Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the tag “ilmu”

Menuntut Ilmu Syari’ Menggapai Karunia Ilahi

Pada kesempatan sebelumnya alhamdulillah telah kami uraikan tentang keutamaan menuntut ilmu agama. Pada kesempatan kali ini kami ingin melanjutkan terkait keutamaan ilmu agama dibandingkan harta dan keuntungan bagi orang yang giat belajar agama. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dienul islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (tafsir Ibnu Katsir 3/428)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak takut neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya.” (Shahih Jami’ Ash Shaghir)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” (HR. Muslim)

Dari hadist diatas dan juga dari dalil-dalil llainnya berikut adalah beberapa keuntungan mempelajari ilmu agama :

  1. Bahwa ilmu dien adalah warisan para Nabi, warisan yang lebih berharga dan lebih mulia dibanding segala warisan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:  “Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambilnya (warisan ilmu), sungguh ia telah mengambil keuntungan yang banyak”. (Shahihul Jami Al Albani : 6297)
  2. Ilmu itu akan kekal sekalipun pemiliknya telah mati, tetapi harta akan berpindah dan berkurang bahkan jadi rebutan bila pemiliknya telah mati. Kita pasti mengetahui Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- seorang yang diberi julukan “gudangnya periwayat hadist”. Dari segi harta, beliau tergolong kaum kaum papa (fuqoro’), hartanya pun telah sirna, tetapi ilmunya tidak pernah sirna. Kita masih tetap membacanya. Inilah buah dari Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam:
    Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shaleh” (HR. Muslim no. 1631)
  3. Ilmu, sebanyak apapun tak menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tak perlu gudang yang luas untuk menyimpannya, cukup disimpan dalam dada dan kepalanya. Ilmu akan mejaga pemiliknya sehingga memberi rasa aman dan nyaman, berbeda dengan harta yang bila semakin banyak, semakin susah menyimpannya, menjaganya, dan pasti membuat gelisah pemiliknya.
  4. Menuntut ilmu melapangkan jalan menuju surga (jannah), tiada jalan pintas menuju surga kecuali dengan ilmu.
  5. Menuntut ilmu akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan dibumi hingga ikan yang ada di air.
  6. Ilmu merupakan pertanda kebaikan seorang hamba. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :     

Siapa yang Allah kehedaki baginya kebaikan, akan dipahamkan baginya masalah dien (agama)” (HR. Bukhari)

       7.  Mendapat naungan malaikat

Maka dari itu, sungguh merugi seorang muslim yang tidak menyibukkan dirinya dengan menuntut ilmu agama. Berbagai keutamaan telah kita ketahui tapi mengapa berat sekali hati ini, diri ini untuk bergerak menuju majelis ilmu. Marilah saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala kita pacu diri ini untuk mengambil warisan para Nabi, menggapai karunia Ilahi dengan senantiasa menuntut ilmu sampai maut menjemputmu. Wallahu a’lam.

Sumber utama tulisan ini adalah :
1. artikel ‘Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu — Muslim.Or.Id
2. artikel ‘Hakikat Ilmu — Muslim.Or.Id

Iklan

Keutamaan Menuntut Ilmu

“Seandainya dunia sebanding dengan satu sayap sayap lalat di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun bagi seorang kafir” (HR. At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)

Dalam hadist ini diketahui bahwa kedudukan dunia di sisi Allah demikian  rendah, sampai-sampai kalau kedudukan dunia itu sebanding dengan satu sayap lalat (dan ternyata satu sayap lalat pun tidak sampai) Allah tidak akan memberikan seteguk air bagi seorang kafir. Inilah peringatan bagi kita yang selalu sibuk dan mengerahkan upaya dengan begitu hebatnya untuk meraih kemegahan dunia. Gemerlap dunia yang menyilaukan banyak manusia yang jauh dari petunjuk Allah. Oleh karena itu, agar kita tidak terlena dengan kemilau dunia kita harus membekali diri dengan ilmu yang mengantarkan kita pada ketakwaan. Menjadi muslim yang beriman dan berilmu akan memperoleh derajat tinggi di sisi-Nya. Firman Allah ta’ala dalam surat Mujaadilah ayat 11 menyebutkan :

Mujaadilah 11

Derajat tinggi bagi orang yang beriman dan berilmu bukan beriman dan berpangkat, bukan beriman dan berharta. Derajat tinggi di sisi Allah artinya adalah banyak pahala yang dimiliki seorang hamba. Orang yang beriman dan berilmu akan banyak dikaruniai pahala karena amalannya selalu dilandasi oleh ilmu.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.

[HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]
Wajib baik muda maupun tua, kaya maupun miskin, anak-anak maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan, dokter, guru, pedagang, direktur, profesor, dll semua wajib menuntut ilmu agama.
Islam membagi ilmu berdasarkan hukumnya sebagai berikut :

Pertama: Ilmu Dien, yang terbagi menjadi:

1. Ilmu dien yang hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib dimiliki oleh setiap orang), yaitu: Ilmu tentang akidah berupa rukun iman yang enam, rukun Islam, dll. Lalu yang berkenaan dengan ibadah, seperti thaharah, shalat, shiyam, zakat dan ibadah-ibadah wajib lainnya.

2. Ilmu dien yang hukumnya Fardhu Kifayah (harus ada sebagian orang islam yang menguasai, bila tidak ada maka semua kaum muslimin di tempat itu berdosa), yaitu: ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fara’idh, ilmu bahasa, ushul fiqh, dll.

Kedua: Ilmu Duniawi, yaitu segala ilmu yang dengan ilmu tersebut tegaklah segala maslahat dunia dan kehidupan manusia, seperti : ilmu kedokteran, pertanian, ilmu teknik, matematika, perdagangan, militer, dan lain sebagainya. Menurut para ulama, hukum ilmu duniawi adalah fardhu kifayah.
Dengan demikian, Islam adalah agama ilmu, ilmu kemaslahatan hidup di dunia maupun akhirat. Namun seiring dengan pergeseran tujuan hidup manusia, motivasi menuntut ilmupun mulai bergeser. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia mulai condong kepada ilmu duniawi dan menomorduakan, bahkan melupakan ilmu dien (agama). Entah kekhawatiran apa yang membayangi manusia sehingga mereka lebih mementingkan ilmu dunia dari pada ilmu dien, padahal Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS. Ar Rum:7)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dienul Islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (tafsir Ibnu Katsir 3/428). Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka lalai dari berharap masuk surga dan lalai dari takut neraka. (bersambung insyaAllah)

Post Navigation