Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the month “Maret, 2012”

Engkau Bersama Orang Yang Engkau Cintai (2)

Pada pembahasan kali ini akan diuraikan tentang pentingnya peran keluarga dalam membentuk generasi muslim. Seperti yang telah kita ketahui bahwa keluarga adalah kelompok terkecil dalam sebuah tatanan masyarakat dan suatu bangsa. Baik buruknya sebuah masyarakat atau suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh keluarga – keluarga yang membentuknya. Dimulai dari awal terbentuknya biduk rumah tangga, suami istri yang memiliki satu keyakinan, cara pandang dan berpikir yang sama, satu tujuan dan akidah dan prinsip hidup yang sama adalah titik penting yang menentukan ke mana arah dan orientasi keluarga itu di masa mendatang. Demikian pula sebaliknya, ketika di antara suami dan istri tidak memiliki kesatuan dalam prinsip dan orientasi, apalagi akidah, maka hal ini akan sangat berpengaruh dalam pembentukan generasi dan keturunan. Sehingga hal ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar bagi orang tua yang harus diperhatikan.

Seorang muslim harus membentengi diri dan keluarga mereka dari berbagai pengaruh buruk yang masuk dan merasuk ke dalam diri mereka, apalagi dengan perkembangan teknologi yang tidak bisa dibendung dan dihindari seperti sekarang ini. Ketika membawa muatan negatif dan sisi buruk, orang tua harus lebih ketat dan melekat dalam mengawasi dan membimbing anak – anaknya. Di antara sisi yang paling penting dalam perkembangan pribadi anak adalah bagaimana menanamkan dan membentuk sosok yang bisa dijadikan sang anak sebagai panutan dan teladan yang mengakar dalam dirinya. Hal ini bisa diwujudkan dengan senantiasa menceritakan, mengisahkan dan menyampaikan secara terus-menerus dan rutin, menyebutkan dan membacakan keutamaan dan keagungan sosok tersebut, hingga terbentuk, tertanam, dan terpatri dalam diri mereka rasa cinta, hormat, kagum, bangga dan mengagungkannya dan menjadikan sang anak memiliki keinginan untuk menjadi seperti mereka, meneladaninya dan menjadikan panutan dalam hidupnya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, para nabi dan rasul beserta keluarga mereka, para istri Nabi dan para sahabat wanita, laki-laki dan perempuan salih, dan para ulama adalah yang paling layak dan harus dijadikan sosok tersebut. Keluarga Nabi Ibrahim, keluarga “Imron, keluarga Luqman al-Hakim, keluarga Nabi Ya’qub, Kelurga Nabi Dawud, keluarga Nabi Syu’aib dan seluruh keluarga yang dikisahkan dalam al-Qur’an adalah sosok keluarga-keluarga teladan yang paling layak dijadikan contoh dan teladan kelurga muslim. Maryam, Aisyah, istri Fir’aun, dan para wanita yang disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok teladan bagi para wanita yang beriman.

Kisah dan sirah perjalanan hidup mereka seharusnya banyak diceritakan dan dikisahkan dalam keluarga muslim untuk membentuk sosok kepribadian teladan bagi pribadi dan keluarga. Sebaliknya, keluarga harus dijauhkan dari berbagai sosok lain yang tidak pantas atau bahkan haram untuk dijadikan sebagai panutan dan teladan, apalagi ‘idola’, seperti tokoh fiktif dan khayalan semisal superman, batman, spiderman dan semacamnya, atau para selebritis, penyanyi, bintang film, pemain olahraga dan semisal mereka yang banyak dipropagandakan dan menjadi proyek musuh – musuh Islam untuk menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.

Apabila seseorang telah menjadikan sebuah sosok sebagai teladan, panutan sebagai idola, maka ia akan berusaha mengikuti, meneladani dan mencontoh apa saja yang dilakukannya dan menaati apa saja yang dikatakannya, sebagaimana dikatakan:

Seandainya cintamu sejati tentu engkau akan menaatinya. Sesungguhnya orang yang mencintai akan taat kepada yang dicintainya.

Dalam hadits di atas, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu merasakan kebahagiaan yang paling mendalam setelah kebahagiaan berupa keimanan dan keislamannya dengan hadits ini, yaitu kecintaan kepada Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Sebab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa seseorang akan bersama orang yang dicintainya, berarti ia akan bersama mereka di surga karena mereka adalah para penghuni surga yang paling tinggi. Meskipun Anas merasa tidak mampu untuk beramal sebagaimana amal mereka, namun ia yakin dan berharap cintalah yang akan bisa membawanya bersama mereka hingga hari kiamat, dan hingga masuk ke dalam surga di sisi-Nya.

Berbahagialah orang yang memberikan cinta yang paling besar dalam dirinya setelah kepada Allah ta’ala kepada manusia-manusia yang paling diridhai dan dicintai-Nya. Adapun sebaliknya, apabila seseorang menjadikan teladan, panutan dan orang yang dicintainya apalagi yang menjadi idola dalam hidupnya adalah ahli dunia, apalagi yang memiliki sifat, amal perbuatan, keyakinan yang menyimpang bahkan bertentangan dengan apa yang dicintai Allah, bermaksiat dan melakukan apa yang dimurkai-Nya, maka ia pun bersamanya di dunia dan nanti di akhirat ketika mereka terancam dengan api neraka, wal’iyadzubillah.

Akankah kita memilih teladan dan panutan yang lain setelah kita mengetahui dan yakin bahwa kita akan bersama orang yang kita teladani dan kita cintai nanti di hari kiamat?! Seorang muslim tidak akan spekulatif dalam pilihannya. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat, dan masing-masing dari keduanya memiliki anak-anak. Maka jadilah kalian anak-anak akherat, karena hari ini adalah hari beramal, bukan hari penghisaban, dan esok adalah hari penghisaban dan tiada lagi amal “.
Wallahu muwaffiq

Sumber : majalah al-mawaddah edisi ke-8 tahun ke-3

Iklan

Post Navigation