Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the month “Februari, 2012”

Engkau Bersama Orang Yang Engkau Cintai (1)

Dari Anas bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat? Ia berkata, “Kapan hari kiamat terjadi?” Maka beliau balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?” Ia menjawab, “Tidak ada sama sekali. Hanya saja, sesungguhnya saya mencintai Allah dan Rasul-Nya”, Maka beliau bersabda,”Engkau bersama orang yang engkau cintai,” Anas pun mengatakan,”Tidaklah kami berbahagia dengan sesuatu seperti halnya kebahagiaan kami dengan sabda Nabi, ”Engkau bersama orang yang engkau cintai,” Anas berkata, “Karena saya mencintai Nabi, Abu Bakar dan ‘Umar. Dan saya berharap saya bersama mereka, meskipun saya tidak beramal seperti mereka.

Cinta bisa membawa sengsara, cinta juga bisa membawa bahagia, cinta tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup di dunia, bahkan cinta adalah sifat Yang Maha Kuasa, Pencipta cinta. Cinta adalah fitrah manusia yang memiliki derajat dan tingkatan. Puncak cinta tertinggi adalah penghambaan dan ibadah. Lantas kepada siapa cinta itu ditujukan, dan bagaimana cinta itu diberikan? Jawaban sekaligus implementasinya akan menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan seseorang, bukan hanya di dunia ini saja, namun juga yang paling penting adalah setelah keluar dari dunia ini, di akhirat kelak.

Luapan cinta akan membuahkan idola. Adalah tidak mungkin seseorang menjadikan sesuatu/seseorang sebagai idola tanpa didasari cinta sebelumnya atau tanpa kekaguman akan idolanya. Payahnya pengidolaan tak cukup hanya mengagumi atau mencintai saja karena mengidolakan biasanya dibarengi pemuliaan, pengagungan dan meniru tingkah polah dan berbagai asesoris dari yang diidolakan. Demikianlah kenyataan di lapangan bahwa idola sekarang ini telah menjadi suatu istilah yang lebih mengarah kepada makna suri teladan yang dicintai, disanjung, dipuja, dikagumi dan dijadikan panutan, meskipun dalam tinjauan bahasa, kata idola bisa juga digunakan untuk segala sesuatu yang kita jadikan tandingan untuk Allah semisal berhala-berhala berwujud patung di zaman dulu atau berhala-berhala baru di zaman sekarang ini.
Sekarang ini kita lihat kaum muslimin banyak yang mengidolakan orang-orang yang tidak pantas untuk dijadikan panutan dan suri teladan. Berbagai suguhan tayangan dan tontonan yang mengarahkan umat muslim mengidolai para selebritis, bintang film, penyanyi, dan yang semacamnya hanya karena popularitas, ketenaran, kemasyhuran dan setumpuk harta benda dan kekayaan yang mereka miliki serta dipandang berhasil secara duniawi telah membawa kaum muslimin kepada arus pengidolaan yang sangat salah dengan begitu deras pada zaman ini. Berbagai suguhan di media sengaja dibuat dan direkayasa oleh musuh-musuh Islam dan kaum muslimin untuk menyesatkan dan menjauhkan umat dari Islam secara total. Akibatnya, meskipun masih menyandang status muslim, tetapi cara berpikir, penampilan, pemahaman bahkan keyakinan dan akidah umat muslim sekarang telah jauh dari ajaran Islam itu sendiri.

Cara tersebut telah berhasil membuat kaum muslimin kehilangan identitasnya dan generasi muslim mulai dari remaja, anak-anak hingga yang masih balita sekalipun mereka jauhkan sejauh mungkin dari agamanya. Maka tidak mengherankan kalau sekarang kemksiatan begitu mudah ditemukan di tengah-tengah kehidupan kita bahkan tanpa malu berterang-terang dilakukan.

Ya, tengok saja kaum hawa sekarang, begitu murah aurat mereka pamerkan, di tengah kota bahkan di penjuru desa sekalipun, memamerkan aurat seperti sudah dihalalkan hanya karena idola mereka mengenakannya atau sekedar mengikuti tren zaman. Kaum adam pun tak mau ketinggalan, bukan melulu soal penampilan kaum adam mengambil teladan idolanya bahkan dengan “khusyu” mereka memakmurkan majelis-majelis yang menampilkan idolanya untuk sekedar menyimak atau mengambil teladan dari idolanya. Maka kaum adam tak berkeberatan bangun tengah malam untuk suatu pertandingan. Waktu yang seharusnya lebih utama untuk khusyu qiyamul lail bukan khusyu menonton pertandingan. Mereka pun dengan ringan menghadiri konser musik yang menguras kantong cukup dalam dan rela datang berjam-jam sebelum konser dikumandangakan. Hanya untuk melihat langsung teladannya mengajarkan bagaimana cara bermaksiat kepada Allah. Belum lagi para bujang yang sering mengadakan pesta belingsatan dengan minuman memambukkan sebagai sajian. Sangat banyak kemaksiatan kalau mau disebutkan dan kolom ini tidak akan cukup untuk memuatnya. Bersambung….

Post Navigation