Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the month “Mei, 2012”

Balada orang-orang terluka (1)

Adalah kapten James Yee yang merupakan warga negara Amerika tulen dan bahkan seorang prajurit lulusan akademi militer terbaik Amerika, West Point, dituduh sebagai mata-mata dan dimasukkan namanya menjadi anggota jaringan terorisme dunia. Padahal dia terang-terangan prajurit yang setia pada konstitusi negaranya. Berbulan-bulan dipenjara tanpa tuduhan yang jelas ditambah istrinya difitnah dengan dugaan sang suami (Yee) selingkuh dengan bukti yang penuh rekayasa dan bualan semata. Kapten James Yee adalah warga keturunan China yang moyangnya pada tahun 1920-an hijrah ke negeri paman Sam untuk mencari peruntungan hidup yang lebih baik. Seperti lazimnya etnis Tionghoa yang menyebar ke seluruh penjuru dunia dan sudah menjadi ciri khas mereka adalah keteguhan mereka dalam berjuang.

Kapten Yee tidak mahir bahasa China sama sekali karena memang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan yang berbahasa Inggris dan bergabung dalam sekolah umum yang berisi warga Amerika dari berbagai etnis. Bahkan kedua orang tuanya besar di Amerika, juga tidak mahir bahasa China karena sebagai generasi ketiga sejarah perjalanan moyang mereka sampai di Amerika sekarang ini tinggal kepingan-kepingan kecil saja, yang sering jadi bahan pembicaraan saat kumpul keluarga besar mereka. Jadi secara garis keturunan dia adalah seorang warga Amerika sejati. Kapten Yee juga bukan pemeluk Islam semenjak lahirnya, beliau memeluk ajaran Kristen Lutheran semenjak kecil hingga umur dua puluh tiga tahun, pada usia dua puluh tiga ini Allah limpahkan hidayah kepadanya untuk memeluk Islam.

Kapten Yee memeluk Islam satu tahun selepas lulus dari West Point (tahun 1991) dan keluarganya yang masih memeluk Kristen Lutheran mendukung penuh apa yang dia lakukan. Beberapa saat setelah memeluk Islam kapten Yee merasa pengetahuannya tentang Islam sangat sedikit sehingga tanpa ragu ia membeli satu set kitab hadist Sahih Muslim untuk ia dalami. Setelah itu ia ditugaskan ke Jerman selama lima bulan. Selepas dari Jerman ia ditugaskan di Arab Saudi sebagai Komandan Peleton Markas Besar yang mengepalai sekitar tiga puluh lima prajurit. Kapten Yee bertugas mengawasi keamanan lokasi markas sistem rudal Patriot yang berharga jutaan dolar AS yang terletak di Pangkalan Udara King Abdul Aziz. Pada saat itu sedang berlangsung perang teluk dan pasukan Amerika terlibat aktif di dalamnya. Dalam penugasaan di Saudi ini ia mendapat karunia besar untuk mengunjungi Makkah Al Mukaramah beserta prajurit muslim lainnya yang dibiayai penuh oleh Kerajaan Saudi. Makin suburlah iman yang berada di hati Kapten Yee karena kunjungannya ke rumah Allah ta’ala yang sangat menakjubkan, membuka wawasannya betapa beragam perbedaan bisa bersatu dalam satu ikatan yaitu Islam.

Pada tahun 1993 kapten Yee memutuskan untuk menjadi ulama militer bagi prajurit Islam Amerika. Pada saat itu usianya baru 25 tahun dan ia meminta untuk keluar dari dinas aktif sebagai parjurit dan ingin menjadi ulama militer saja. Selepas pengunduran dirinya ia melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang kelima sekaligus penegasan atas keyakinan yang dipeluknya. Karena ingin menjadi ulama militer maka dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang Islam. Selepas haji yang kedua ketika ia berumur 26 tahun kapten Yee mengikuti seleksi masuk Universitas Islam Madinah, tetapi ia gagal masuk karena usianya sudah melewati batas yang ditentukan. Setelah itu ia melamar ke Universitas Abu Noor di Damaskus, Suriah dan ia diterima sebagai pelajar disitu. Selama 2 tahun pertama kapten Yee memperdalam bahasa Arab dan memperbaiki bacaan Al Quran serta memperbanyak hafalannya karena program yang ia ikuti hanya ada dalam bahasa pengantar bahasa Arab. Setelah itu selama 4 tahun kapten Yee menyelesaikan programnya di Universitas Abu Noor. Pada tahun 1998 ia menikah dengan seorang muslimah Suriah yang bernama Huda. Hingga pada tahun 2001 kapten Yee berhasil menjadi ulama militer dan membawa Huda ke Amerika Serikat.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah ta’ala sungguh menakjubkan semangat para mualaf dalam mendalami Islam, bandingkan dengan kita yang sudah memeluk Islam semenjak lahir hingga sekarang. Sudahkah menggali makna dan hikmah yang terkandung dalam Al Quran? Sudah berapa banyak hafalan ayat-ayat Al Quran yang ada di kepala kita? Terus sudahkah kita berupaya untuk belajar bahasa Arab yang merupakan bahasa Al Quran dan hadist? Atau sudahkah kita membaca kitab-kitab para ulama semisal sahih Muslim, Riyadus Salihin, Bulughul Maram, dll? Sepenggal kisah ini menuturkan bahwa perjuangan menuntut ilmu itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan waktunya tidak sebentar. So, buang jauh-jauh rasa malas menuntut ilmu agama dan semoga Allah mudahkan kita untuk memahami & mengamalkannya. InsyaAllah kisah ini berlanjut . . .

Sumber : Buku For God and Country

Obat Penenang Jiwa

Sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa. Oleh karena itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, tak sedikit kita jumpai manusia memakai cara – cara yang dibenci oleh Allah guna mencapai keinginan mereka.

Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat pacaran. Ada yang terjebak dalam hiburan malam yang melalaikan dan jauh dari petunjuk-Nya. Ada pula yang terjebak dalam korupsi dan lain sebagainya. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka. Padahal Allah ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya),

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’du: 28)

Malik bin Dinar mengatakan, “Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 562). Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah mengapa banyak diantara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama terdahulu. Kita saksikan bahwa kebanyakan dari kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada mendirikan qiyamul lail, lebih suka menikmati film–film laga yang notabene adalah sandiwara daripada duduk di tempat pengajian dan merenungkan ayat-ayat-Nya, lebih suka berkunjung ke pusat-pusat belanja daripada memakmurkan rumah-Nya.

Perhatikanlah ucapan Rabi’ bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi’ bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula “kemampuannya” untuk bisa mengingat Allah ta’ala. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriahnya tampak baik – baik saja.

Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam Al-Qur’an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. 

Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya (lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 21). Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 261)

Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi “didukung” suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk Al-Qur’an. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Shalat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna dan Al-Qur’an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangan kita.

Wahai saudaraku…apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.”(QS. al-A’la: 16-17).

Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya),

“Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.” (QS. Ghafir: 38-39) (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 260)

Apabila hari – hari ini kita menangis karena ludesnya harta benda, atau karena cinta terhadap kaum hawa yang tak tertahankan atau karena hilangnya jabatan yang kebanyakan manusia sekarang ini menginginkannya, atau karena orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya, maka kapankah saatnya kita menangis karena rusaknya hati kita?? Allahul musta’aan wa ‘alaihit tuklaan.

{diambil dari http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/ dengan penyesuaian dari penyusun}

Post Navigation