Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the tag “menyontek”

Mengubur Budaya Menyontek (1)

Takut menghadapi ujian mungkin merupakan sesuatu yang wajar, akan tetapi jika ketakutan tersebut mengantarkan seseorang menjadi nyontek ketika ujian, itu baru tidak wajar. Suka atau tidak suka budaya menyontek telah “dipelihara dan dilestarikan” dengan congkaknya oleh para peserta didik dari berbagai tingkat lembaga pendidikan, mulai dari tingkat sekolahan sampai perkuliahan. Hal tersebut diperparah karena yang melakukannya sebagian besar adalah umat muslim yang memiliki agama yang hanif (lurus) dan sempurna petunjuknya. Islam telah mengatur segala hal terkait kehidupan manusia, bahkan untuk urusan buang hajat saja diatur dengan pengaturan yang jelas apalagi masalah menyontek yang bisa dikategorikan sebagai persaksian palsu karena kita mengingkari apa yang telah kita sepakati di lembar depan lembar jawaban kita sendiri (saya bersedia dihukum bila kedapatan menyontek atau yang semisal dengan pernyataan ini).

Apa itu nyontek?

Nyontek adalah membawa catatan khusus untuk dapat disalin ketika ujian atau meniru pekerjaan orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan (curang). Tindakan nyontek hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah imannya, yang dirinya lupa bahwa Allah ta’ala selalu mengawasinya.
.
Apakah nyontek itu dosa?
Ketika seseorang berniat untuk menyontek, tentu ia akan mencari cara bagaimana agar tidak ketahuan oleh pengawas ujian. Saat posisi dan waktu telah dirasa aman, mulailah peserta didik (siswa, mahasiswa dan yang semacamnya) melakukan aksinya yaitu “menyontek” dengan perasaan dag dig dug takut kalau-kalau aksinya ketahuan oleh pengawas. Sungguh apa yang telah dilakukan oleh peserta didik tadi sangat sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kebajikan adalah bagusnya akhlak, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu dan kamu tidak suka apabila hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR.Muslim, no 4633)

Nyontek itu sepele?
Kalaulah kita terima pendapat ini yaitu bahwa nyontek merupakan perbuatan yang sepele dan hanya merupakan dosa kecil, maka alangkah indahnya perkataan Ibnul Mu’taz

Tinggalkanlah dosa baik yang kecil ataupun yang besar, maka itulah takwa… Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah yang berduri, tentu ia akan berhati-hati dari apa yang dilihatnya… Janganlah engkau meremehkan dosa-dosa kecil, karena gunungpun adalah dari kerikil…” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal 212. Cet Darul Aqidah)

Namun, jika kita cermati lebih dalam tentang perkara nyontek ini, ternyata nyontek adalah sebuah perkara yang sangat mengerikan dan dianggap besar di dalam Islam. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang berbuat curang, maka ia bukan termasuk golongan kita (HR. Muslim, no 146)

Selanjutnya marilah kita dengar cerita yang disampaikan oleh salah seorang sahabat Nabi yang mulia, Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan
Suatu ketika kami berada di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda,

“Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar?”-beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali-. “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan bersaksi palsu atau berkata dusta.” Saat itu beliau bersandar kemudian beliau duduk. Beliau masih saja mengulang-ulang sabdanya sampai-sampai kami berkata kalau seandainya beliau diam. (HR. Muslim no. 126)

Dapat kita katakan bahwa nyontek termasuk salah satu perbuatan memberikan persaksian palsu. Bukankah orang yang nyontek sebenarnya tidak bisa menjawab soal-soal ujian? Bukankah nilai hasil ujian yang bagus sebetulnya tidak bisa diraih seandainya ia tidak nyontek? Bukankah ini berarti nilai-nilai yang ada di raport/transkip adalah nilai-nilai yang palsu? Sungguh hal yang memilukan bila ia hendak menjadikan bangga orang tua dengan raport/transkip palsunya dan sungguh ia telah memberikan kesaksian palsu kepada manusia yang membaca raport/transkip nilainya! Adakah demikian seorang muslim…

Catatan: Penomoran hadits didasarkan atas program Maktabah Syamilah

Diambil dari : http://alashree.wordpress.com/2010/04/08/berantas-budaya-contek/ dengan sedikit penyesuaian dari penyusun

Iklan

Post Navigation