Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the month “Oktober, 2012”

Seorang Sahabat . . .

Memelihara nilai-nilai persahabatan terkadang melelahkan, menjengkelkan dan sering pula tak mengenakkan. Tetapi itulah yang membuat persahabatan menjadi indah karena bulan pun menjadi indah karena gelap malam. Yakinlah jika kita bersahabat dengan anak manusia suatu waktu akan tersaji cobaan bagi persahabatan kita. Ingat, manusia tidak ada yang sempurna. Tapi patut dicatat persahabatan sejati akan tumbuh bersama dengan kemakluman atas ketidaksempurnaan masing-masing diri.

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi berproses seperti besi menajamkan besi. Persahabatan diwarnai dengan  beragam pengalaman, baik suka maupun duka, dihibur juga pernah disakiti, diperhatikan juga dikecewakan, didengar dan diabaikan dan banyak terang-gelap lainnya yang mewarnai persahabatan. Namun patut dicatat bahwa itu semua tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan menyakiti atau benci. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan karena itu ia beranikan menegur kesalahan sahabatnya apa adanya.

Seorang sahabat juga tak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyampaikan nasihat bahkan yang amat menyakitkan sekalipun dengan tujuan sahabatnya mau berbenah. Bukan sekedar untuk menarik simpati, perhatian atau mengejar pujian karena seorang sahabat akan senantiasa memelihara persahabatannya dengan penuh kepedulian dan kesetiaan. Begitulah laku seorang sahabat

Seorang sahabat merindukan untuk selalu menjadi bagian kehiduapan sahabatnya karena ia menginginkan kebaikan-kebaikan yang dimilikinya juga dimiliki sahabatnya bahkan lebih pun dia rela. Maka jelaslah bahwa setiap orang butuh sahabat sejati, tapi sayangnya tak semua berhasil memiliki. Banyak orang menyangka telah menikmati indahnya persahabatan dan kebersamaan, tapi semua tiba-tiba hancur karena pengkhianatan. Itulah persahabatan yang tidak dibangun diatas keimanan. Rapuh dan jelas menggelisahkan. Muara persahabatan sejati haruslah ridha Ilahi Rabbi, kalau begitu muaranya maka seiring berlalunya waktu persahabatan itu akan makin mekar bukan pudar.

Kalau kita temukan sahabat itu satu jenis dengan kita maka jagalah, peluk eratlah, hargailah dan teruslah pelihara. Namun jika ia lawan jenis dan kita pun belum halal baginya maka percayalah kebersamaan yang demikian tak akan menenangkan karena laknat Allah bersama dengan kebersamaan kita dengannya. Bersabarlah, kuatlah untuk bisa menjauh, untuk bisa berhenti sejenak, untuk bisa mundur dari keinginan bermesra-mesraan sampai waktu itu tiba.

Ingatlah sahabat, bahwa menjauh itu bukan berarti melupakan, berhenti sejenak bukan berarti tidak meneruskan perjalanan dan mundur bukan berarti meninggalkan.

Menjelang Maghrib

Rabu, 8 Dzulhijah 1433 H

Kota Kembang

Mengubur Budaya Menyontek (2)

Teruntuk saudara-saudaraku khususnya para mahasiswa yang sedang menghadapi ujian. Semoga sedikit uraian tentang menyontek bisa mengokohkan kita sebagai penuntut ilmu untuk senantiasa berlaku jujur karena menyontek dapat dikategorikan sebagai persaksian palsu yang termasuk kedalam dosa besar. Berprestasilah dengan jujur jika tak mampu berlaku jujurlah betapapun anda harus mengulang suatu mata kuliah karena menyontek berarti telah menodai diri sendiri, melukai orang-orang yang berlaku jujur juga para pemerhati pendidikan. Berikut beberapa ulasan lanjutan tentang menyontek  :

Jangan hancurkan harga dirimu!

Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda

Sesungguhnya kejujuran adalah sebuah kebajikan, sedangkan kebajikan akan menuntun seseorang menuju surga. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk jujur sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Adapun sesungguhnya kedustaan adalah sebuah kekejian, sedangkan kekejian akan menuntun seseorang menuju neraka. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk dusta sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no 4720).

Maukah kita dicap oleh Allah sebagai seorang pendusta hanya gara-gara kita membiasakan diri untuk menyontek ketika ujian? Sungguh betapa buruk gelar sebagai seorang pendusta! Apabila seseorang pernah tertangkap basah menyontek, mungkin orang-orang disekitarnya akan menjadi ragu tentang kejujuran dirinya. Gerak-geriknya menjadi selalu diawasi karena khawatir ia akan melakukan sebuah kecurangan. Orang bertipe penyontek akan selalu berusaha mencari-cari kesempatan untuk berbuat curang demi keuntungan pribadinya.

Jangan lemah, berusaha dan mintalah pertolongan kepada Allah

Banyak faktor yang mendorong seseorang untuk nyontek, beberapa diantaranya adalah malas belajar, belum siap menghadapi ujian, ingin mendapatkan nilai yang tinggi dengan cara yang instan, ketakutan yang berlebihan jika gagal ujian, kurang pe-de dengan kemampuan diri sendiri dan lain-lain.

Seorang muslim tatkala ia berusaha untuk menggapai sesuatu yang diinginkannya hendaklah ia selalu memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan urusannya serta mendapatkan keberkahan dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Bersemangatlah dalam menggapai sesuatu yang memberimu manfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu merasa lemah. Apabila sesuatu (yang tidak menyenangkan) menimpamu, janganlah kamu mengatakan ‘seandainya tadi aku berbuat demikian, niscaya (hasilnya) adalah demikian dan demikian…’, akan tetapi ucapkanlah ‘semuanya telah ditakdirkan oleh Allah, dan setiap yang dikehendaki Allah pasti akan terlaksana’. Hal ini karena (kalimat) ‘seandainya’ membuka pekerjaan syetan.”(HR. Muslim, no 4816)
Adapun sifat malas, tidak selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Hendaknya seorang muslim banyak membaca do’a yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rabbi audzubika min kasali

“Wahai Rabbku, aku berlindung kepadamu dari sifat malas.”
(HSR. Abu Dawud, no 4409)

Untuk direnungkan
Saudaraku, sesungguhnya setiap apa yang kita lakukan, pasti diketahui oleh Allah Ta’ala, Dzat Yang Maha Mengetahui…Apakah layak bagi seorang muslim tatkala melakukan perbuatan kemaksiatan, ia merasa malu dan khawatir jika diketahui oleh orang lain namun dirinya seolah-olah melupakan Allah Yang Maha Mengetahui sehingga tidak merasa malu dan khawatir kepada-Nya?

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui segala apa yang mereka sembunyikan dan yang mereka nyatakan?(Al-Baqarah:77)

Saudaraku, kadang hati ini terasa sangat berat untuk menerima kebenaran, sangat susah untuk mempelajari ilmu. Anggota badan terasa begitu mudah melakukan kemaksiatan. Demikian pula do’a terasa sangat susah untuk dikabulkan.
Pernahkah kita berfikir, barangkali hati dan anggota badan ini tumbuh dari makanan yang tidak berkah atau mengandung unsur yang haram?
Pernahkah kita berfikir, apakah ijazah dan transkip nilai yang dulu kita gunakan untuk mencari sekolah, lanjutan menuju gerbang kuliah dan mencari kerja betul-betul asli dan merupakan hasil usaha kita tanpa ada unsur kedustaan dari hasil nyontek?.. Rasullullah shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Sesungguhnya daging yang tumbuh dari usaha yang haram maka neraka lebih layak baginya.” (HR.Tirmidzi, no 558. Beliau berkata: Hadits Hasan Gharib)
Saudaraku……Setelah kita mengetahui betapa jeleknya perbuatan nyontek dan dulu kita pernah melakukannya, marilah kita tutup kejelekan tersebut dengan banyak berbuat kebajikan dan bertaubat kepada-Nya. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita…
Allah berfirman, yang artinya
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik dapat menghapuskan kejelekan-kejelekan”
(Hud: 114)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Az-Zumar: 53)

Akhirnya kita berdoa, mudah-mudahan Allah menyadarkan sebagaian kaum muslimin yang masih memiliki kebiasan nyontek, mengampuni dosa-dosa mereka dan menjadikan budaya nyontek terkubur dalam-dalam hingga tidak tercium lagi oleh kaum muslimin…..Aamiin
Catatan: Penomoran hadits didasarkan atas program Maktabah Syamilah
Diambil dari : http://alashree.wordpress.com/2010/04/08/berantas-budaya-contek/ dengan sedikit penyesuaian dari penyusun

Post Navigation