Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the month “Juli, 2012”

Balada Orang-Orang Terluka (2)

Setelah menjadi ulama militer Yee menjalankan tugasnya di penjara dengan tingkat keamanan tertinggi di dunia yaitu penjara Guantanamo atau Gitmo. Disana Yee melayani para tawanan dalam urusan ke-Islaman, para tawanan yang dituduh teroris oleh pemerintah Amerika setelah peristiwa 11 September. Amerika yang memang terkenal sebagai negara dengan tingkat kebebasan tinggi ternyata tidak memberikan hak kebebasan untuk para tawanan yang belum terbukti ikut andil dalam peristiwa memilukan 11 September. Para tawanan nyata-nyata sangat kesulitan untuk menjalankan ajaran Islam yang mereka yakini. Bahkan dalam sekuel interogasi beberapa kali Al Quran yang merupakan kitab suci dihinakan oleh orang-orang yang menginterogasi tawanan, hanya karena sebagian besar tawanan berkata jujur. Hal ini belum ditambah pemeriksaan tawanan dalam keadaan telanjang setiap hari. Umat muslim terlarang memperlihatkan auratnya kepada orang lain dan ini merupakan bentuk penjagaan kehormatan diri seorang muslim, tapi mereka tetap tidak mau mengerti. Singkat cerita Yee terus melayani para tawanan dengan tetap mengikuti prosedur Guantanamo yang ketat.

Tibalah saatnya buat Yee pulang dari Guantanamo menemui keluarganya di Seattle. Bisa dibayangkan betapa bahagianya seorang prajurit yang akan pulang dari penugasan untuk bertemu dengan belahan jiwanya dan anak-anak yang sangat dicintainya. Begitu pula kebahagiaan dari sisi sang istri dan anak-anak, benar-benar membuncah akibat kerinduan yang mendalam terhadap Yee. Tapi apa mau dikata kerinduan mendalam dari kedua belah pihak setelah setahun tidak bertemu harus dikubur dalam-dalam karena dalam perjalanan pulang dari Gitmo Yee sudah dituduh sebagai bagian dari teroris padahal Yee adalah prajurit mereka dan tanpa ragu hari itu mereka menuduh Yee berkhianat tanpa bukti yang kuat. Akhirnya Yee ditangkap setelah melalui proses panjang di Pangkalan Udara angkatan laut Jacksonville, Florida. Istri dan anak-anaknya pun meradang sambil menerka-nerka apa yang terjadi pada Yee karena sudah berjam-jam lamanya menanti sang suami di bandara Tacoma, Seattle tapi Yee tidak menampakkan batang hidungnya juga.

Singkatnya perlakuan terhadap dirinya pun tak main-main, keamanan level satu pernah dirasakan Yee, sehingga pernah suatu ketika dia sebulan penuh tak melihat sang surya dan hanya keluar masuk kamar mandi dengan kondisi tangan diborgol dan kaki dirantai. Yee kembali ke Gitmo tapi dengan status yang berbeda. Kembali ke lingkungan yang tak asing baginya tapi suasananya berbeda, kalau dulu Yee hanya mendengar dan menyaksikan ketegangan, kecurigaan dan tekanan dan tentu tanpa belas kasihan maka sekarang Yee merasakannya sendiri.

Hal itu belum ditambah interogasi yang penuh intimidasi dan menguji mental dan iman karena pernah suatu kali dalam sesi interogasi, kapten James Yee ditawari untuk berzina asal dia mau mengakui apa-apa yang dituduhkan padanya. Wanita pezina sudah dihadirkan dihadapannya, tetapi berkat keimanan yang melekat kuat ia tak menggubrisnya. Tak hanya itu makanan halal pun tak tersedia sehingga makin parahlah kondisi jasmani dan psikologinya. Dalam kondisi yang demikian hanya iman yang mampu membuatnya bertahan. Asal anda tahu kapten Yee tetap shaum ramadhan dalam kondisi demikian bahkan dua kali dia khatamkan Al Quranul karim semasa bulan ramadhan. Lantas bagaimanakah dengan kita?

Adalah benar Kapten Yee dipenjara jasadnya tapi simaklah dia punya jiwa dan pikiran merdeka sehingga ketika penjara menjadi tempat tinggalnya tidak membuatnya menjual iman dan Islam dengan kebebasan semata.

Berbeda sekali dengan kebanyakan manusia yang berada bebas di alam terbuka tetapi pikiran dan jiwanya terpenjara oleh gegap gempita arus modernisasi yang tanpa sadar melepaskan umat muslim dari bingkai syar’iatnya. Semoga Allah ta’ala menjaga kita dari kelalaian atas banyak nikmat yang diberikanNya dan semoga kita dimudahkan dalam menempuh jalanNya yang lurus. Aamiin.

(Disarikan dari buku “For God and Country” karangan James Yee dan Aimee Molloy edisi terjemahan yang diterbitkan oleh Dastan Books)

Bersemilah Ramadhan (2)

Hikmah dan tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah Ta’ala, yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”. Lebih lanjut, Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

  • Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, hal ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).
  • Orang yang puasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta’ala), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah Maha Mengawasi (perbuatan)nya.
  • Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah, maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.
  • Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Ta’ala), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.
  • Orang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu terdorong untuk menolong orang-orang miskin dan tidak mampu dan ini termasuk bagian dari takwa.

Bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau,

“Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”.

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahru shabr (bulan kesabaran).

Selain kesabaran Allah menjanjikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya”.(HR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151))
Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).
Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau,

Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia).

Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”.
Demikianlah ulasan ringkas tentang keutamaan Ramadhan, semoga bermanfaat bagi sesama muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala serta dapat memberi motivasi bagi kita agar lebih bersemangat di Ramadhan ini. Semangat untuk segera berlari meraih pengampunan dan kemuliaan dari-Nya, dengan bersungguh-sungguh mengisi hari-hari Ramadhan dengan ibadah-ibadah agung yang disyariatkan-Nya.

(Diambil dari http://muslim.or.id/ramadhan/berbenah-diri-menyambut-bulan-ramadhan.html dengan sedikit penyesuaian dari penyusun)

Bersemilah Ramadhan (1)

Saudara – saudaraku sebentar lagi akan datang kepada kita bulan Ramadhan, musim kebaikan, musim penggandaan ganjaran dan pemberian hadiah besar – besaran, dibukakannya pintu – pintu kebaikan serta bulan diturunkannya Al Quran yang didalamnya ada petunjuk dan penerangan bagi umat manusia. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu (zaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (zaman) maupun tempat”. Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Ta’ala utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam. Berpuasa pada bulan Ramadhan hukumnya wajib dan tujuannya adalah bertakwa kepada Allah ta’ala. Hal ini sesuai dengan firman Allah, yang artinya :

“Hai orang – orang yang beriman, telah diwajibkan atasmu untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah ayat 183)

Sungguh Allah Ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka. Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan ingin meraih ridha-Nya. Karena agungnya dan keutamaan bulan suci ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini.
Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)” (HR Ahmad (2/385), an-Nasa’i (no. 2106) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” (hal. 395))

Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”.

Dulunya, para ulama yang shalih jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta’ala. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya (para ulama sholih terdahulu) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”.

Maka hendaknya seorang muslim mengambil teladan dari para ulama shalih terdahulu dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari Allah Ta’ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah Ta’ala dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”(HR Al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151)).

Persiapan diri yang dimaksud disini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat AllahTa’ala daripada manfaat yang diharapkan. Bukan pula dengan rajin berkunjung ke pusat belanja untuk memborong baju baru, sandal baru dan seabrek perangkat kebendaan yang seringkali diperbarui guna menyambut bulan mulia ini. Hendaknya kita memperbarui semangat, niat dan ketekunan kita dalam beribadah agar bisa belanja pahala sebanyak-banyaknya di ramadhan ini.

Persiapan yang dimaksud juga mencakup mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shalih yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”(HR Ahmad (4/321) dan Ibnu Hibban (no. 1889), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-‘Iraqi dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shalaatut taraawiih (hal. 119)).
Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja”(HR Ibnu Majah (no. 1690), Ahmad (2/373), Ibnu Khuzaimah (no. 1997) dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan syaikh al-Albani)

Yuk, mari siapkan diri hadapi ramadhan kali ini agar tak menyesal di kemudian hari karena berlalunya masa tak kita isi dengan mencari bekal untuk kehidupan yang abadi nanti. Penyusun tak bosan memanjatkan doa penuh harap kepada Dzat Yang Maha Kuasa agar langkah kita dimudahkan untuk senantiasa berjalan diatas petunjukNya hingga akhir hayat. Aamiin.

(Diambil dari http://muslim.or.id/ramadhan/berbenah-diri-menyambut-bulan-ramadhan.html dengan sedikit penyesuaian dari penyusun)

Post Navigation