Agus Setiawan

Just another WordPress.com site

Archive for the tag “Puasa Jumat”

Puasa ‘Asyura dan Tasu’a bertepatan dengan hari Jumat dan Sabtu

Bulan Muharram, bulan yang dimuliakan Allah sudah menghampiri kita. Bulan tersebut di sebagian kalangan dikenal dengan bulan Suro dan identik dengan hal-hal seram dan sial sehingga hajatan-hajatan tidak boleh dilaksanakan pada bulan ini. Padahal Islam tidak menganggap demikian. Di bulan ini adalah kesempatan untuk beramal shalih, terutama puasa, lebih utama lagi jika mendapati hari ‘Asyura (10 Muharram). Pada bulan ini dianjurkan untuk berpuasa karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita melakukan puasa pada bulan Muharram sebagaimana sabdanya, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah(Muharram). Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 67)

Keutamaan Puasa ‘Asyura
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah. Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”(HR. Muslim no. 1162).

Menambah Puasa Tasu’a (9 Muharram) untuk menyelisihi Yahudi
Disunnahkan melaksanakan puasa Tasu’a (9 Muharram) dalam rangka menyelisihi Yahudi. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.

Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)

Tanggal 9 Muharram bertepatan dengan hari Jumat

Pada tahun ini tanggal 9 Muharram bertepatan dengan hari Jumat, 23 November 2012. Terdapat larangan mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat dan siang harinya dengan berpuasa. Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat tertentu dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa kecuali jika berpapasan dengan puasa yang mesti dikerjakan ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144)

Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan dalil yang tegas dari pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah dan yang sependapat dengan mereka mengenai dimakruhkannya mengerjakan puasa secara bersendirian pada hari Jum’at. Hal ini dikecualikan jika puasa tersebut adalah puasa yang berpapasan dengan kebiasaannya (seperti berpapasan dengan puasa Daud, puasa Arofah atau puasa sunnah lainnya), ia berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya, berpapasan dengan puasa nadzarnya seperti ia bernadzar meminta kesembuhan dari penyakitnya. Maka pengecualian puasa ini tidak mengapa jika bertepatan dengan hari Jum’at dengan alasan hadits ini.”

Tanggal 10 Muharram bertepatan dengan hari Sabtu
Begitu juga tanggal 10 Muharram tahun ini bertepatan dengan hari Sabtu, 24 November 2012 dan ada sebuah hadits yang melarang berpuasa pada hari Sabtu,

Janganlah engkau berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan bagi kalian.

( HR. Abu Daud no. 2421, At Tirmidzi no. 744, Ibnu Majah no. 1726. Syaikh Al Albani men-shahih-kan hadist ini). Adapun penjelasan dari larangan berpuasa pada hari Sabtu adalah sebagai berikut :

Pertama: Puasa pada hari Sabtu dihukumi wajib seperti berpuasa pada hari Sabtu di bulan Ramadhan, mengqadha’ puasa pada hari Sabtu, membayar kafarah (tebusan), atau mengganti hadyu tamattu’ dan semacamnya. Puasa seperti ini tidaklah mengapa selama tidak meyakini adanya keistimewaan berpuasa pada hari tersebut.

Kedua: Jika berpuasa pada hari Sabtu diikuti dengan berpuasa sehari sebelum hari Sabtu, maka ini tidaklah mengapa.

Ketiga: Berpuasa pada hari Sabtu karena hari tersebut adalah hari yang disyari’atkan untuk berpuasa. Seperti berpuasa pada ayyamul bid (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), berpuasa pada hari Arafah, berpuasa ‘Asyura (10 Muharram), berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan, dan berpuasa selama sembilan hari di bulan Dzulhijah. Ini semua dibolehkan. Alasannya, karena puasa yang dilakukan bukanlah diniatkan berpuasa pada hari Sabtu. Namun puasa yang dilakukan diniatkan karena pada hari tersebut adalah hari disyari’atkan untuk berpuasa.

Keempat: Berpuasa pada hari sabtu karena berpuasa ketika itu bertepatan dengan kebiasaan puasa yang dilakukan, semacam berpapasan dengan puasa Daud –sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa-, lalu ternyata bertemu dengan hari Sabtu, maka itu tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan dan tidak terlarang berpuasa ketika itu jika memang bertepatan dengan kebiasaan berpuasanya.

Demikian penjelasan singkat mengenai puasa di bulan Muharram khususnya puasa ‘Asyura dan Tasu’a. Semoga Allah mudahkan kita untuk melaksanakannya. Wallahu a’lam

(Sumber utama : http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/4136-anjuran-puasa-muharram.html dengan penyesuaian dari penyusun)

Iklan

Post Navigation