nanti. Ujian dan cobaan yang datang tak kenal kasihan tak menggoyahkan prinsip yang ia yakini, paling tidak sampai saat ini. Kawan saya ini yakin bahwa tanpa pacaran pun sekedar SMS-an jodoh yang Allah ridhai akan datang menghampiri. Tak peduli betapapun sakit dan teririsnya jiwa di tengah-tengah zaman yang prinsip semacam ini dianggap kolot, kaku, ga gaul bahkan tak bisa dimengerti, kawan saya ini tetap setia. Saya pun berharap dia begitu sampai  ketemu jodohnya nanti. Saya pun ingin sang pujaan hati bisa mewarisi kegigihan serupa dari kawan saya ini dan bisa mengerti prinsip yang diyakini kawan saya ini. Akhirnya, pada tulisan ini lewat sebuah kisah nyata kawan saya, saya mau mengatakan bahwa setia pada prinsip itu tak mudah dan beresiko tinggi. Tapi kalau anda sanggup melalui balasan indah tiada tara menanti.

Post Navigation