Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the tag “lalat”

Keutamaan Menuntut Ilmu

“Seandainya dunia sebanding dengan satu sayap sayap lalat di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun bagi seorang kafir” (HR. At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)

Dalam hadist ini diketahui bahwa kedudukan dunia di sisi Allah demikian  rendah, sampai-sampai kalau kedudukan dunia itu sebanding dengan satu sayap lalat (dan ternyata satu sayap lalat pun tidak sampai) Allah tidak akan memberikan seteguk air bagi seorang kafir. Inilah peringatan bagi kita yang selalu sibuk dan mengerahkan upaya dengan begitu hebatnya untuk meraih kemegahan dunia. Gemerlap dunia yang menyilaukan banyak manusia yang jauh dari petunjuk Allah. Oleh karena itu, agar kita tidak terlena dengan kemilau dunia kita harus membekali diri dengan ilmu yang mengantarkan kita pada ketakwaan. Menjadi muslim yang beriman dan berilmu akan memperoleh derajat tinggi di sisi-Nya. Firman Allah ta’ala dalam surat Mujaadilah ayat 11 menyebutkan :

Mujaadilah 11

Derajat tinggi bagi orang yang beriman dan berilmu bukan beriman dan berpangkat, bukan beriman dan berharta. Derajat tinggi di sisi Allah artinya adalah banyak pahala yang dimiliki seorang hamba. Orang yang beriman dan berilmu akan banyak dikaruniai pahala karena amalannya selalu dilandasi oleh ilmu.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.

[HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]
Wajib baik muda maupun tua, kaya maupun miskin, anak-anak maupun dewasa, laki-laki maupun perempuan, dokter, guru, pedagang, direktur, profesor, dll semua wajib menuntut ilmu agama.
Islam membagi ilmu berdasarkan hukumnya sebagai berikut :

Pertama: Ilmu Dien, yang terbagi menjadi:

1. Ilmu dien yang hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib dimiliki oleh setiap orang), yaitu: Ilmu tentang akidah berupa rukun iman yang enam, rukun Islam, dll. Lalu yang berkenaan dengan ibadah, seperti thaharah, shalat, shiyam, zakat dan ibadah-ibadah wajib lainnya.

2. Ilmu dien yang hukumnya Fardhu Kifayah (harus ada sebagian orang islam yang menguasai, bila tidak ada maka semua kaum muslimin di tempat itu berdosa), yaitu: ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fara’idh, ilmu bahasa, ushul fiqh, dll.

Kedua: Ilmu Duniawi, yaitu segala ilmu yang dengan ilmu tersebut tegaklah segala maslahat dunia dan kehidupan manusia, seperti : ilmu kedokteran, pertanian, ilmu teknik, matematika, perdagangan, militer, dan lain sebagainya. Menurut para ulama, hukum ilmu duniawi adalah fardhu kifayah.
Dengan demikian, Islam adalah agama ilmu, ilmu kemaslahatan hidup di dunia maupun akhirat. Namun seiring dengan pergeseran tujuan hidup manusia, motivasi menuntut ilmupun mulai bergeser. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia mulai condong kepada ilmu duniawi dan menomorduakan, bahkan melupakan ilmu dien (agama). Entah kekhawatiran apa yang membayangi manusia sehingga mereka lebih mementingkan ilmu dunia dari pada ilmu dien, padahal Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS. Ar Rum:7)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu dienul Islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (tafsir Ibnu Katsir 3/428). Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka lalai dari berharap masuk surga dan lalai dari takut neraka. (bersambung insyaAllah)

Post Navigation