Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the category “Pojok Kehidupan”

Nasihat Orang Tua pada Anak versi Pak Taufiq Ismail

Berikut adalah kutipan syair dari bapak Taufiq Ismail yang beliau buat pada tahun 1965

Nasihat-Nasihat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa

Jika adalah yang harus kau lakukan ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kautumbangkan ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kau agungkan ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati ialah syahid di jalan Ilahi.

-April, 1965-

Perhatikan baik-baik syair pak Taufiq Ismail ini, syair singkat sarat makna dan mendalam karena yang dipesankan sungguh mulia dan tentu tidak mudah dijalankan pun diwujudkan pada zaman sekarang ini. Nasihat pertama terkait kebanaran yang harus senantiasa kita sampaikan dan lakukan. Tak hanya meneriakkan kebenaran tapi sepi dari pengamalan, tidak, tidak demikian adanya. Kalau boleh mengartikan bahwa pesannya adalah kita harus amar ma’ruf nahi mungkar 

juga memberi teladan dengan melakukan apa yang sudah kita katakan semaksimal mungkin yang kita bisa.

Kedua, soal keyakinan yang tidak boleh kita perjualbelikan sekalipun dengan segunung harta benda dan materi sejagat raya apalagi ditukar hanya dengan rupiah yang tidak seberapa. Tidak boleh dan sungguh dungu yang demikian.

Ketiga, terkait menumpas kedzaliman. Memberantas segala bentuk kejahatan yang memudaharatkan sesama. Pesan ini juga ga gampang karena untuk memberantas kedzaliman kita harus tahu mana kedzaliman mana bukan. Tahu dengan timbangan yang benar bukan perasaan dan sebenar-benar ukuran adalah Al Quran dan sunnah. Tak cukup sampai disitu untuk memberantasnya juga ga boleh serampangan karena memberantas kedzaliman harus dengan cara-cara yang baik bukan memberantas kedzaliman dengan cara yang dzalim. Kalau begitu kita juga pelaku kedzaliman bahkan lebih parah karena mengatasnamakan kebenaran.

Keempat, tambah jelas bahwa hanya kepada Allah dan Rasul-Nya cinta yang hakiki kita sematkan. Cinta pada Allah sebagai puncak kecintaan diatas segala-galanya diatas manusia siapapun dia, mau ibu, bapak, adik pun istri atau suami. Konsekuensi dari cinta adalah kerelaan untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan itu menempati tempat tertinggi yang punya arti bila dibenturkan dengan perintah dari siapapun itu, perintah Allah dan Rasul-Nya yang harus dikedepankan.

Kelima, nasihat paling akhir dari syair ini adalah tentang akhir kehidupan manusia yang pasti akan dialami oleh setiap yang bernafas. Tutup usia, meninggalkan alam dunia, meninggalkan ranah beramal menuju ranah pertanggungjawaban dan tiada lagi kesempatan beramal. Pilihannya tinggal dua berbahagia atau penyesalan tiada berujung karena keliru memaknai kehidupan dan salah menempatkan prioritas dalam perkataan dan perbuatan selama di alam dunia. Bercita-cita menjadi mujahid dan mati syahid di jalan Ilahi Rabbi itulah pesan yang disampaikan yang harus terbenam dalam hati setiap muslim. Mati syahid akan mengantarkan si syahid ke surga tanpa hisab dan perhitungan, langsung menuju jannah dan berkumpul dengan para syuhada. Balasan dari Allah ta’ala  bagi yang menjaga keimanan dan tauhid serta berjuang menolong agama Allah dengan dilambari keikhlasan sekalipun harus meregang nyawa di tangan musuh-musuh Allah.

Terima kasih pak Taufiq Ismail, semoga Allah balas anda dengan kebaikan yang banyak dan memberkahi hidup bapak. Jangan bosan-bosan menasihati kami yang masih muda ini lewat syair-syair bapak.

Sumber utama : http://taufiqismail.com/puisi-puisi-menjelang-tirani-dan-benteng/benteng/98-nasihat-nasihat-kecil-orang-tua-pada-anaknya-berangkat-dewasa 

Seorang Sahabat . . .

Memelihara nilai-nilai persahabatan terkadang melelahkan, menjengkelkan dan sering pula tak mengenakkan. Tetapi itulah yang membuat persahabatan menjadi indah karena bulan pun menjadi indah karena gelap malam. Yakinlah jika kita bersahabat dengan anak manusia suatu waktu akan tersaji cobaan bagi persahabatan kita. Ingat, manusia tidak ada yang sempurna. Tapi patut dicatat persahabatan sejati akan tumbuh bersama dengan kemakluman atas ketidaksempurnaan masing-masing diri.

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi berproses seperti besi menajamkan besi. Persahabatan diwarnai dengan  beragam pengalaman, baik suka maupun duka, dihibur juga pernah disakiti, diperhatikan juga dikecewakan, didengar dan diabaikan dan banyak terang-gelap lainnya yang mewarnai persahabatan. Namun patut dicatat bahwa itu semua tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan menyakiti atau benci. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan karena itu ia beranikan menegur kesalahan sahabatnya apa adanya.

Seorang sahabat juga tak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyampaikan nasihat bahkan yang amat menyakitkan sekalipun dengan tujuan sahabatnya mau berbenah. Bukan sekedar untuk menarik simpati, perhatian atau mengejar pujian karena seorang sahabat akan senantiasa memelihara persahabatannya dengan penuh kepedulian dan kesetiaan. Begitulah laku seorang sahabat

Seorang sahabat merindukan untuk selalu menjadi bagian kehiduapan sahabatnya karena ia menginginkan kebaikan-kebaikan yang dimilikinya juga dimiliki sahabatnya bahkan lebih pun dia rela. Maka jelaslah bahwa setiap orang butuh sahabat sejati, tapi sayangnya tak semua berhasil memiliki. Banyak orang menyangka telah menikmati indahnya persahabatan dan kebersamaan, tapi semua tiba-tiba hancur karena pengkhianatan. Itulah persahabatan yang tidak dibangun diatas keimanan. Rapuh dan jelas menggelisahkan. Muara persahabatan sejati haruslah ridha Ilahi Rabbi, kalau begitu muaranya maka seiring berlalunya waktu persahabatan itu akan makin mekar bukan pudar.

Kalau kita temukan sahabat itu satu jenis dengan kita maka jagalah, peluk eratlah, hargailah dan teruslah pelihara. Namun jika ia lawan jenis dan kita pun belum halal baginya maka percayalah kebersamaan yang demikian tak akan menenangkan karena laknat Allah bersama dengan kebersamaan kita dengannya. Bersabarlah, kuatlah untuk bisa menjauh, untuk bisa berhenti sejenak, untuk bisa mundur dari keinginan bermesra-mesraan sampai waktu itu tiba.

Ingatlah sahabat, bahwa menjauh itu bukan berarti melupakan, berhenti sejenak bukan berarti tidak meneruskan perjalanan dan mundur bukan berarti meninggalkan.

Menjelang Maghrib

Rabu, 8 Dzulhijah 1433 H

Kota Kembang

Menulislah…

Ya menulislah begitu kira-kira salah satu pesan ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah (penulis di muslim.or.id dan rumaysho.com) dalam acara sharing-sharing ringan kemarin malam. Membiasakan menulis itu tidak mudah dan sering dianggap ga perlu. Padahal kalau kita (semua pasti) meninggal dunia nanti, orang bisa tahu pemikiran dan bisa mengambil pelajaran berharga dari hidup kita ya dari karya-karya kita salah satu karya yang modalnya sederhana ya tulisan.

Ilmu (apapun) akan semakin melekat dengan kita menuliskannya. Manusia tempat lupa dan lalai dan dengan menuliskannya ilmu-ilmu bisa digali kembali kalau kita lupa atau kalau kita membaca ulang ilmu yang kita tuliskan insyaAllah pemahaman kita semakin mendalam. Dengan adanya tulisan juga akan membuat hal-hal penting dalam hidup kita terdokumentasikan dengan baik dan suatu saat nanti kita pasti akan merasakan buah dari tulisan kita. Paling penting dari manfaat menulis adalah minimal-minimalnya kita bisa mengambil hikmah dan manfaat sebesar-besarnya dari kehidupan kita sendiri dan mempermudah kita untuk berusaha menjadi semakin baik di masa yang akan datang dan berusaha meninggalkan kesalahan yang dulu pernah diperbuat sehingga tidak melakukannya lagi di kemudian hari. Tidak jatuh pada lubang yang sama dua kali atau lebih, begitulah salah satu pelajaran berharga kalau kita mau menulis.

Menulislah selagi kita masih mampu dan tularkan kebaikan-kebaikan dengan tulisan-tulisan kita. Tulisan hanya satu dari sekian banyak media untuk belajar dan memberi pelajaran. Tak ada salahnya anda mencoba menuliskan pelajaran-pelajaran penting dalam hidup anda terlebih lagi kalau yang anda tulis adalah ilmu agama yang akan merupakan bekal utama dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Menulislah karena itu mudah hanya perlu pembiasaan. Selamat menulis…

Balada Orang-Orang Terluka (2)

Setelah menjadi ulama militer Yee menjalankan tugasnya di penjara dengan tingkat keamanan tertinggi di dunia yaitu penjara Guantanamo atau Gitmo. Disana Yee melayani para tawanan dalam urusan ke-Islaman, para tawanan yang dituduh teroris oleh pemerintah Amerika setelah peristiwa 11 September. Amerika yang memang terkenal sebagai negara dengan tingkat kebebasan tinggi ternyata tidak memberikan hak kebebasan untuk para tawanan yang belum terbukti ikut andil dalam peristiwa memilukan 11 September. Para tawanan nyata-nyata sangat kesulitan untuk menjalankan ajaran Islam yang mereka yakini. Bahkan dalam sekuel interogasi beberapa kali Al Quran yang merupakan kitab suci dihinakan oleh orang-orang yang menginterogasi tawanan, hanya karena sebagian besar tawanan berkata jujur. Hal ini belum ditambah pemeriksaan tawanan dalam keadaan telanjang setiap hari. Umat muslim terlarang memperlihatkan auratnya kepada orang lain dan ini merupakan bentuk penjagaan kehormatan diri seorang muslim, tapi mereka tetap tidak mau mengerti. Singkat cerita Yee terus melayani para tawanan dengan tetap mengikuti prosedur Guantanamo yang ketat.

Tibalah saatnya buat Yee pulang dari Guantanamo menemui keluarganya di Seattle. Bisa dibayangkan betapa bahagianya seorang prajurit yang akan pulang dari penugasan untuk bertemu dengan belahan jiwanya dan anak-anak yang sangat dicintainya. Begitu pula kebahagiaan dari sisi sang istri dan anak-anak, benar-benar membuncah akibat kerinduan yang mendalam terhadap Yee. Tapi apa mau dikata kerinduan mendalam dari kedua belah pihak setelah setahun tidak bertemu harus dikubur dalam-dalam karena dalam perjalanan pulang dari Gitmo Yee sudah dituduh sebagai bagian dari teroris padahal Yee adalah prajurit mereka dan tanpa ragu hari itu mereka menuduh Yee berkhianat tanpa bukti yang kuat. Akhirnya Yee ditangkap setelah melalui proses panjang di Pangkalan Udara angkatan laut Jacksonville, Florida. Istri dan anak-anaknya pun meradang sambil menerka-nerka apa yang terjadi pada Yee karena sudah berjam-jam lamanya menanti sang suami di bandara Tacoma, Seattle tapi Yee tidak menampakkan batang hidungnya juga.

Singkatnya perlakuan terhadap dirinya pun tak main-main, keamanan level satu pernah dirasakan Yee, sehingga pernah suatu ketika dia sebulan penuh tak melihat sang surya dan hanya keluar masuk kamar mandi dengan kondisi tangan diborgol dan kaki dirantai. Yee kembali ke Gitmo tapi dengan status yang berbeda. Kembali ke lingkungan yang tak asing baginya tapi suasananya berbeda, kalau dulu Yee hanya mendengar dan menyaksikan ketegangan, kecurigaan dan tekanan dan tentu tanpa belas kasihan maka sekarang Yee merasakannya sendiri.

Hal itu belum ditambah interogasi yang penuh intimidasi dan menguji mental dan iman karena pernah suatu kali dalam sesi interogasi, kapten James Yee ditawari untuk berzina asal dia mau mengakui apa-apa yang dituduhkan padanya. Wanita pezina sudah dihadirkan dihadapannya, tetapi berkat keimanan yang melekat kuat ia tak menggubrisnya. Tak hanya itu makanan halal pun tak tersedia sehingga makin parahlah kondisi jasmani dan psikologinya. Dalam kondisi yang demikian hanya iman yang mampu membuatnya bertahan. Asal anda tahu kapten Yee tetap shaum ramadhan dalam kondisi demikian bahkan dua kali dia khatamkan Al Quranul karim semasa bulan ramadhan. Lantas bagaimanakah dengan kita?

Adalah benar Kapten Yee dipenjara jasadnya tapi simaklah dia punya jiwa dan pikiran merdeka sehingga ketika penjara menjadi tempat tinggalnya tidak membuatnya menjual iman dan Islam dengan kebebasan semata.

Berbeda sekali dengan kebanyakan manusia yang berada bebas di alam terbuka tetapi pikiran dan jiwanya terpenjara oleh gegap gempita arus modernisasi yang tanpa sadar melepaskan umat muslim dari bingkai syar’iatnya. Semoga Allah ta’ala menjaga kita dari kelalaian atas banyak nikmat yang diberikanNya dan semoga kita dimudahkan dalam menempuh jalanNya yang lurus. Aamiin.

(Disarikan dari buku “For God and Country” karangan James Yee dan Aimee Molloy edisi terjemahan yang diterbitkan oleh Dastan Books)

Balada orang-orang terluka (1)

Adalah kapten James Yee yang merupakan warga negara Amerika tulen dan bahkan seorang prajurit lulusan akademi militer terbaik Amerika, West Point, dituduh sebagai mata-mata dan dimasukkan namanya menjadi anggota jaringan terorisme dunia. Padahal dia terang-terangan prajurit yang setia pada konstitusi negaranya. Berbulan-bulan dipenjara tanpa tuduhan yang jelas ditambah istrinya difitnah dengan dugaan sang suami (Yee) selingkuh dengan bukti yang penuh rekayasa dan bualan semata. Kapten James Yee adalah warga keturunan China yang moyangnya pada tahun 1920-an hijrah ke negeri paman Sam untuk mencari peruntungan hidup yang lebih baik. Seperti lazimnya etnis Tionghoa yang menyebar ke seluruh penjuru dunia dan sudah menjadi ciri khas mereka adalah keteguhan mereka dalam berjuang.

Kapten Yee tidak mahir bahasa China sama sekali karena memang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan yang berbahasa Inggris dan bergabung dalam sekolah umum yang berisi warga Amerika dari berbagai etnis. Bahkan kedua orang tuanya besar di Amerika, juga tidak mahir bahasa China karena sebagai generasi ketiga sejarah perjalanan moyang mereka sampai di Amerika sekarang ini tinggal kepingan-kepingan kecil saja, yang sering jadi bahan pembicaraan saat kumpul keluarga besar mereka. Jadi secara garis keturunan dia adalah seorang warga Amerika sejati. Kapten Yee juga bukan pemeluk Islam semenjak lahirnya, beliau memeluk ajaran Kristen Lutheran semenjak kecil hingga umur dua puluh tiga tahun, pada usia dua puluh tiga ini Allah limpahkan hidayah kepadanya untuk memeluk Islam.

Kapten Yee memeluk Islam satu tahun selepas lulus dari West Point (tahun 1991) dan keluarganya yang masih memeluk Kristen Lutheran mendukung penuh apa yang dia lakukan. Beberapa saat setelah memeluk Islam kapten Yee merasa pengetahuannya tentang Islam sangat sedikit sehingga tanpa ragu ia membeli satu set kitab hadist Sahih Muslim untuk ia dalami. Setelah itu ia ditugaskan ke Jerman selama lima bulan. Selepas dari Jerman ia ditugaskan di Arab Saudi sebagai Komandan Peleton Markas Besar yang mengepalai sekitar tiga puluh lima prajurit. Kapten Yee bertugas mengawasi keamanan lokasi markas sistem rudal Patriot yang berharga jutaan dolar AS yang terletak di Pangkalan Udara King Abdul Aziz. Pada saat itu sedang berlangsung perang teluk dan pasukan Amerika terlibat aktif di dalamnya. Dalam penugasaan di Saudi ini ia mendapat karunia besar untuk mengunjungi Makkah Al Mukaramah beserta prajurit muslim lainnya yang dibiayai penuh oleh Kerajaan Saudi. Makin suburlah iman yang berada di hati Kapten Yee karena kunjungannya ke rumah Allah ta’ala yang sangat menakjubkan, membuka wawasannya betapa beragam perbedaan bisa bersatu dalam satu ikatan yaitu Islam.

Pada tahun 1993 kapten Yee memutuskan untuk menjadi ulama militer bagi prajurit Islam Amerika. Pada saat itu usianya baru 25 tahun dan ia meminta untuk keluar dari dinas aktif sebagai parjurit dan ingin menjadi ulama militer saja. Selepas pengunduran dirinya ia melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang kelima sekaligus penegasan atas keyakinan yang dipeluknya. Karena ingin menjadi ulama militer maka dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang Islam. Selepas haji yang kedua ketika ia berumur 26 tahun kapten Yee mengikuti seleksi masuk Universitas Islam Madinah, tetapi ia gagal masuk karena usianya sudah melewati batas yang ditentukan. Setelah itu ia melamar ke Universitas Abu Noor di Damaskus, Suriah dan ia diterima sebagai pelajar disitu. Selama 2 tahun pertama kapten Yee memperdalam bahasa Arab dan memperbaiki bacaan Al Quran serta memperbanyak hafalannya karena program yang ia ikuti hanya ada dalam bahasa pengantar bahasa Arab. Setelah itu selama 4 tahun kapten Yee menyelesaikan programnya di Universitas Abu Noor. Pada tahun 1998 ia menikah dengan seorang muslimah Suriah yang bernama Huda. Hingga pada tahun 2001 kapten Yee berhasil menjadi ulama militer dan membawa Huda ke Amerika Serikat.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah ta’ala sungguh menakjubkan semangat para mualaf dalam mendalami Islam, bandingkan dengan kita yang sudah memeluk Islam semenjak lahir hingga sekarang. Sudahkah menggali makna dan hikmah yang terkandung dalam Al Quran? Sudah berapa banyak hafalan ayat-ayat Al Quran yang ada di kepala kita? Terus sudahkah kita berupaya untuk belajar bahasa Arab yang merupakan bahasa Al Quran dan hadist? Atau sudahkah kita membaca kitab-kitab para ulama semisal sahih Muslim, Riyadus Salihin, Bulughul Maram, dll? Sepenggal kisah ini menuturkan bahwa perjuangan menuntut ilmu itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan waktunya tidak sebentar. So, buang jauh-jauh rasa malas menuntut ilmu agama dan semoga Allah mudahkan kita untuk memahami & mengamalkannya. InsyaAllah kisah ini berlanjut . . .

Sumber : Buku For God and Country

Gigihlah

Gigih

Gigih,

Bukan tak pernah mengenal pahit

Bukan tak pernah mengenal sakit

Bukan tak pernah morat-marit

Tapi gigih selalu berusaha sembuh dari sakit

Kembali bangkit dari morat-marit

Dan selalu memusatkan upaya untuk mengubah si pahit

Gigih, punya kawan

Namanya payah bin lelah

Pun ada yang bernama perih dan letih

Bahkan konon tetangganya ada yang bernama menyerah

Tatkala payah bin lelah menggoda

Dia lawan sang kawan dengan perkasa

Dan tatkala perih merona

Dia obati dengan sabar sepenuh jiwa

Yang menariknya tatkala letih mengajak bersua

Dia tak mau sedikit pun ikut bercengkerama

Bahkan ketika si menyerah tak jemu-jemu menyapa

Dia tak sungkan menghempaskan si tetangga

Untukmu yang sedang berselimut duka

Untukmu yang sedang bermendung lara

Untukmu yang sedang kalah dalam urusan dunia

Gigihlah dan jangan menyerah

Karena Allah senantiasa bersama kita

Sajak sederhana ini dibuat tatkala mencari kembali inspirasi yang sempat hilang ditelan rasa kecewa karena sederet keadaan tidak mengenakkan belakangan ini. Sajak ini terinspirasi kisah mereka-mereka yang pernah menginap di “hotel” kelas wahid di seantero jagat raya. Hotel itu bernama Guantanamo, David Garcia, Bagram, Abu Gharib dan yang semisalnya. Mereka yang dipenjara tanpa pernah diadili hanya karena mereka muslim yang berusaha menjalankan keyakinannya dengan sepenuh hati. Mereka yang dipenjara hanya karena kebetulan teroris itu muslim tapi tatkala terjadi teror dengan pelaku selain muslim tak pernah ada cerita “hotel-hotel” itu kelebihan pengunjung.

Lewat sedikit goresan tinta ini saya ingin berbagi inspirasi kepada saudara-saudara seiman agar kau mengerti bahwa di belahan dunia sana ada begitu banyak muslim bisa bertahan dalam kondisi yang benar-benar tak mengenakkan hanya bermodalkan keteguhan iman. Ada yang tak melihat matahari dalam hitungan bulan dan ditempatkan dalam “kamar hotel” berukuran 2 X 2 meter saja demi mengejar pengakuan bahwa teror itu mereka yang lakukan.

Kisah-kisah tentang muslim yang tegar diatas iman di dalam “hotel” kenamaan insyaAllah bulan depan diterbitkan. Sebagai pelengkap dari pengantar pada tulisan saya kali ini dan semoga bisa membuat kita semakin rajin bersyukur.

Setia itu Beresiko

Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang kawan yang begitu menikmati perbuatan terlarang yang dia anggap tidak seberapa. Perbuatannya mungkin memang tak seberapa kalau dilihat dari kacamata pergaulan muda-mudi zaman sekarang. Seperti layaknya kawula muda yang dihinggapi rasa suka pada lain jenis dia pun mengalaminya. Dia “hanya” memadu kasih dengan pujaan hati yang kebetulan datang. Tak pernah jalan berduaan, apalagi pacaran, hanya komunikasi tak langsung yang belakangan jadi kelewatan. Waktu terus berjalan sementara dia belum juga berhenti dari perbuatannya. Hari demi hari berganti, minggu demi minggu terlewati sampai akhirnya hitungan bulan tak terhindari. Keadaan kawan saya pun tak berubah bahkan semakin payah hingga akhirnya dia kembali kepada kesadarannya. Ya, sekalipun dia melakukan hal itu dan menikmatinya tapi dalam hatinya masih ada pengingkaran. Dia sadar kalau hal itu salah sejak lama tapi kesadarannya dikalahkan oleh nafsunya yang membara. Singkat cerita berkat rahmat Allah ta’ala dia bisa berhenti dari perbuatan buruknya itu. Alhamdulillah.

Lantas babak baru dalam hidupnya dimulai. Mungkin pembaca mengira bahwa babak baru hidupnya akan mudah dan penuh berkah selepas berhenti. Pembaca yang budiman, adakah anda tahu bahwa babak berikutnya ternyata tak kalah susah dari perjalanannya untuk berhenti dari perbuatan buruknya sebelum ini? Bukan jalan tol yang ia temui, tapi jalan berbatu penuh duri yang harus ia lalui. Hari-harinya dilewati dengan resah dan gelisah karena terkadang bayangan sang pujaan hati datang menghampiri. Bayang dan angan tak mengenakkan pun tak jarang menghantui. Takut sang pujaan hati berpindah ke lain hati atau sang pujaan hati menyerah kalah untuk bisa bersabar dalam masa penantian yang tak pasti. Semua itu terkadang menumpahkan air matanya dan menggoyahkan jiwanya. Tapi kawan saya ini tetap gigih mempertahankan apa yang ia yakini.

Pembaca yang budiman hidup memang tak pasti, belum sempat dia tuntaskan resah, gelisah dan hantu yang membayangi, alih-alih datang penyelesaian yang datang malah cobaan lain berupa kesempatan untuk bisa berganti ke lain hati. Sudah berapa kali kesempatan beralih ke lain hati datang menghampiri. Tapi dia enggan untuk mengambilnya karena ia tak mau jatuh pada lubang yang sama dua kali.  Tambah berat lagi karena sang pujaan hati tak jarang mengungkapkan keadaan dan perasaaan lewat jejaring sosial yang terkadang membuat dia merasa berdosa atas apa yang telah terjadi. Begitu mungkin secuil kisah kawan saya, kisah yang belum rampung sampai disini karena baru sampai babak ini yang ia lalui.

Hari-hari ini saya lihat dia masih tegar diatas prinsip yang ia yakini. Walaupun dia masih sering ingat akan sang pujaan hati, masih rindu akan masa-masa itu dan mungkin masih ingin sang pujaan hati jadi jodohnya nanti. Ujian dan cobaan yang datang tak kenal kasihan tak menggoyahkan prinsip yang ia yakini, paling tidak sampai saat ini. Kawan saya ini yakin bahwa tanpa pacaran pun sekedar SMS-an jodoh yang Allah ridhai akan datang menghampiri. Tak peduli betapapun sakit dan teririsnya jiwa di tengah-tengah zaman yang prinsip semacam ini dianggap kolot, kaku, ga gaul bahkan tak bisa dimengerti, kawan saya ini tetap setia. Saya pun berharap dia begitu sampai  ketemu jodohnya nanti. Saya pun ingin sang pujaan hati bisa mewarisi kegigihan serupa dari kawan saya ini dan bisa mengerti prinsip yang diyakini kawan saya ini. Akhirnya, pada tulisan ini lewat sebuah kisah nyata kawan saya, saya mau mengatakan bahwa setia pada prinsip itu tak mudah dan beresiko tinggi. Tapi kalau anda sanggup melalui balasan indah tiada tara menanti.

Semangkuk Ketulusan

Pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang aktivitas saya bersama kawan-kawan pengajar KCAI. Secuil saja dari begitu banyak kisah yang kami lewati hampir delapan bulan bersama-sama membantu mencerdaskan anak Indonesia. Beberapa bulan terkhir di tahun keempat kuliah saya habiskan untuk membantu olahraga HIMATIKA (sudah saya ceritakan sebagian pada cerita sebelum-sebelumnya) dan fokus sepenuhnya untuk Keluarga Cinta Anak Indonesia (KCAI). Aktivitas mengajar bersama-sama kawan-kawan pengajar KCAI menjadi sampingan utama kegiatan saya selain mengerjakan tugas akhir. Kegiatan kami saat ini adalah mengajar anak-anak kelas 3,4 dan 5 SD di Kampung 200, Cisitu, Bandung. Beberapa langkah saja tempat tinggal mereka dari Institut Terbaik Bangsa (ITB) tetapi ironi ketika saya tanya cita-cita mereka tak satupun ingin kuliah di ITB. Jarak yang begitu dekat tetap membuat mereka jauh dari ITB. Setiap Selasa dan Jumat sore kami bergiliran mengajar di sebuah sekre tempat singgah anak-anak kampung 200. Sekre itu terdapat di kampung mereka juga.

Selain pelajaran matematika saya mengampu futsal dan badminton untuk anak-anak kampung 200. Futsal tiap Kamis sore dan badminton tiap malam Minggu. Waktu itu Kamis sore jatah futsal tetapi hujan deras mengguyur akhirnya saya liburkan. Saya dan Ihsan (teman kosan bukan KCAI) berteduh di sekre menunggu hujan reda. Farhan, anak kelas 5 SD yang biasa saya ajar tiba-tiba datang dihadapan saya dan minta bantuan untuk menyelesaikan PR matematikanya. Pas karena saya jurusan matematika dan saya pun membantunya sampai selesai tanpa kesulitan karena Farhan anak yang baik dan mudah diarahkan walau kurang pandai.

Selepas mengajari Farhan hujan belum reda dan Maghrib sebentar lagi tiba. Saya dan Ihsan Putra, beranjak hendak ke masjid untuk menunaikan shalat Maghrib tapi tiba-tiba Ibu Farhan datang membawa dua mangkuk mi rebus untuk kami. Jadilah kami menyantap mi tersebut sebelum ke masjid. Luar biasa mi yang dibuat ibu Farhan rasanya enak sekali, mi rebus ketulusan saya menyebutnya karena jujur saja kondisi ekonomi keluarga Farhan benar-benar pas-pasan. Tengok saja rumahnya yang bersebelahan dengan sekre, hanya terdiri dari dua ruang rumahnya, satu ruang tengah untuk tidur, makan sekaligus ruang tamu dan satu lagi dapur dan kamar mandi. Selepas maghrib saya kembalikan mangkuk ke rumahnya dan subhanallah ibu Farhan sedang membaca Al Quran dengan nikmatnya. Saya jadi malu karena sudah jarang sekali membaca Al Quran karena dikalahakan kesibukan.

Saya tidak tahu kenapa harus membantu Farhan, boleh jadi hanya karena kebetulan saya berteduh dan tidak ada kegiatan jadi tidak ada salahnya membantu dia. Karena ada yang butuh bantuan dan saya pun mampu untuk membantu dan dia anak didik saya maka saya bantu dia. Itu saja tidak lebih dan suratan takdir yang membawa saya untuk membantu Farhan.

Lebih penting dari itu saya jadi ingat petuah dalam sebuah pengajian bahwa kita harus bersedekah baik di kala sempit maupun lapang. Maka inilah sedekah di kala sempit. Salut untuk ibu Farhan, semoga Allah memudahkan semua urusan ibu. Lantas untuk anda yang dikarunia nikmat berupa kecukupan rezeki maka syukurilah seberapapun itu dan sedekahkanlah, tanpa sedekah “ibarat makan nasi tanpa lauk, kenyang tapi hambar.” begitulah kata salah seorang teman dekat saya. Jadi jangan biarkan  hambar.

Pare dan Runner Up lagi

Kamis, 24 November 2011 aku dan sahabatku, Tahta Muhammad (temen SMA dan sama-sama kuliah di ITB) pergi meninggalkan Bandung untuk belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Mulanya hanya Tahta seorang yang akan berangkat, tapi iseng-iseng dia mengajakku untuk belajar di Kampung Inggris. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan ajakan kawanku ini karena kemampuan berbahasa Inggrisku tergolong pas-pasan dan sekarang-sekarang ini waktuku sedang luang. Maklum saja masih pengangguran karena belum menemukan tempat berlabuh selepas tamat kuliah di ITB.

Kamis sore aku dan Tahta meninggalkan Bandung menggunakan kereta Mutiara Selatan. Perjalanan lebih kurang 12 jam kami tempuh untuk mencapai Kertosono, Nganjuk (tempat pemberhentian KA terdekat dari Pare). Dari Kertosono kami menaiki becak motor, becak yang tidak dikayuh tapi menggunakan mesin sederhana untuk mencapai halte terdekat. Setelah itu perjalanan lebih kurang 1,5 jam kami tempuh dengan bus dan angkutan pedesaan dan sampailah kami di Kampung Inggris, Pare. Perjalanan melelahkan dengan barang bawaan yang tidak sedikit membuat badanku pegal bukan main terutama di pinggang. Alhamdulillah hari ini belum ada course jadi kami bisa beristirahat dan ber-weekend  di kampung yang damai nan asri yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, walau temperatur disini panas. Ya..perkotaan yang kadang menjemukan dan membosankan. Tapi ada satu hal yang sedikit mengganggu pikiranku, aku ga bisa mendampingi tim beregu badminton HIMATIKA di partai final GBC 2011. Partai yang kuberi judul Who is the real red?” karena lawan yang akan dihadapi adalah HMT(Tambang) yang sama-sama memiliki jaket himpunan kebanggaan berwarna  merah.

Malam minggu aku sempatkan mengirim SMS kepada tim beregu badminton HIMATIKA yang akan berlaga di partai puncak esoknya. SMS penyemangat dari seorang mantan ketua divisi olahraga dan penggemar setia badminton. Sempat berbalas SMS dengan salah satu anggota tim membicarakan peluang dan sedikit prediksi dariku. Aku bilang peluang besok masih 50-50 tergantung kesiapan pemain dan siapa yang bisa lebih fight di arena. Sempat kubilang bahwa HIMATIKA ga boleh kehilangan poin di tunggal putra karena prediksiku tunggal putri dan ganda putra HIMATIKA akan kalah, lantas langkah berikutnya ambil poin di ganda putri. Dengan begitu pemenang akan ditentukan lewat partai ganda campuran, kalau sampai partai ganda campuran maka aku yakin HIMATIKA-lah yang akan keluar sebagai juara.

Kenyataan di lapangan berkata lain karena pemain tunggal putra gagal meraih poin karena sakit lambung yang kambuh sewaktu bermain. Dari live report Irsyad aku tahu kalau Robieth kalah dengan skor yang mencolok dalam dua set. Padahal aku tahu kemampuan Robieth bisa lebih daripada itu, untuk menang pun aku yakin bisa karena aku kenal dengan pemain tunggal HMT yang belakangan kutahu namanya Nurrohman. Dia anak Solo dan aku kenal sewaktu turnamen futsal antar ikatan alumni beberapa bulan lalu. Memang dia pernah di PB dan kemampuan serta daya juangnya bagus cuma dari pengamatanku Robieth masih unggul, tapi dengan kondisi sakit tentu tidak bisa. Selepas partai tunggal putra seperti prediksiku, tunggal putri dan ganda putra HIMATIKA kalah. Cukup tragis memang kekalahan ini tapi harus bisa diterima karena usaha semaksimal mungkin sudah dilakukan dan memang begini suratan takdir yang digariskan.

Selamat atas prestasi tim beregu badminton HIMATIKA di GBC 2011. Salut buat kerja keras kalian saat latihan dan pertandingan. Dalam dua tahun berturut-turut HIMATIKA mampu menjadi finalis dan runner up (lagi) memang jatah terbaik yang diberikan Allah kepada kalian. Kalah dan sedih itu wajar tapi jangan berkepanjangan. Sekali lagi salut buat kalian para pemain.

Ada satu hal yang aku dan para pemain serta beberapa suporter sesali pada partai final GBC 2011 ini. Kesiapan tim berkurang karena perubahan jadwal tanding. Perubahan jadwal pertandingan olahraga karena berbenturan dengan agenda himpunan sudah terjadi berkali-kali dan pada hari perayaan ulang tahun HIMATIKA terulang kembali kejadian yang semisal dengan sebelumnya. Pertandingan olahraga dan disini partai final GBC tepatnya, dikesampingkan, masih dianggap kurang penting padahal partai final. Ya, begitulah yang aku tangkap dari live report seorang kawan dan dialog singkat dengan beberapa pemain pasca pertandingan. Jadwal malam diubah siang demi sebuah acara ceremonial tanpa memperhatikan kondisi kesiapan pemain kita dan akibatnya rugi untuk kita ditambah perubahan jadwal tidak membuat dukungan menjadi maksimal bahkan semenjak awal perhelatan sampai partai puncak tak nampak dukungan laskar HIMATIKA kecuali segelintir saja. GSG memang merah membara pada partai final GBC tahun ini tapi sayangnya bukan merah HIMATIKA.

Aku tuliskan ini semua karena lagi-lagi terulang soal pengesampingan ini. Semoga dari kejadian ini dapat diambil pelajaran dan dilakukan perbaikan karena para pemain yang tergabung dalam tim ini sangat bersemangat dengan atau tanpa dukungan dari badan pengurus HIMATIKA. Mereka tetap mengenakan seragam bertuliskan HIMATIKA di punggung mereka dalam pertandingan karena mereka cinta HIMATIKA karena mereka ingin HIMATIKA jadi himpunan yang kompak dan bermental juang tak kenal lelah seperti yang mereka tunjukkan dalam latihan dan pertandingan. Jadi tetap semangat badminton lovers HIMATIKA.

Haru Biru Ikastaraku dan Merah Membara keluarga badminton HIMATIKA-ku

Rabu, 09 November 2011 menjadi semacam acara perpisahanku dengan ikastarans Bandung. Acara yang sangat sederhana untuk merayakan wisuda abang dan kakak yang mereka cintai, itulah yang dilakukan keluargaku, ikastara Bandung. Sekedar berkumpul bersama di salah satu rumah kontrakan anggota ikastara (kontrakan Muhammad Iqbal TN17 di jalan Terusan Ekologi No.2, Perumahan Dosen Unpad, Cigadung) lantas makan bersama seadanya. Untuk urusan makan ini memang benar-benar seadanya karena saya yakin sepenuhnya bahwa dua nasi tumpeng tadi malam sama sekali tidak memenuhi perut lapar para alumni lembah tidar. Selera makan atau lebih tepatnya porsi makan kami memang luar biasa. Tempaan sewaktu di Magelang sana memang mengharuskan kami untuk menimbun energi sebanyak-banyaknya selagi kami bisa, maklum saja aktivitas disana bila dijalani dengan benar akan menguras tenaga sangat besar. Hasilnya hampir sebagian besar alumni Taruna Nusantara memiliki porsi makan kelewat biasa. Tak dapat dipungkiri bahwa porsi makan ini menjadi salah satu trade mark anak-anak ikastara. Jadi maaf ya, adik-adikku ikastarans Bandung. Kami, para alumni Oktober 2011 belum berpenghasilan, masih meminta dari orang tua jadi cuma selahap makanan itu saja yang mampu kami sajikan saat ini. Maybe next time we will hold (real) feast.

Terlepas dari itu maka acara ini cukup bagus untuk jadi permulaan tradisi syukuran wisuda di ikastara Bandung. Dengan acara seperti ini setidaknya bisa terjalin silaturahmi dan jadi gathering sederhana untuk merekatkan kekeluargaan diantara sesama anggota. Sekali lagi ikastara (Bandung) adalah keluarga, ikastara adalah saudara tanpa memandang angkatan. Persaudaraan yang hangat dan menentramkan itulah seharusnya ikastara. Lewat acara seperti ini tanpa perlu ada pertunjukkan musik atau sandiwara bisa terpupuk semangat kekeluargaan dan kebersamaan diantara anggota. Penting sekali kerekatan antar anggota karena dengan rekatnya anggota menandakan hadirnya harmoni dalam tubuh ikastara. Dengan begitu banyak hal bisa dilakukan ikastara. Terutama sekali mewujudkan “…memberikan karya yang terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara dan dunia.”

Sebenarnya pada saat acara syukuran ini berlangsung, berlangsung pula latihan tim badminton HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa Matematika ITB) di Gor Cisitu. Sudah barang tentu tubuhku tidak bisa dibagi dua untuk menghadiri dua-duanya maka syukuran ikastara yang kupilih. Bukan tidak mau mendampingi latihan tetapi tidak bisa padahal kepingin banget buat datang melihat penerusku latihan. Disamping ikastara aku juga merasakan kehangatan keluarga di beberapa perkumpulanku. KCAI (Keluarga Cinta Anak Indonesia) beserta anak-anak jalanan simpang Dago dan sekarang ditambah anak-anak kampung 200 Cisitu sudah kuanggap seperti keluarga sendiri juga keluarga badminton HIMATIKA yang memang punya tempat di hatiku. Ya, kami dekat satu sama lain walau beda angkatan dan jarang ketemu ketika perkuliahan. Semua itu bermula saat Ganesa Badminton Championship (GBC) 2010, kejuaraan badminton tahunan di ITB. Kami sering latihan bersama menjelang kompetisi itu bergulir dan di kompetisi itu tim ini melaju kencang. Sampai akhirnya tim ini mencatatkan prestasi tinggi di GBC 2010 dengan menggondol runner up beregu dan runner up ganda campuran. Selain piala, panitia juga memberikan hadiah berupa fresh money. Lumayan hadiahnya dan sebagian besar masuk kas olahraga HIMATIKA, sebagiannya lagi untuk berpesta. Pesta disini kami artikan makan bersama dan beberapa waktu setelahnya kami makan bersama di Pizza Hut Dago. GBC selesai dan kebersamaan kami berlanjut pada even olahraga dua tahunan di ITB yaitu Olimpiade KM ITB yang keenam, awal tahun 2011. Sudah barang tentu bukan badminton saja yang dipertandingkan dalam olimpiade ini. Banyak sekali cabang yang dipertandingakan dan akan panjang kalau diceritakan sekarang. Singkatnya di olimpiade KM ITB ini prestasi badminton HIMATIKA tidak secemerlang waktu GBC, hanya runner up ganda putri yang bisa digondol, di nomor beregu kandas di perempafinal oleh HMS dan di nomor-nomor lain mulai dari tunggal putra, tunggal putri, ganda putra dan ganda campuran juga kandas. Begitulah kisah terbentuknya keluarga (kecil-kecilan) badminton HIMATIKA.

Anggota keluarga badminton waktu itu adalah aku, Ramdhan “atang”, Irsyadul, Maulana, Yongki (2007), Robieth, Saraswati, Atina (2008) dan Awalia (2009). Tetapi belum pernah kami berkumpul lengkap dalam acara makan bersama, selalu saja ada yang berhalangan termasuk waktu makan di PH Dago. Selepas makan-makan di PH beberapa waktu kemudian kami makan bersama lagi di Cilencang Dago Pakar, dinner indah ditemani pemandangan malam Bandung dan terakhir kami makan bareng lagi Ramadhan kemarin di Ikan bakar Niagara Setiabudhi dengan tambahan anggota baru, Aby (2006) namanya. Tapi aku sedikit bersedih karena kawanku, Ramdhan “atang” sudah jarang banget bersua bersama kami.

Bulan Oktober 2011 berlalu dengan sebagian besar anggota keluarga ini sudah lulus dan perhelatan GBC 2011 sudah dekat. Walau kami (aku, maul, irsyad, yongki dan atang) sudah lulus tapi tiap Rabu malam pasti kami yang tua-tua diajak latihan tim dan tiap malam minggu kuundang mereka untuk datang di Agus & Friends badminton (Badmintonan yang kubuat dengan peserta teman kosan, Ikastara dan HIMATIKA serta belakangan ada adik-adik kampung 200 juga). Hitung-hitung membantu tim untuk latihan kecil-kecilan dengan bermain melawan orang-orang yang lebih banyak menggunakan tenaga ketimbang memeragakan skill mengagumkan. Selepas Oktober ini rencanaku akan menyerahkan badmintonan malam minggu untuk ikastara sepenuhnya dan berakhir sudah Agus & Friends badminton.

Sewaktu tulisan ini diterbitkan tim beregu badminton HIMATIKA sudah memainkan dua pertandingan di nomor beregu (seperti piala Sudirman) dalam ajang tahunan, GBC 2011. De Javu, pada pertandingan pertama HIMATIKA kembali harus melawan Amisca (Himpunan Mahasiswa Kimia), tahun lalu HIMATIKA juga bertemu Amisca di semifinal beregu dan sekarang harus berjibaku kembali bahkan lebih dini. Beban berat dipikul tim ini karena mewarisi predikat yang tak sembarangan, tahun lalu di GBC 2010, seperti yang sudah kubilang tim beregu HIMATIKA mampu menembus partai puncak walau harus puas dengan runner up karena secara materi memang kalah dari lawannya, IMA-G (Arsitek). Amisca berhasil dikalahkan dan keesokan harinya tim ini harus kembali berjibaku dalam partai perempatfinal melawan HMFT. Tim dengan kekuatan pemain putranya sangat kuat walau pemain putrinya memang kurang. Sesuai prediksiku HIMATIKA menang dengan susah payah dengan skor 3-2. Semifinal pun ditangan dan lawan berikutnya adalah IMG. Pekan depan mereka akan bermain melawan IMG dan kalau boleh memberikan prediksi maka tim ini akan melaju ke partai puncak dan akan menemui HMF, farmasi. Dengan melaju ke partai puncak maka tim ini berhasil (minimal) mempertahankan predikat yang disandang tahun lalu. Berharap lebih itu tentu tapi sungguh berat menurutku.

Terima kasih ikastaraku dan selamat berjuang tim beregu HIMATIKA. Sebentar lagi mungkin waktu perpisahan kita karena saya berencana akan berkarya di luar Bandung. Saya pasti akan merindukan kalian semua.

Menjelang dini hari di kamar nan sunyi seberang Masjid Al Amanah, Cisitu
Agus Setiawan

Post Navigation