Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Bersemilah Ramadhan (4) – Menjemput Malam Kemuliaan

Tanda Malam Lailatul Qadr

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Lailatul qadr adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Shubuh hari dari malam lailatul qadr matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim no. 1174) (Lihat pembahasan di Shahih Fiqih Sunnah, 2/149-150, Abu Malik, Maktabah At Taufiqiyyah)

Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadr?

Lailatul qadr adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadr, maka dia telah terluput dari banyak kebaikan. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.”

(HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya kita mencontoh Nabi yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Harusnya setiap muslim memperbanyak ibadahnya, menjauhi istri-istrinya dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan,
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’ – Lihat tafsiran ini di Latho-if Al Ma’arif, hal. 332), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadr adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam, Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah (Lihat Latho-if Al Ma’arif,hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadr pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits,

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Lantas muncul pertanyaan : Bagaimana Wanita bila sedang Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadr?
Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadr?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadr. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya.

Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah:
1. Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf. (Dalam at Tamhid (17/397, Syamilah), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqih dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya)

2. Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya.

3. Memperbanyak istighfar.

4. Memperbanyak do’a.

(Diambil dari http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html dengan sedikit penyeseuaian dari penyusun)

Menulislah…

Ya menulislah begitu kira-kira salah satu pesan ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah (penulis di muslim.or.id dan rumaysho.com) dalam acara sharing-sharing ringan kemarin malam. Membiasakan menulis itu tidak mudah dan sering dianggap ga perlu. Padahal kalau kita (semua pasti) meninggal dunia nanti, orang bisa tahu pemikiran dan bisa mengambil pelajaran berharga dari hidup kita ya dari karya-karya kita salah satu karya yang modalnya sederhana ya tulisan.

Ilmu (apapun) akan semakin melekat dengan kita menuliskannya. Manusia tempat lupa dan lalai dan dengan menuliskannya ilmu-ilmu bisa digali kembali kalau kita lupa atau kalau kita membaca ulang ilmu yang kita tuliskan insyaAllah pemahaman kita semakin mendalam. Dengan adanya tulisan juga akan membuat hal-hal penting dalam hidup kita terdokumentasikan dengan baik dan suatu saat nanti kita pasti akan merasakan buah dari tulisan kita. Paling penting dari manfaat menulis adalah minimal-minimalnya kita bisa mengambil hikmah dan manfaat sebesar-besarnya dari kehidupan kita sendiri dan mempermudah kita untuk berusaha menjadi semakin baik di masa yang akan datang dan berusaha meninggalkan kesalahan yang dulu pernah diperbuat sehingga tidak melakukannya lagi di kemudian hari. Tidak jatuh pada lubang yang sama dua kali atau lebih, begitulah salah satu pelajaran berharga kalau kita mau menulis.

Menulislah selagi kita masih mampu dan tularkan kebaikan-kebaikan dengan tulisan-tulisan kita. Tulisan hanya satu dari sekian banyak media untuk belajar dan memberi pelajaran. Tak ada salahnya anda mencoba menuliskan pelajaran-pelajaran penting dalam hidup anda terlebih lagi kalau yang anda tulis adalah ilmu agama yang akan merupakan bekal utama dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Menulislah karena itu mudah hanya perlu pembiasaan. Selamat menulis…

Bersemilah Ramadhan (3) – Bersiap menjemput malam kemuliaan

Malam lailatul qadr begitulah banyak dari kita mengenalnya akan tetapi sungguh masih sedikit dari kaum muslimin yang merindukan mendapatkan keutamaannya. Banyak penyebabnya salah satunya adalah silau oleh kemilaunya kehidupan dunia dan lalai mempersiapkan bekal menuju akherat. Lailatul qadar adalah malam kemuliaan, malam yang penuh sesak karena ketika pada saat itu banyak malaikat turun ke dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam penetapan takdir. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia (Periksa Zaadul Maysir, 6/177, Ibnul Jauziy, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah).

Adapun keutamaan lailatul qadar adalah:

Pertama, lailatul qadr adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS. Ad Dukhan: 3-4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadr sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5).

Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadr dengan jumlah tak terhingga (Periksa Zaadul Maysir, 6/179). Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar (-idem-, 6/180).

Kedua, lailatul qadr lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, 1428 H). Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadr (Periksa Zaadul Maysir, 6/179).

Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Kapan Lailatul Qadr Terjadi?

Lailatul Qadr itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadr terjadi? Imam Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadr itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Lihat Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadr adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadr sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.

Do’a di Malam Lailatul Qadr

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadr, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab,”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah“Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25)

(Diambil dari http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html dengan sedikit penyesuaian dari penyusun)

Balada Orang-Orang Terluka (2)

Setelah menjadi ulama militer Yee menjalankan tugasnya di penjara dengan tingkat keamanan tertinggi di dunia yaitu penjara Guantanamo atau Gitmo. Disana Yee melayani para tawanan dalam urusan ke-Islaman, para tawanan yang dituduh teroris oleh pemerintah Amerika setelah peristiwa 11 September. Amerika yang memang terkenal sebagai negara dengan tingkat kebebasan tinggi ternyata tidak memberikan hak kebebasan untuk para tawanan yang belum terbukti ikut andil dalam peristiwa memilukan 11 September. Para tawanan nyata-nyata sangat kesulitan untuk menjalankan ajaran Islam yang mereka yakini. Bahkan dalam sekuel interogasi beberapa kali Al Quran yang merupakan kitab suci dihinakan oleh orang-orang yang menginterogasi tawanan, hanya karena sebagian besar tawanan berkata jujur. Hal ini belum ditambah pemeriksaan tawanan dalam keadaan telanjang setiap hari. Umat muslim terlarang memperlihatkan auratnya kepada orang lain dan ini merupakan bentuk penjagaan kehormatan diri seorang muslim, tapi mereka tetap tidak mau mengerti. Singkat cerita Yee terus melayani para tawanan dengan tetap mengikuti prosedur Guantanamo yang ketat.

Tibalah saatnya buat Yee pulang dari Guantanamo menemui keluarganya di Seattle. Bisa dibayangkan betapa bahagianya seorang prajurit yang akan pulang dari penugasan untuk bertemu dengan belahan jiwanya dan anak-anak yang sangat dicintainya. Begitu pula kebahagiaan dari sisi sang istri dan anak-anak, benar-benar membuncah akibat kerinduan yang mendalam terhadap Yee. Tapi apa mau dikata kerinduan mendalam dari kedua belah pihak setelah setahun tidak bertemu harus dikubur dalam-dalam karena dalam perjalanan pulang dari Gitmo Yee sudah dituduh sebagai bagian dari teroris padahal Yee adalah prajurit mereka dan tanpa ragu hari itu mereka menuduh Yee berkhianat tanpa bukti yang kuat. Akhirnya Yee ditangkap setelah melalui proses panjang di Pangkalan Udara angkatan laut Jacksonville, Florida. Istri dan anak-anaknya pun meradang sambil menerka-nerka apa yang terjadi pada Yee karena sudah berjam-jam lamanya menanti sang suami di bandara Tacoma, Seattle tapi Yee tidak menampakkan batang hidungnya juga.

Singkatnya perlakuan terhadap dirinya pun tak main-main, keamanan level satu pernah dirasakan Yee, sehingga pernah suatu ketika dia sebulan penuh tak melihat sang surya dan hanya keluar masuk kamar mandi dengan kondisi tangan diborgol dan kaki dirantai. Yee kembali ke Gitmo tapi dengan status yang berbeda. Kembali ke lingkungan yang tak asing baginya tapi suasananya berbeda, kalau dulu Yee hanya mendengar dan menyaksikan ketegangan, kecurigaan dan tekanan dan tentu tanpa belas kasihan maka sekarang Yee merasakannya sendiri.

Hal itu belum ditambah interogasi yang penuh intimidasi dan menguji mental dan iman karena pernah suatu kali dalam sesi interogasi, kapten James Yee ditawari untuk berzina asal dia mau mengakui apa-apa yang dituduhkan padanya. Wanita pezina sudah dihadirkan dihadapannya, tetapi berkat keimanan yang melekat kuat ia tak menggubrisnya. Tak hanya itu makanan halal pun tak tersedia sehingga makin parahlah kondisi jasmani dan psikologinya. Dalam kondisi yang demikian hanya iman yang mampu membuatnya bertahan. Asal anda tahu kapten Yee tetap shaum ramadhan dalam kondisi demikian bahkan dua kali dia khatamkan Al Quranul karim semasa bulan ramadhan. Lantas bagaimanakah dengan kita?

Adalah benar Kapten Yee dipenjara jasadnya tapi simaklah dia punya jiwa dan pikiran merdeka sehingga ketika penjara menjadi tempat tinggalnya tidak membuatnya menjual iman dan Islam dengan kebebasan semata.

Berbeda sekali dengan kebanyakan manusia yang berada bebas di alam terbuka tetapi pikiran dan jiwanya terpenjara oleh gegap gempita arus modernisasi yang tanpa sadar melepaskan umat muslim dari bingkai syar’iatnya. Semoga Allah ta’ala menjaga kita dari kelalaian atas banyak nikmat yang diberikanNya dan semoga kita dimudahkan dalam menempuh jalanNya yang lurus. Aamiin.

(Disarikan dari buku “For God and Country” karangan James Yee dan Aimee Molloy edisi terjemahan yang diterbitkan oleh Dastan Books)

Bersemilah Ramadhan (2)

Hikmah dan tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah Ta’ala, yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”. Lebih lanjut, Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

  • Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, hal ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).
  • Orang yang puasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta’ala), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah Maha Mengawasi (perbuatan)nya.
  • Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah, maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.
  • Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Ta’ala), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.
  • Orang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu terdorong untuk menolong orang-orang miskin dan tidak mampu dan ini termasuk bagian dari takwa.

Bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau,

“Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”.

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahru shabr (bulan kesabaran).

Selain kesabaran Allah menjanjikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya”.(HR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151))
Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).
Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau,

Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia).

Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”.
Demikianlah ulasan ringkas tentang keutamaan Ramadhan, semoga bermanfaat bagi sesama muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala serta dapat memberi motivasi bagi kita agar lebih bersemangat di Ramadhan ini. Semangat untuk segera berlari meraih pengampunan dan kemuliaan dari-Nya, dengan bersungguh-sungguh mengisi hari-hari Ramadhan dengan ibadah-ibadah agung yang disyariatkan-Nya.

(Diambil dari http://muslim.or.id/ramadhan/berbenah-diri-menyambut-bulan-ramadhan.html dengan sedikit penyesuaian dari penyusun)

Bersemilah Ramadhan (1)

Saudara – saudaraku sebentar lagi akan datang kepada kita bulan Ramadhan, musim kebaikan, musim penggandaan ganjaran dan pemberian hadiah besar – besaran, dibukakannya pintu – pintu kebaikan serta bulan diturunkannya Al Quran yang didalamnya ada petunjuk dan penerangan bagi umat manusia. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu (zaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (zaman) maupun tempat”. Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Ta’ala utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam. Berpuasa pada bulan Ramadhan hukumnya wajib dan tujuannya adalah bertakwa kepada Allah ta’ala. Hal ini sesuai dengan firman Allah, yang artinya :

“Hai orang – orang yang beriman, telah diwajibkan atasmu untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah ayat 183)

Sungguh Allah Ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka. Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan ingin meraih ridha-Nya. Karena agungnya dan keutamaan bulan suci ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini.
Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)” (HR Ahmad (2/385), an-Nasa’i (no. 2106) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” (hal. 395))

Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”.

Dulunya, para ulama yang shalih jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta’ala. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya (para ulama sholih terdahulu) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”.

Maka hendaknya seorang muslim mengambil teladan dari para ulama shalih terdahulu dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari Allah Ta’ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah Ta’ala dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”(HR Al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151)).

Persiapan diri yang dimaksud disini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat AllahTa’ala daripada manfaat yang diharapkan. Bukan pula dengan rajin berkunjung ke pusat belanja untuk memborong baju baru, sandal baru dan seabrek perangkat kebendaan yang seringkali diperbarui guna menyambut bulan mulia ini. Hendaknya kita memperbarui semangat, niat dan ketekunan kita dalam beribadah agar bisa belanja pahala sebanyak-banyaknya di ramadhan ini.

Persiapan yang dimaksud juga mencakup mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shalih yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”(HR Ahmad (4/321) dan Ibnu Hibban (no. 1889), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-‘Iraqi dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shalaatut taraawiih (hal. 119)).
Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja”(HR Ibnu Majah (no. 1690), Ahmad (2/373), Ibnu Khuzaimah (no. 1997) dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan syaikh al-Albani)

Yuk, mari siapkan diri hadapi ramadhan kali ini agar tak menyesal di kemudian hari karena berlalunya masa tak kita isi dengan mencari bekal untuk kehidupan yang abadi nanti. Penyusun tak bosan memanjatkan doa penuh harap kepada Dzat Yang Maha Kuasa agar langkah kita dimudahkan untuk senantiasa berjalan diatas petunjukNya hingga akhir hayat. Aamiin.

(Diambil dari http://muslim.or.id/ramadhan/berbenah-diri-menyambut-bulan-ramadhan.html dengan sedikit penyesuaian dari penyusun)

Balada orang-orang terluka (1)

Adalah kapten James Yee yang merupakan warga negara Amerika tulen dan bahkan seorang prajurit lulusan akademi militer terbaik Amerika, West Point, dituduh sebagai mata-mata dan dimasukkan namanya menjadi anggota jaringan terorisme dunia. Padahal dia terang-terangan prajurit yang setia pada konstitusi negaranya. Berbulan-bulan dipenjara tanpa tuduhan yang jelas ditambah istrinya difitnah dengan dugaan sang suami (Yee) selingkuh dengan bukti yang penuh rekayasa dan bualan semata. Kapten James Yee adalah warga keturunan China yang moyangnya pada tahun 1920-an hijrah ke negeri paman Sam untuk mencari peruntungan hidup yang lebih baik. Seperti lazimnya etnis Tionghoa yang menyebar ke seluruh penjuru dunia dan sudah menjadi ciri khas mereka adalah keteguhan mereka dalam berjuang.

Kapten Yee tidak mahir bahasa China sama sekali karena memang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan yang berbahasa Inggris dan bergabung dalam sekolah umum yang berisi warga Amerika dari berbagai etnis. Bahkan kedua orang tuanya besar di Amerika, juga tidak mahir bahasa China karena sebagai generasi ketiga sejarah perjalanan moyang mereka sampai di Amerika sekarang ini tinggal kepingan-kepingan kecil saja, yang sering jadi bahan pembicaraan saat kumpul keluarga besar mereka. Jadi secara garis keturunan dia adalah seorang warga Amerika sejati. Kapten Yee juga bukan pemeluk Islam semenjak lahirnya, beliau memeluk ajaran Kristen Lutheran semenjak kecil hingga umur dua puluh tiga tahun, pada usia dua puluh tiga ini Allah limpahkan hidayah kepadanya untuk memeluk Islam.

Kapten Yee memeluk Islam satu tahun selepas lulus dari West Point (tahun 1991) dan keluarganya yang masih memeluk Kristen Lutheran mendukung penuh apa yang dia lakukan. Beberapa saat setelah memeluk Islam kapten Yee merasa pengetahuannya tentang Islam sangat sedikit sehingga tanpa ragu ia membeli satu set kitab hadist Sahih Muslim untuk ia dalami. Setelah itu ia ditugaskan ke Jerman selama lima bulan. Selepas dari Jerman ia ditugaskan di Arab Saudi sebagai Komandan Peleton Markas Besar yang mengepalai sekitar tiga puluh lima prajurit. Kapten Yee bertugas mengawasi keamanan lokasi markas sistem rudal Patriot yang berharga jutaan dolar AS yang terletak di Pangkalan Udara King Abdul Aziz. Pada saat itu sedang berlangsung perang teluk dan pasukan Amerika terlibat aktif di dalamnya. Dalam penugasaan di Saudi ini ia mendapat karunia besar untuk mengunjungi Makkah Al Mukaramah beserta prajurit muslim lainnya yang dibiayai penuh oleh Kerajaan Saudi. Makin suburlah iman yang berada di hati Kapten Yee karena kunjungannya ke rumah Allah ta’ala yang sangat menakjubkan, membuka wawasannya betapa beragam perbedaan bisa bersatu dalam satu ikatan yaitu Islam.

Pada tahun 1993 kapten Yee memutuskan untuk menjadi ulama militer bagi prajurit Islam Amerika. Pada saat itu usianya baru 25 tahun dan ia meminta untuk keluar dari dinas aktif sebagai parjurit dan ingin menjadi ulama militer saja. Selepas pengunduran dirinya ia melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang kelima sekaligus penegasan atas keyakinan yang dipeluknya. Karena ingin menjadi ulama militer maka dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang Islam. Selepas haji yang kedua ketika ia berumur 26 tahun kapten Yee mengikuti seleksi masuk Universitas Islam Madinah, tetapi ia gagal masuk karena usianya sudah melewati batas yang ditentukan. Setelah itu ia melamar ke Universitas Abu Noor di Damaskus, Suriah dan ia diterima sebagai pelajar disitu. Selama 2 tahun pertama kapten Yee memperdalam bahasa Arab dan memperbaiki bacaan Al Quran serta memperbanyak hafalannya karena program yang ia ikuti hanya ada dalam bahasa pengantar bahasa Arab. Setelah itu selama 4 tahun kapten Yee menyelesaikan programnya di Universitas Abu Noor. Pada tahun 1998 ia menikah dengan seorang muslimah Suriah yang bernama Huda. Hingga pada tahun 2001 kapten Yee berhasil menjadi ulama militer dan membawa Huda ke Amerika Serikat.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah ta’ala sungguh menakjubkan semangat para mualaf dalam mendalami Islam, bandingkan dengan kita yang sudah memeluk Islam semenjak lahir hingga sekarang. Sudahkah menggali makna dan hikmah yang terkandung dalam Al Quran? Sudah berapa banyak hafalan ayat-ayat Al Quran yang ada di kepala kita? Terus sudahkah kita berupaya untuk belajar bahasa Arab yang merupakan bahasa Al Quran dan hadist? Atau sudahkah kita membaca kitab-kitab para ulama semisal sahih Muslim, Riyadus Salihin, Bulughul Maram, dll? Sepenggal kisah ini menuturkan bahwa perjuangan menuntut ilmu itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan waktunya tidak sebentar. So, buang jauh-jauh rasa malas menuntut ilmu agama dan semoga Allah mudahkan kita untuk memahami & mengamalkannya. InsyaAllah kisah ini berlanjut . . .

Sumber : Buku For God and Country

Obat Penenang Jiwa

Sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa. Oleh karena itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, tak sedikit kita jumpai manusia memakai cara – cara yang dibenci oleh Allah guna mencapai keinginan mereka.

Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat pacaran. Ada yang terjebak dalam hiburan malam yang melalaikan dan jauh dari petunjuk-Nya. Ada pula yang terjebak dalam korupsi dan lain sebagainya. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka. Padahal Allah ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya),

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’du: 28)

Malik bin Dinar mengatakan, “Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 562). Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah mengapa banyak diantara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama terdahulu. Kita saksikan bahwa kebanyakan dari kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada mendirikan qiyamul lail, lebih suka menikmati film–film laga yang notabene adalah sandiwara daripada duduk di tempat pengajian dan merenungkan ayat-ayat-Nya, lebih suka berkunjung ke pusat-pusat belanja daripada memakmurkan rumah-Nya.

Perhatikanlah ucapan Rabi’ bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi’ bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula “kemampuannya” untuk bisa mengingat Allah ta’ala. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriahnya tampak baik – baik saja.

Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam Al-Qur’an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. 

Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya (lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 21). Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 261)

Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi “didukung” suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk Al-Qur’an. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Shalat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna dan Al-Qur’an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangan kita.

Wahai saudaraku…apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.”(QS. al-A’la: 16-17).

Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya),

“Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.” (QS. Ghafir: 38-39) (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 260)

Apabila hari – hari ini kita menangis karena ludesnya harta benda, atau karena cinta terhadap kaum hawa yang tak tertahankan atau karena hilangnya jabatan yang kebanyakan manusia sekarang ini menginginkannya, atau karena orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya, maka kapankah saatnya kita menangis karena rusaknya hati kita?? Allahul musta’aan wa ‘alaihit tuklaan.

{diambil dari http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/ dengan penyesuaian dari penyusun}

Suriah Berdarah

Berikut adalah link video interview dengan Syaikh Muhammad Hasan rahimahullah tentang sekelumit tragedi yang menimpa kaum muslimin di Suriah. Semoga makin banyak kaum muslimin yang tahu dan memahami apa yang terjadi serta mengambil sikap yang benar dan mampu memetik banyak hikmah dari tragedi ini. Minimal-minimalnya kita jadi bersyukur terhadap kondisi kita sekarang bagaimanapun sulitnya dan menjadi motivasi untuk semakin rajin beribadah (insyaAllah).

Untukmu saudara-saudaraku di Suriah bersabarlah kalian, wahai orang-orang yang beriman, atas derita dan sakit yang tidak berkesudahan. Bersabarlah sekalipun kepalamu jadi taruhan, bersabarlah sekalipun ibu, bapak, anak, istri dan kemenakan dibumihanguskan dengan penuh kedzaliman. Semua boleh pergi dari sisimu tapi keimanan tak boleh ikut terampas karena imanlah bekal hakiki untuk menuju jannah Ilahi Rabbi. Ketegaranmu diatas iman dan enggan bersujud diatas foto Bashar, sekalipun harus meregang nyawa dengan cara yang amat menyakitkan insyaAllah termasuk syahid. Syahid adalah keagungan dan kemuliaan yang sama sekali tidak murah. Hari ini boleh pembunuh dan pemenggal itu menang tapi yakinlah bahwa nanti mereka akan jadi penghuni neraka (jahannam). Hari ini (di dunia) boleh kalian kalah tapi kemenangan yang besar menantimu wahai orang-orang yang beriman. Ayat Allah ta’ala sangat terang tentang hukum menumpahkan darah seorang mukmin dengan sengaja.

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. {QS. An Nisaa’ : 93}

Bersabarlah yang dengan demikian harumlah nanti kalian punya jenazah. Hati kaum muslimin luka melihat kedzaliman ini dan kami yang tidak mampu berbuat apa-apa sungguh teriris hati melihat kekejian ini. Hanya doa yang bisa kami panjatkan saat ini dan semoga mencukupi. Saya pun mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk memanjatkan doa bagi saudara-saudara kita di Suriah yang sedang dilanda ujian dan cobaan luar biasa. Semoga Allah menjadikan mereka yang gugur diatas keimanan termasuk ke dalam golongan syuhada dan semoga Allah tidak mengabaikan kita semua…aamiin

Gigihlah

Gigih

Gigih,

Bukan tak pernah mengenal pahit

Bukan tak pernah mengenal sakit

Bukan tak pernah morat-marit

Tapi gigih selalu berusaha sembuh dari sakit

Kembali bangkit dari morat-marit

Dan selalu memusatkan upaya untuk mengubah si pahit

Gigih, punya kawan

Namanya payah bin lelah

Pun ada yang bernama perih dan letih

Bahkan konon tetangganya ada yang bernama menyerah

Tatkala payah bin lelah menggoda

Dia lawan sang kawan dengan perkasa

Dan tatkala perih merona

Dia obati dengan sabar sepenuh jiwa

Yang menariknya tatkala letih mengajak bersua

Dia tak mau sedikit pun ikut bercengkerama

Bahkan ketika si menyerah tak jemu-jemu menyapa

Dia tak sungkan menghempaskan si tetangga

Untukmu yang sedang berselimut duka

Untukmu yang sedang bermendung lara

Untukmu yang sedang kalah dalam urusan dunia

Gigihlah dan jangan menyerah

Karena Allah senantiasa bersama kita

Sajak sederhana ini dibuat tatkala mencari kembali inspirasi yang sempat hilang ditelan rasa kecewa karena sederet keadaan tidak mengenakkan belakangan ini. Sajak ini terinspirasi kisah mereka-mereka yang pernah menginap di “hotel” kelas wahid di seantero jagat raya. Hotel itu bernama Guantanamo, David Garcia, Bagram, Abu Gharib dan yang semisalnya. Mereka yang dipenjara tanpa pernah diadili hanya karena mereka muslim yang berusaha menjalankan keyakinannya dengan sepenuh hati. Mereka yang dipenjara hanya karena kebetulan teroris itu muslim tapi tatkala terjadi teror dengan pelaku selain muslim tak pernah ada cerita “hotel-hotel” itu kelebihan pengunjung.

Lewat sedikit goresan tinta ini saya ingin berbagi inspirasi kepada saudara-saudara seiman agar kau mengerti bahwa di belahan dunia sana ada begitu banyak muslim bisa bertahan dalam kondisi yang benar-benar tak mengenakkan hanya bermodalkan keteguhan iman. Ada yang tak melihat matahari dalam hitungan bulan dan ditempatkan dalam “kamar hotel” berukuran 2 X 2 meter saja demi mengejar pengakuan bahwa teror itu mereka yang lakukan.

Kisah-kisah tentang muslim yang tegar diatas iman di dalam “hotel” kenamaan insyaAllah bulan depan diterbitkan. Sebagai pelengkap dari pengantar pada tulisan saya kali ini dan semoga bisa membuat kita semakin rajin bersyukur.

Post Navigation