Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the category “Islam agamaku”

Menuntut Ilmu Syari’ Menggapai Karunia Ilahi

Pada kesempatan sebelumnya alhamdulillah telah kami uraikan tentang keutamaan menuntut ilmu agama. Pada kesempatan kali ini kami ingin melanjutkan terkait keutamaan ilmu agama dibandingkan harta dan keuntungan bagi orang yang giat belajar agama. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dienul islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (tafsir Ibnu Katsir 3/428)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak takut neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya.” (Shahih Jami’ Ash Shaghir)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” (HR. Muslim)

Dari hadist diatas dan juga dari dalil-dalil llainnya berikut adalah beberapa keuntungan mempelajari ilmu agama :

  1. Bahwa ilmu dien adalah warisan para Nabi, warisan yang lebih berharga dan lebih mulia dibanding segala warisan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:  “Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambilnya (warisan ilmu), sungguh ia telah mengambil keuntungan yang banyak”. (Shahihul Jami Al Albani : 6297)
  2. Ilmu itu akan kekal sekalipun pemiliknya telah mati, tetapi harta akan berpindah dan berkurang bahkan jadi rebutan bila pemiliknya telah mati. Kita pasti mengetahui Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- seorang yang diberi julukan “gudangnya periwayat hadist”. Dari segi harta, beliau tergolong kaum kaum papa (fuqoro’), hartanya pun telah sirna, tetapi ilmunya tidak pernah sirna. Kita masih tetap membacanya. Inilah buah dari Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam:
    Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shaleh” (HR. Muslim no. 1631)
  3. Ilmu, sebanyak apapun tak menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tak perlu gudang yang luas untuk menyimpannya, cukup disimpan dalam dada dan kepalanya. Ilmu akan mejaga pemiliknya sehingga memberi rasa aman dan nyaman, berbeda dengan harta yang bila semakin banyak, semakin susah menyimpannya, menjaganya, dan pasti membuat gelisah pemiliknya.
  4. Menuntut ilmu melapangkan jalan menuju surga (jannah), tiada jalan pintas menuju surga kecuali dengan ilmu.
  5. Menuntut ilmu akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan dibumi hingga ikan yang ada di air.
  6. Ilmu merupakan pertanda kebaikan seorang hamba. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :     

Siapa yang Allah kehedaki baginya kebaikan, akan dipahamkan baginya masalah dien (agama)” (HR. Bukhari)

       7.  Mendapat naungan malaikat

Maka dari itu, sungguh merugi seorang muslim yang tidak menyibukkan dirinya dengan menuntut ilmu agama. Berbagai keutamaan telah kita ketahui tapi mengapa berat sekali hati ini, diri ini untuk bergerak menuju majelis ilmu. Marilah saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala kita pacu diri ini untuk mengambil warisan para Nabi, menggapai karunia Ilahi dengan senantiasa menuntut ilmu sampai maut menjemputmu. Wallahu a’lam.

Sumber utama tulisan ini adalah :
1. artikel ‘Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu — Muslim.Or.Id
2. artikel ‘Hakikat Ilmu — Muslim.Or.Id

Keutamaan Menuntut Ilmu

“Seandainya dunia sebanding dengan satu sayap sayap lalat di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun bagi seorang kafir” (HR. At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)

Dalam hadist ini diketahui bahwa kedudukan dunia di sisi Allah demikian  rendah, sampai-sampai kalau kedudukan dunia itu sebanding dengan satu sayap lalat (dan ternyata satu sayap lalat pun tidak sampai) Allah tidak akan memberikan seteguk air bagi seorang kafir. Inilah peringatan bagi kita yang selalu sibuk dan mengerahkan upaya dengan begitu hebatnya untuk meraih kemegahan dunia. Gemerlap dunia yang menyilaukan banyak manusia yang jauh dari petunjuk Allah. Oleh karena itu, agar kita tidak terlena dengan kemilau dunia kita harus membekali diri dengan ilmu yang mengantarkan kita pada ketakwaan. Menjadi muslim yang beriman dan berilmu akan memperoleh derajat tinggi di sisi-Nya. Firman Allah ta’ala dalam surat Mujaadilah ayat 11 menyebutkan :

Mujaadilah 11

Derajat tinggi bagi orang yang beriman dan berilmu bukan beriman dan berpangkat, bukan beriman dan berharta. Derajat tinggi di sisi Allah artinya adalah banyak pahala yang dimiliki seorang hamba. Orang yang beriman dan berilmu akan banyak dikaruniai pahala karena amalannya selalu dilandasi oleh ilmu.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.

[HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]
Wajib baik muda maupun tua, kaya maupun miskin, anak-anak maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan, dokter, guru, pedagang, direktur, profesor, dll semua wajib menuntut ilmu agama.
Islam membagi ilmu berdasarkan hukumnya sebagai berikut :

Pertama: Ilmu Dien, yang terbagi menjadi:

1. Ilmu dien yang hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib dimiliki oleh setiap orang), yaitu: Ilmu tentang akidah berupa rukun iman yang enam, rukun Islam, dll. Lalu yang berkenaan dengan ibadah, seperti thaharah, shalat, shiyam, zakat dan ibadah-ibadah wajib lainnya.

2. Ilmu dien yang hukumnya Fardhu Kifayah (harus ada sebagian orang islam yang menguasai, bila tidak ada maka semua kaum muslimin di tempat itu berdosa), yaitu: ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fara’idh, ilmu bahasa, ushul fiqh, dll.

Kedua: Ilmu Duniawi, yaitu segala ilmu yang dengan ilmu tersebut tegaklah segala maslahat dunia dan kehidupan manusia, seperti : ilmu kedokteran, pertanian, ilmu teknik, matematika, perdagangan, militer, dan lain sebagainya. Menurut para ulama, hukum ilmu duniawi adalah fardhu kifayah.
Dengan demikian, Islam adalah agama ilmu, ilmu kemaslahatan hidup di dunia maupun akhirat. Namun seiring dengan pergeseran tujuan hidup manusia, motivasi menuntut ilmupun mulai bergeser. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia mulai condong kepada ilmu duniawi dan menomorduakan, bahkan melupakan ilmu dien (agama). Entah kekhawatiran apa yang membayangi manusia sehingga mereka lebih mementingkan ilmu dunia dari pada ilmu dien, padahal Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS. Ar Rum:7)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dienul Islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (tafsir Ibnu Katsir 3/428). Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka lalai dari berharap masuk surga dan lalai dari takut neraka. (bersambung insyaAllah)

Tafsir Surat Ad Dhuha ayat 2-3

(2) Dan demi malam apabila telah sunyi

Allah bersumpah demi waktu malam yang datang menjelang selepas siang. Suasana yang tenang hingga menjadi gelap gulita. Allah tetapkan malam sebagai penutup cahaya siang untuk digunakan manusia beristirahat. Sesuai dengan firman Allah ta’ala pada surat Al An’am ayat 96 yang artinya

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.”

Jadi istirahatlah di waktu malam dengan cukup agar badan kita sehat dan kuat untuk beribadah kepada Allah dan bisa ikhtiar dengan maksimal dalam mencari rezeki pada siangnya. Di waktu malam ini dianjurkan untuk melaksanakan shalat malam, shalat yang paling utama setelah shalat fardhu. Apabila belum terbiasa maka dibiasakan perlahan-lahan secara bertahap dan kontinu. Allah menyukai amalan yang sedikit tapi kontinu, tentu akan lebih baik kalau banyak dan kontinu.

(3) Rabb-mu tidak meninggalkan kamu (Muhammad) dan tiada (pula) membencimu

Surat ini diturunkan untuk mematahkan anggapan orang-orang musyrik bahwa Allah ta’ala telah meninggalkan nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam disebabkan Nabi tidak bangun (untuk shalat malam) selama satu atau dua malam. Dalam riwayat yang lain dari al-Aswad bin Qais, ia mendengar Jundub berkata, “Jibril terlambat membawa wahyu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, maka orang-orang musyrik berkata, ‘Muhammad telah ditinggalkan oleh Rabb-nya.’ Lalu Allah ta’ala menurunkan ayat,”Demi waktu dhuha. Dan demi malam apabila telah sunyi. Rabb-mu tidak meninggalkan kamu (Muhammad) dan tiada (pula) membencimu.” {Ath Thabari(XXIV/486)}

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wassalam adalah makhluk yang paling dicintai Allah ta’ala. Karena itu Allah memilihnya untuk mengemban risalah terbesar, untuk memimpin umat termulia dan yang tidak kalah penting Allah jadikan beliau shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai penutup para nabi dan rasul, tidak ada nabi dan rasul lagi setelahnya. Bahkan Allah selalu memantau, mengawasi, memelihara dan menjaganya dan Allah telah berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam firmanNya

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy Syu’ara : 218-219)

Hikmah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam tidak bangun shalat malam dalam beberapa waktu menunjukkan bahwa shalat malam hukumnya tidak wajib dan menunjukkan bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wassalam adalah manusia yang bisa lupa, sakit, lapar, terluka dan perkara-perkara lain yang menimpa manusia pada umumnya. Lewat jalan seperti ini Allah memberikan contoh yang sempurna kepada manusia dalam menjalani hidupnya dan lewat ayat ini Allah menegaskan bahwa tidak mungkin Allah meninggalkan manusia pilihanNya.

Tafsir Surat Ad Dhuha ayat 1

(1) Demi waktu matahari sepenggalahan naik

Di ayat pertama ini Allah bersumpah atas nama waktu Dhuha. Allah ta’ala boleh bersumpah dengan apa saja tetapi manusia tidak boleh. Sumpah Allah atas suatu waktu menunjukkan keutamaan waktu tersebut. Dhuha adalah waktu permulaan siang saat muncul cahaya yang terang sampai beberapa saat sebelum matahari tepat diatas kepala kita. Dalam keseharian kita waktu dhuha ini beberapa saat setelah matahari terbit, kira-kira 15 menit setelah terbit. Di waktu ini Allah memberikan barokahnya bagi orang-orang yang mau berusaha. Seperti telah dimaklumi bahwa rezeki ada di pagi hari, nah pagi hari disini yang dimaksud bukan selepas subuh langsung mengais rezeki akan tetapi saat matahari telah terbit atau saat dhuha ini. Selepas subuh sebaiknya digunakan untuk berdzikir. Dzikir bukan hanya melafalkan subhanallah, alhamdulillah dan kalimat2 mulia lainnya, termasuk dzikir adalah membaca Al Quran, mendengarkan ceramah pengajian atau murotal, membaca buku agama, menghafal Al Quran atau hadist, dan banyak lagi. Waktu dhuha atau siang Allah tetapkan untuk mencari rezeki bukan untuk sebaliknya. Jadi sudah diatur bahwa waktu istirahat itu malam hari bukan waktu dhuha atau habis subuh tidur lagi. Memang banyak dirasakan begitu, bahwa kualitas istirahat malam dengan siang walau durasinya sama tetapi efeknya berbeda. Lebih berasa kalau tidur malam dengan cukup daripada hibernasi siang hari. Hal ini jadi peringatan bagi kita bahwa begadang itu ga baik dan harus lebih berusaha lagi tidur lebih cepat karena begitulah kebiasaan orang-orang shalih terdahulu, tidur cepat lantas bangun di sepertiga malam terkahir untuk menghadapkan wajah kepada Rabbnya. InsyaAllah berlanjut

Disarikan dari tafsir Ibnu katsir dan tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin dengan penyesuaian dari penyusun.

Puasa ‘Asyura dan Tasu’a bertepatan dengan hari Jumat dan Sabtu

Bulan Muharram, bulan yang dimuliakan Allah sudah menghampiri kita. Bulan tersebut di sebagian kalangan dikenal dengan bulan Suro dan identik dengan hal-hal seram dan sial sehingga hajatan-hajatan tidak boleh dilaksanakan pada bulan ini. Padahal Islam tidak menganggap demikian. Di bulan ini adalah kesempatan untuk beramal shalih, terutama puasa, lebih utama lagi jika mendapati hari ‘Asyura (10 Muharram). Pada bulan ini dianjurkan untuk berpuasa karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita melakukan puasa pada bulan Muharram sebagaimana sabdanya, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah(Muharram). Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 67)

Keutamaan Puasa ‘Asyura
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”(HR. Muslim no. 1162).

Menambah Puasa Tasu’a (9 Muharram) untuk menyelisihi Yahudi
Disunnahkan melaksanakan puasa Tasu’a (9 Muharram) dalam rangka menyelisihi Yahudi. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.

Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)

Tanggal 9 Muharram bertepatan dengan hari Jumat

Pada tahun ini tanggal 9 Muharram bertepatan dengan hari Jumat, 23 November 2012. Terdapat larangan mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat dan siang harinya dengan berpuasa. Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat tertentu dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa kecuali jika berpapasan dengan puasa yang mesti dikerjakan ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144)

Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan dalil yang tegas dari pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah dan yang sependapat dengan mereka mengenai dimakruhkannya mengerjakan puasa secara bersendirian pada hari Jum’at. Hal ini dikecualikan jika puasa tersebut adalah puasa yang berpapasan dengan kebiasaannya (seperti berpapasan dengan puasa Daud, puasa Arofah atau puasa sunnah lainnya), ia berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya, berpapasan dengan puasa nadzarnya seperti ia bernadzar meminta kesembuhan dari penyakitnya. Maka pengecualian puasa ini tidak mengapa jika bertepatan dengan hari Jum’at dengan alasan hadits ini.”

Tanggal 10 Muharram bertepatan dengan hari Sabtu
Begitu juga tanggal 10 Muharram tahun ini bertepatan dengan hari Sabtu, 24 November 2012 dan ada sebuah hadits yang melarang berpuasa pada hari Sabtu,

Janganlah engkau berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan bagi kalian.

( HR. Abu Daud no. 2421, At Tirmidzi no. 744, Ibnu Majah no. 1726. Syaikh Al Albani men-shahih-kan hadist ini). Adapun penjelasan dari larangan berpuasa pada hari Sabtu adalah sebagai berikut :

Pertama: Puasa pada hari Sabtu dihukumi wajib seperti berpuasa pada hari Sabtu di bulan Ramadhan, mengqadha’ puasa pada hari Sabtu, membayar kafarah (tebusan), atau mengganti hadyu tamattu’ dan semacamnya. Puasa seperti ini tidaklah mengapa selama tidak meyakini adanya keistimewaan berpuasa pada hari tersebut.

Kedua: Jika berpuasa pada hari Sabtu diikuti dengan berpuasa sehari sebelum hari Sabtu, maka ini tidaklah mengapa.

Ketiga: Berpuasa pada hari Sabtu karena hari tersebut adalah hari yang disyari’atkan untuk berpuasa. Seperti berpuasa pada ayyamul bid (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), berpuasa pada hari Arafah, berpuasa ‘Asyura (10 Muharram), berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan, dan berpuasa selama sembilan hari di bulan Dzulhijah. Ini semua dibolehkan. Alasannya, karena puasa yang dilakukan bukanlah diniatkan berpuasa pada hari Sabtu. Namun puasa yang dilakukan diniatkan karena pada hari tersebut adalah hari disyari’atkan untuk berpuasa.

Keempat: Berpuasa pada hari sabtu karena berpuasa ketika itu bertepatan dengan kebiasaan puasa yang dilakukan, semacam berpapasan dengan puasa Daud –sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa-, lalu ternyata bertemu dengan hari Sabtu, maka itu tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan dan tidak terlarang berpuasa ketika itu jika memang bertepatan dengan kebiasaan berpuasanya.

Demikian penjelasan singkat mengenai puasa di bulan Muharram khususnya puasa ‘Asyura dan Tasu’a. Semoga Allah mudahkan kita untuk melaksanakannya. Wallahu a’lam

(Sumber utama : http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/4136-anjuran-puasa-muharram.html dengan penyesuaian dari penyusun)

Mengubur Budaya Menyontek (2)

Teruntuk saudara-saudaraku khususnya para mahasiswa yang sedang menghadapi ujian. Semoga sedikit uraian tentang menyontek bisa mengokohkan kita sebagai penuntut ilmu untuk senantiasa berlaku jujur karena menyontek dapat dikategorikan sebagai persaksian palsu yang termasuk kedalam dosa besar. Berprestasilah dengan jujur jika tak mampu berlaku jujurlah betapapun anda harus mengulang suatu mata kuliah karena menyontek berarti telah menodai diri sendiri, melukai orang-orang yang berlaku jujur juga para pemerhati pendidikan. Berikut beberapa ulasan lanjutan tentang menyontek  :

Jangan hancurkan harga dirimu!

Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda

Sesungguhnya kejujuran adalah sebuah kebajikan, sedangkan kebajikan akan menuntun seseorang menuju surga. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk jujur sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Adapun sesungguhnya kedustaan adalah sebuah kekejian, sedangkan kekejian akan menuntun seseorang menuju neraka. Sesungguhnya seorang hamba bermaksud untuk dusta sampai ia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no 4720).

Maukah kita dicap oleh Allah sebagai seorang pendusta hanya gara-gara kita membiasakan diri untuk menyontek ketika ujian? Sungguh betapa buruk gelar sebagai seorang pendusta! Apabila seseorang pernah tertangkap basah menyontek, mungkin orang-orang disekitarnya akan menjadi ragu tentang kejujuran dirinya. Gerak-geriknya menjadi selalu diawasi karena khawatir ia akan melakukan sebuah kecurangan. Orang bertipe penyontek akan selalu berusaha mencari-cari kesempatan untuk berbuat curang demi keuntungan pribadinya.

Jangan lemah, berusaha dan mintalah pertolongan kepada Allah

Banyak faktor yang mendorong seseorang untuk nyontek, beberapa diantaranya adalah malas belajar, belum siap menghadapi ujian, ingin mendapatkan nilai yang tinggi dengan cara yang instan, ketakutan yang berlebihan jika gagal ujian, kurang pe-de dengan kemampuan diri sendiri dan lain-lain.

Seorang muslim tatkala ia berusaha untuk menggapai sesuatu yang diinginkannya hendaklah ia selalu memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan urusannya serta mendapatkan keberkahan dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Bersemangatlah dalam menggapai sesuatu yang memberimu manfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu merasa lemah. Apabila sesuatu (yang tidak menyenangkan) menimpamu, janganlah kamu mengatakan ‘seandainya tadi aku berbuat demikian, niscaya (hasilnya) adalah demikian dan demikian…’, akan tetapi ucapkanlah ‘semuanya telah ditakdirkan oleh Allah, dan setiap yang dikehendaki Allah pasti akan terlaksana’. Hal ini karena (kalimat) ‘seandainya’ membuka pekerjaan syetan.”(HR. Muslim, no 4816)
Adapun sifat malas, tidak selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Hendaknya seorang muslim banyak membaca do’a yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rabbi audzubika min kasali

“Wahai Rabbku, aku berlindung kepadamu dari sifat malas.”
(HSR. Abu Dawud, no 4409)

Untuk direnungkan
Saudaraku, sesungguhnya setiap apa yang kita lakukan, pasti diketahui oleh Allah Ta’ala, Dzat Yang Maha Mengetahui…Apakah layak bagi seorang muslim tatkala melakukan perbuatan kemaksiatan, ia merasa malu dan khawatir jika diketahui oleh orang lain namun dirinya seolah-olah melupakan Allah Yang Maha Mengetahui sehingga tidak merasa malu dan khawatir kepada-Nya?

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui segala apa yang mereka sembunyikan dan yang mereka nyatakan?(Al-Baqarah:77)

Saudaraku, kadang hati ini terasa sangat berat untuk menerima kebenaran, sangat susah untuk mempelajari ilmu. Anggota badan terasa begitu mudah melakukan kemaksiatan. Demikian pula do’a terasa sangat susah untuk dikabulkan.
Pernahkah kita berfikir, barangkali hati dan anggota badan ini tumbuh dari makanan yang tidak berkah atau mengandung unsur yang haram?
Pernahkah kita berfikir, apakah ijazah dan transkip nilai yang dulu kita gunakan untuk mencari sekolah, lanjutan menuju gerbang kuliah dan mencari kerja betul-betul asli dan merupakan hasil usaha kita tanpa ada unsur kedustaan dari hasil nyontek?.. Rasullullah shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Sesungguhnya daging yang tumbuh dari usaha yang haram maka neraka lebih layak baginya.” (HR.Tirmidzi, no 558. Beliau berkata: Hadits Hasan Gharib)
Saudaraku……Setelah kita mengetahui betapa jeleknya perbuatan nyontek dan dulu kita pernah melakukannya, marilah kita tutup kejelekan tersebut dengan banyak berbuat kebajikan dan bertaubat kepada-Nya. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita…
Allah berfirman, yang artinya
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik dapat menghapuskan kejelekan-kejelekan”
(Hud: 114)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Az-Zumar: 53)

Akhirnya kita berdoa, mudah-mudahan Allah menyadarkan sebagaian kaum muslimin yang masih memiliki kebiasan nyontek, mengampuni dosa-dosa mereka dan menjadikan budaya nyontek terkubur dalam-dalam hingga tidak tercium lagi oleh kaum muslimin…..Aamiin
Catatan: Penomoran hadits didasarkan atas program Maktabah Syamilah
Diambil dari : http://alashree.wordpress.com/2010/04/08/berantas-budaya-contek/ dengan sedikit penyesuaian dari penyusun

Mengubur Budaya Menyontek (1)

Takut menghadapi ujian mungkin merupakan sesuatu yang wajar, akan tetapi jika ketakutan tersebut mengantarkan seseorang menjadi nyontek ketika ujian, itu baru tidak wajar. Suka atau tidak suka budaya menyontek telah “dipelihara dan dilestarikan” dengan congkaknya oleh para peserta didik dari berbagai tingkat lembaga pendidikan, mulai dari tingkat sekolahan sampai perkuliahan. Hal tersebut diperparah karena yang melakukannya sebagian besar adalah umat muslim yang memiliki agama yang hanif (lurus) dan sempurna petunjuknya. Islam telah mengatur segala hal terkait kehidupan manusia, bahkan untuk urusan buang hajat saja diatur dengan pengaturan yang jelas apalagi masalah menyontek yang bisa dikategorikan sebagai persaksian palsu karena kita mengingkari apa yang telah kita sepakati di lembar depan lembar jawaban kita sendiri (saya bersedia dihukum bila kedapatan menyontek atau yang semisal dengan pernyataan ini).

Apa itu nyontek?

Nyontek adalah membawa catatan khusus untuk dapat disalin ketika ujian atau meniru pekerjaan orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan (curang). Tindakan nyontek hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah imannya, yang dirinya lupa bahwa Allah ta’ala selalu mengawasinya.
.
Apakah nyontek itu dosa?
Ketika seseorang berniat untuk menyontek, tentu ia akan mencari cara bagaimana agar tidak ketahuan oleh pengawas ujian. Saat posisi dan waktu telah dirasa aman, mulailah peserta didik (siswa, mahasiswa dan yang semacamnya) melakukan aksinya yaitu “menyontek” dengan perasaan dag dig dug takut kalau-kalau aksinya ketahuan oleh pengawas. Sungguh apa yang telah dilakukan oleh peserta didik tadi sangat sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kebajikan adalah bagusnya akhlak, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu dan kamu tidak suka apabila hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR.Muslim, no 4633)

Nyontek itu sepele?
Kalaulah kita terima pendapat ini yaitu bahwa nyontek merupakan perbuatan yang sepele dan hanya merupakan dosa kecil, maka alangkah indahnya perkataan Ibnul Mu’taz

Tinggalkanlah dosa baik yang kecil ataupun yang besar, maka itulah takwa… Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah yang berduri, tentu ia akan berhati-hati dari apa yang dilihatnya… Janganlah engkau meremehkan dosa-dosa kecil, karena gunungpun adalah dari kerikil…” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal 212. Cet Darul Aqidah)

Namun, jika kita cermati lebih dalam tentang perkara nyontek ini, ternyata nyontek adalah sebuah perkara yang sangat mengerikan dan dianggap besar di dalam Islam. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang berbuat curang, maka ia bukan termasuk golongan kita (HR. Muslim, no 146)

Selanjutnya marilah kita dengar cerita yang disampaikan oleh salah seorang sahabat Nabi yang mulia, Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan
Suatu ketika kami berada di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda,

“Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar?”-beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali-. “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan bersaksi palsu atau berkata dusta.” Saat itu beliau bersandar kemudian beliau duduk. Beliau masih saja mengulang-ulang sabdanya sampai-sampai kami berkata kalau seandainya beliau diam. (HR. Muslim no. 126)

Dapat kita katakan bahwa nyontek termasuk salah satu perbuatan memberikan persaksian palsu. Bukankah orang yang nyontek sebenarnya tidak bisa menjawab soal-soal ujian? Bukankah nilai hasil ujian yang bagus sebetulnya tidak bisa diraih seandainya ia tidak nyontek? Bukankah ini berarti nilai-nilai yang ada di raport/transkip adalah nilai-nilai yang palsu? Sungguh hal yang memilukan bila ia hendak menjadikan bangga orang tua dengan raport/transkip palsunya dan sungguh ia telah memberikan kesaksian palsu kepada manusia yang membaca raport/transkip nilainya! Adakah demikian seorang muslim…

Catatan: Penomoran hadits didasarkan atas program Maktabah Syamilah

Diambil dari : http://alashree.wordpress.com/2010/04/08/berantas-budaya-contek/ dengan sedikit penyesuaian dari penyusun

Bersemilah Ramadhan (4) – Menjemput Malam Kemuliaan

Tanda Malam Lailatul Qadr

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Lailatul qadr adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Shubuh hari dari malam lailatul qadr matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim no. 1174) (Lihat pembahasan di Shahih Fiqih Sunnah, 2/149-150, Abu Malik, Maktabah At Taufiqiyyah)

Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadr?

Lailatul qadr adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadr, maka dia telah terluput dari banyak kebaikan. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.”

(HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya kita mencontoh Nabi yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Harusnya setiap muslim memperbanyak ibadahnya, menjauhi istri-istrinya dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan,
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’ – Lihat tafsiran ini di Latho-if Al Ma’arif, hal. 332), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadr adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam, Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah (Lihat Latho-if Al Ma’arif,hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadr pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits,

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Lantas muncul pertanyaan : Bagaimana Wanita bila sedang Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadr?
Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadr?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadr. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya.

Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah:
1. Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf. (Dalam at Tamhid (17/397, Syamilah), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqih dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya)

2. Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya.

3. Memperbanyak istighfar.

4. Memperbanyak do’a.

(Diambil dari http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html dengan sedikit penyeseuaian dari penyusun)

Bersemilah Ramadhan (3) – Bersiap menjemput malam kemuliaan

Malam lailatul qadr begitulah banyak dari kita mengenalnya akan tetapi sungguh masih sedikit dari kaum muslimin yang merindukan mendapatkan keutamaannya. Banyak penyebabnya salah satunya adalah silau oleh kemilaunya kehidupan dunia dan lalai mempersiapkan bekal menuju akherat. Lailatul qadar adalah malam kemuliaan, malam yang penuh sesak karena ketika pada saat itu banyak malaikat turun ke dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam penetapan takdir. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia (Periksa Zaadul Maysir, 6/177, Ibnul Jauziy, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah).

Adapun keutamaan lailatul qadar adalah:

Pertama, lailatul qadr adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS. Ad Dukhan: 3-4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadr sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5).

Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadr dengan jumlah tak terhingga (Periksa Zaadul Maysir, 6/179). Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar (-idem-, 6/180).

Kedua, lailatul qadr lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, 1428 H). Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadr (Periksa Zaadul Maysir, 6/179).

Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Kapan Lailatul Qadr Terjadi?

Lailatul Qadr itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadr terjadi? Imam Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadr itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Lihat Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadr adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadr sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.

Do’a di Malam Lailatul Qadr

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadr, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab,”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah“Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25)

(Diambil dari http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html dengan sedikit penyesuaian dari penyusun)

Balada Orang-Orang Terluka (2)

Setelah menjadi ulama militer Yee menjalankan tugasnya di penjara dengan tingkat keamanan tertinggi di dunia yaitu penjara Guantanamo atau Gitmo. Disana Yee melayani para tawanan dalam urusan ke-Islaman, para tawanan yang dituduh teroris oleh pemerintah Amerika setelah peristiwa 11 September. Amerika yang memang terkenal sebagai negara dengan tingkat kebebasan tinggi ternyata tidak memberikan hak kebebasan untuk para tawanan yang belum terbukti ikut andil dalam peristiwa memilukan 11 September. Para tawanan nyata-nyata sangat kesulitan untuk menjalankan ajaran Islam yang mereka yakini. Bahkan dalam sekuel interogasi beberapa kali Al Quran yang merupakan kitab suci dihinakan oleh orang-orang yang menginterogasi tawanan, hanya karena sebagian besar tawanan berkata jujur. Hal ini belum ditambah pemeriksaan tawanan dalam keadaan telanjang setiap hari. Umat muslim terlarang memperlihatkan auratnya kepada orang lain dan ini merupakan bentuk penjagaan kehormatan diri seorang muslim, tapi mereka tetap tidak mau mengerti. Singkat cerita Yee terus melayani para tawanan dengan tetap mengikuti prosedur Guantanamo yang ketat.

Tibalah saatnya buat Yee pulang dari Guantanamo menemui keluarganya di Seattle. Bisa dibayangkan betapa bahagianya seorang prajurit yang akan pulang dari penugasan untuk bertemu dengan belahan jiwanya dan anak-anak yang sangat dicintainya. Begitu pula kebahagiaan dari sisi sang istri dan anak-anak, benar-benar membuncah akibat kerinduan yang mendalam terhadap Yee. Tapi apa mau dikata kerinduan mendalam dari kedua belah pihak setelah setahun tidak bertemu harus dikubur dalam-dalam karena dalam perjalanan pulang dari Gitmo Yee sudah dituduh sebagai bagian dari teroris padahal Yee adalah prajurit mereka dan tanpa ragu hari itu mereka menuduh Yee berkhianat tanpa bukti yang kuat. Akhirnya Yee ditangkap setelah melalui proses panjang di Pangkalan Udara angkatan laut Jacksonville, Florida. Istri dan anak-anaknya pun meradang sambil menerka-nerka apa yang terjadi pada Yee karena sudah berjam-jam lamanya menanti sang suami di bandara Tacoma, Seattle tapi Yee tidak menampakkan batang hidungnya juga.

Singkatnya perlakuan terhadap dirinya pun tak main-main, keamanan level satu pernah dirasakan Yee, sehingga pernah suatu ketika dia sebulan penuh tak melihat sang surya dan hanya keluar masuk kamar mandi dengan kondisi tangan diborgol dan kaki dirantai. Yee kembali ke Gitmo tapi dengan status yang berbeda. Kembali ke lingkungan yang tak asing baginya tapi suasananya berbeda, kalau dulu Yee hanya mendengar dan menyaksikan ketegangan, kecurigaan dan tekanan dan tentu tanpa belas kasihan maka sekarang Yee merasakannya sendiri.

Hal itu belum ditambah interogasi yang penuh intimidasi dan menguji mental dan iman karena pernah suatu kali dalam sesi interogasi, kapten James Yee ditawari untuk berzina asal dia mau mengakui apa-apa yang dituduhkan padanya. Wanita pezina sudah dihadirkan dihadapannya, tetapi berkat keimanan yang melekat kuat ia tak menggubrisnya. Tak hanya itu makanan halal pun tak tersedia sehingga makin parahlah kondisi jasmani dan psikologinya. Dalam kondisi yang demikian hanya iman yang mampu membuatnya bertahan. Asal anda tahu kapten Yee tetap shaum ramadhan dalam kondisi demikian bahkan dua kali dia khatamkan Al Quranul karim semasa bulan ramadhan. Lantas bagaimanakah dengan kita?

Adalah benar Kapten Yee dipenjara jasadnya tapi simaklah dia punya jiwa dan pikiran merdeka sehingga ketika penjara menjadi tempat tinggalnya tidak membuatnya menjual iman dan Islam dengan kebebasan semata.

Berbeda sekali dengan kebanyakan manusia yang berada bebas di alam terbuka tetapi pikiran dan jiwanya terpenjara oleh gegap gempita arus modernisasi yang tanpa sadar melepaskan umat muslim dari bingkai syar’iatnya. Semoga Allah ta’ala menjaga kita dari kelalaian atas banyak nikmat yang diberikanNya dan semoga kita dimudahkan dalam menempuh jalanNya yang lurus. Aamiin.

(Disarikan dari buku “For God and Country” karangan James Yee dan Aimee Molloy edisi terjemahan yang diterbitkan oleh Dastan Books)

Post Navigation